Ini Aksiku! Mana Aksimu?

Ini Aksiku! Mana Aksimu?

Kalimat di atas merupakan tagline kampanye Earth Hour tahun ini. Kampanye lingkungan yang mengajak orang ntuk mematikan lampu selama 1 jam ini merupakan kampanye tahunan yang diadakan secara serentak di berbagai negara pada minggu terakhir bulan Maret setiap tahunnya. Lebih dalam lagi, kampanye ini mengajak orang banyak untuk mulai menjadikan ‘hemat energi’ sebagai gaya hidup. Di Indonesia sendiri ada 26 kota, termasuk Bandung, yang berpartisipasi dalam rangkaian kampanye ini.

Bandung, diinisiasi oleh Jaringan Komunikasi Bandung Bijak Energi (JKBBE), selama satu bulan penuh melakukan rangkaian kegiatan kampanye yang mengajak warga Bandung untuk mulai membiasakan perilaku bijak dalam penggunaan energi. Diawali dengan mengajak berbagai komunitas yang ada di Bandung untuk berkolaborasi, aksi-aksi street campaign pun dilakukan setiap minggu saat Car Free Day. Aksi ini bertujuan menyapa masyarakat secara langsung dan memberikan edukasi terkait Earth Hour maupun isi energi secara umum. Keseluruhan kampanye ini dibuat semenarik mungkin untuk “mencari perhatian” masyarakat. Harapannya, setelah masyarakat melek dan tahu, lalu mulai mau melakukan perbahan gaya hidup.

Street campaign bersama adik2 SD Kopo Permai. (Foto: Ardhy)

Tapi jangan membayangkan kami sebagai aktivis garis keras yang berorasi tentang betapa penggunaan energi semakin tidak terkendali, atau tentang pemerintah yang membiarkan pemborosan-pemborosan energi terus terjadi. Tidak, kami tidak begitu.

Kami, puluhan anak muda yang ceria, beramai-ramai turun ke jalan menyebarkan keceriaan dan kegembiraan bahwa banyak hal sederhana yang bisa kita lakukan untuk membuat bumi tetap nyaman untuk dihuni. Hal-hal kecil yang bisa dijadikan gaya hidup tanpa membuat kita terbebani atau terpaksa, hal-hal yang secara sukarela bisa dilakukan untuk membuat perubahan besar. Kami pun dengan sukarela berpikir, bekerja, beraksi, melakukan yang terbaik untuk membawa kebaikan.

Relawan Earth Hour saat Kampanye publik di Car Free Day (Foto: Kang Deny)

Kegiatan puncak Earth Hour diadakan pada hari Sabtu 31 Maret. Acara yang dibagi dua sesi, pagi di Balai Kota Bandung dan sore di Gedung Sate, ini melibatkan hampir 150 orang relawan yang berasal dari berbagai komunitas. Pada pagi hari kami mengajak beberapa komunitas untuk yoga bersama di Balai Kota Bandung dan sore sampai malam harinya diisi beberapa hiburan dari komunitas, seperti parkour, BULB (Barudak Urban Light Bandung, Rumah Musik Hari Roesli, tak ketinggalan adik-adik dari SD Kopo Permai yang membuat persembahan musikalisasi puisi. Simbolis pemadaman lampu tepat jam 20.30 dilakukan oleh sekretaris propinsi Jabar karena Gubernur Jabar hanya bisa mengikuti acara pada sore hari saja.

Gedung Sate pada saat pemadaman #EarthHour. (Foto: Komunitas BULB)

Harus diakui, rangkaian kegiatan selama satu bulan ini menghabiskan energi yang cukup besar, mulai dari persiapan hingga pelaksanaan. Belum lagi acara puncak yang bertepatan dengan momen rencana kenaikan harga BBM cukup membuat panik dan menguras energi ekstra karena kami harus memikirkan berbagai kemungkinan terpahit dan mencari solusi terbaik. Rasanya tidak mungkin membatalkan acara yang telah dipersiapkan selama satu bulan penuh mengingat banyaknya pikiran, materi, dan tenaga yang telah dicurahkan seluruh relawan.

Kami pantang menyerah.  Terlepas dari banyaknya kritikan dari berbagai pihak, kami optimis (cenderung ngotot :p) dapat membuat sebuah kegiatan yang bermanfaat. Tapi kami sadar, acara yang kami buat terdapat banyak kekurangan dan jauh dari hasil yang kami tuju. Kami menerima semua kritik sebagai bahan evaluasi agar kami dapat membuat sesuatu yang jauh lebih baik. Kami harus mengakui bahwa tidak mudah untuk menciptakan kesempurnaan pada hasil kerja kami, bahwa kami tidak bisa mewujudkan kondisi ideal pada setiap aspek dalam kegiatan kami. Kami belajar, percayalah.

Kami juga berusaha. Pada akhirnya kami hanya bisa berharap apa yang kami lakukan dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat maupun lingkungan. Kami berharap kegiatan ini dihargai sebagai jerih payah kami untuk berbuat sesuatu bagi lingkungan kami, dengan cara dan energi yang kami miliki.  Kami hanya ingin menjadikan kegiatan ini sebagai sebuah aksi nyata kami untuk bumi. Ya. Kami tidak hanya ingin sekedar berbicara. Kami ingin berproses dan memaknai dengan sebaik-baiknya. Semoga.

Lalu kami dengan lantang berkata:

INI AKSIKU! MANA AKSIMU?

"Ini Aksiku Mana Aksimu" Lukisan adik-adik SD Kopo Permai. (Foto: Ardhy)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s