Saya (Harus) Menyesal (Lagi)

Katanya penyesalan itu selalu datang terlambat. Ya. Jika ia datang lebih awal, maka bukan penyesalan namanya, melainkan kesadaran. Saya menyesal mengapa kesadaran itu harus kalah oleh penyesalan yang akhirnya membuat saya mengutuki sesuatu yang seharusnya saya sadari akan membuat saya menyesal.

Ya memang, pada akhirnya penyesalan hanya akan membuat kita berputar di situ-situ saja. Penyesalan tidak pernah berujung pada solusi. Diawali kalimat-kalimat seperti “coba saya begini… coba ga melakukan itu… harusnya begini… harusnya begitu…” yang biasanya ditutup dengan kalimat “ah dasar bego… kenapa bisa tolol begitu sih… “ Menyalahkan diri sendiri. Setelah itu? Kita tetap harus menghadapi apapun sebagai akibat perbuatan kita. Konskuensi.

Masalahnya adalah, kita sebagai manusia (termasuk saya), tidak pernah benar-benar siap mengambil resiko ketika kita mengambil keputusan. Padahal resiko tidak pernah terpisah dari keputusan. Mereka satu paket. Buy one get one free. Tapi kita tidak akan pernah merasa free. Selama kita tidak yakin dalam mengambi keputusan, maka selama itu pula kita akan dihantui (kemungkinan) penyesalan.

Penyesalan terbesar dalam hidup saya adalah mengatakan sesuatu yang semestinya belum (atau malah sebaiknya tidak) saya katakan. Karena tidak selamanya kejujuran itu baik. Bukan berarti harus berbohong yang akhirnya membuat kita tampak seperti seorang hipokrit, tapi ada banyak hal di dunia ini yang sebaiknya disimpan sendiri. Tidak perlu diungkapkan, bahkan pada orang yang menurut kita tepat untuk mendengarnya.

Dunia ini spekulasi. Dan kita seringkali terjebak di dalamnya. Seperti saya, terlanjur berspekulasi pada sesuatu yang tidak ada alat ukurnya. Dan saya bertaruh seutuhnya untuk spekulasi itu. Dan saya bangkrut. Saya dirampok habis oleh rasa sesal yang seperti rentenir: tiap hari menagih dengan bunga yang semakin membengkak. Dan saya tidak punya apapun untuk membayarnya.

Tapi tidak ada yang saya lakukan. Tidak ada yang bisa saya lakukan. Saya hanya diam dan mengutuki diri sendiri setiap hari. Setiap menit. Setiap ada kesempatan untuk melakukannya. Ya, saya jadi kecanduan melakukannya. Aneh.

Lalu saya mulai menciptakan solusi dari dalam kepala saya sendiri. Mungkin dibantu para kera yang (masih) ada di sana. Berhasil. Penyesalan itu lambat laun mulai ragu untuk beraksi. Mungkin dia malu karena mulai mengganggu. Dia hanya duduk manis di dalam hati.

Tapi ini kan keputusan. Seperti saya katakan sebelumnya, setiap mengambil keputusan, kita selalu diberi bonus bernama “resiko”. Biaasanya bonusnya tiba lebih cepat sebelum keputusan benar-benar jalan menuju tempat seharusnya. Dan hari ini bonus itu sudah sampai di rumah saya,  masuk ke kepala, turun ke hati. Di sana, dia bertegur sapa dengan penyesalan. Saya (harus) menyesal (lagi).

 

***

110312

Ini saya yang bicara. Direcoki puluhan Kera di kepala.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s