Drama Babak ke 2

Baru lima bulan, saya sudah dua kali membuat drama. Kau menangis dan ditonton oleh banyak orang; ya, itu sangat drama. Menangis adalah hal yang sangat manusiawi, semua manusia pasti pernah menangis. Tapi tidak untuk dipertontonkan di hadapan orang banyak (lebih dari 2 orang itu termasuk kategori banyak). Selain memalukan, tidak semua orang peduli dengan masalahmu. Mungkin pada saat itu mereka akan memberikan rasa empati, tapi setelah itu? They’re back to their own life, and their own problem.

Saya tidak pernah ingin membuat drama dalam hidup saya kecuali saya benar-benar sedang berada dalam sebuah pementasan. Tapi saya melakukannya. Dua kali. Dan itu sungguh memalukan. Drama yang pertama, saya tidak menyangka, benar-benar tidak menyangka akan membuat drama di hadapan 16 orang. Itu terjadi begitu saja tanpa bisa saya kendalikan. Air mata saya mengalir tak terelakkan. Mungkin karena bendungan yang saya bangun selama hampir lima bulan ini tidak cukup kuat untuk menahannya. Drama yang kedua, saya sangat sadar bahwa saya pasti melakukannya. Maka saya berusaha melawannya, melawan dorongan air mata. Tapi saya kalah. Telak. Terjadilah drama itu di hadapan lima orang (lebih sedikit, tapi tetap memalukan).

Saya mencoba menganalisa mengapa saya menjadi begitu mudah menangis. Sensitif. Oke, saya memang mudah menangis. Tapi biasanya saya hanya menangis kepada orang yang memang sudah dekat. Dan saya mendapatkan beberapa kesimpulan yang mungkin menjadi faktor terbesar terjadinya drama itu.

Pertama, aktivitas yang monoton. Bertahun-tahun saya membebaskan diri saya untuk melakukan banyak hal yang dinamis. Berbeda-beda setiap hari. Melakukan sesuatu yang sesuai dengan mood pada saat itu. Kalaupun harus mengerjakan sesuatu yang tidak menyenangkan, saya akan membiarkan diri saya mendapatkan moodnya terlebih dahulu. Tapi sekarang, seringkali saya merasa jenuh tapi tidak bisa kemana-mana atau melakukan hal-hal yang bisa mengembalikan mood. Saya terjebak dalam rutinitas yang bernama “office hour“. Setiap hari pergi dan pulang kantor dengan cara yang sama dan jalur yang sama, menghadapi meja yang sama, orang-orang yang sama. Saya tidak membenci mereka, saya juga tidak membenci pekerjaan saya. Saya sangat suka pekerjaan ini. Saya hanya bosan. Jenuh. Apalagi sekarang jarak tempat kost dan kantor hanya terhalang dua rumah.

Kedua, tidak ada teman jalan-jalan. Menyedihkan. Aktivitas sosial saya sangat jauh berbeda antara kehidupan di Bogor dengan di Bandung. Di Bogor, saya punya banyak sahabat yang setia setiap saat menjemput saya dan mengantarkan saya ke mana pun jika saya sedang  jenuh, bahkan sekedar menemani saya makan eskrim. Di Bandung, saya tidak bisa menemukan teman-teman seperti itu (atau saya memang tidak mau mencarinya). Memang, ketika saya datang ke Bandung lima bulan yang lalu, saya berjanji tidak akan banyak berteman dengan laki-laki.

Ketiga, kurang menyeimbangkan diri. Selama lima bulan ini saya merasa kurang seimbang. Teman-teman saya bilang, saya terlalu “normal”. Setiap hari berkutat dengan pekerjaan seperti kebanyakan orang (yang kita sebut “robot). Tidak ada latihan teater, tidak membaca puisi, tidak pula berdiskusi tentang banyak hal; budaya, sosial, filsafat. Dan ternyata saya masih membutuhkan itu. Saya perlu mengekspresikan diri, perlu meluapkan semua kegelisahan, perlu melatih kepekaan saya. Saya belum menemukan tempat yang tepat di sini. Dan itu memang tidak mudah. Perlu merasa cocok dan nyaman untuk benar-benar bergabung ke dalam satu komunitas seperti itu. Oh, saya sangat merindukan kawan-kawan Kata.Otak.Kita.

Keempat, jauh dari keluarga. Memang, ini pilihan saya untuk pindah ke Bandung dan meninggalkan keluarga saya di Bogor. Saya, dengan banyak pertimbangan, sepenuhnya yakin untuk mengambil jalan ini. Tapi seringkali saya merindukan keluarga, merindukan suasana rumah. Hidup sendirian di kamar kost berukuran 3×3 meter itu tidak benar-benar seperti hidup. Hampa. Bayangkan, setiap hari ke kantor, duduk manis menghadapi meja yang sama, pulang malam dan diam di kamar menghadapi laptop. Oh Tuhan, bahkan saya merindukan sinetron yang sering ditonton ibu saya.

Hal-hal itulah yang akhirnya membuat saya begitu lemah dan mudah menangis (yang saya sebut drama) di hadapan orang-orang. Mungkin karena saya (ingin) menganggap mereka sebagai keluarga, sehingga saya percaya bahwa saya boleh menangis di hadapan mereka. Dan syukurlah, mereka menanggapi drama saya seperti keluarga. Sehingga saya bisa sedikit lebih tenang dan lega. Tapi drama itu tidak akan pernah terjadi lagi. Ini janji.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s