Berjuang. Bukan Bersaing.

Saya tidak suka bersaing. Terutama jika peluang saya untuk menang sangat kecil. Saya tidak suka bersaing jika ada orang lain yang sudah dapat dipastikan akan menang, entah karena memang patut menang atau dia curang. Yang jelas, persaingan semacam itu hanya membuang waktu.

Saya tidak suka bersaing jika saya ada di posisi start dan orang lain sudah ada jauh di depan. Itu tidak fair. Jika begitu, lebih baik saya mundur dan mencari arena lain yang pesertanya sama2 berada di posisi start dan siap bermain dengan jujur. Saya tidak suka bersaing. Tepatnya, saya tidak suka mendapati diri saya kalah. Di dunia ini banyak sekali persaingan yang bisa kita ikuti. Mungkin semua orang akan mengatakan saya lemah, tidak mau berjuang, cari aman. Mungkin. Tapi buat apa berkorban banyak hal padahal kita sudah tahu akan dikhianati. Keberuntungan, katanya. Kita bisa beruntung di banyak kesempatan yang lain, kawan.

Misalnya saja ujian masuk PTN (Perguruan Tinggi Negeri). Betapa banyak orang di seluruh Indonesia berlomba-lomba, terobsesi, untuk bisa masuk dan terdaftar sebagai mahasiswa di PTN. Saya tidak. Saya tidak mengikuti tes bersama ribuan orang tersebut, bahkan saya tidak mengambil kesempatan untuk masuk ke PTN tanpa tes. Itu lebih karena saya tidak suka berlomba-lomba atau bersaing untuk sesuatu yang diinginkan oleh banyak orang, seolah-olah hanya hal itu yang bisa menentukan masa depan kita. Padahal di luar sana, banyak hal bisa kita lakukan dan kita bisa sukses tanpa menempuh jalan yang sama dengan kebanyakan orang.

Contoh lain lagi, ujian untuk menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil). Sangat mengherankan begitu banyak orang polos yang berharap keberuntungan dapat lulus tes, sementara banyak orang lain yang berbuat curang untuk mendapatkannya; pelicin, koneksi, joki. Saya berjuang mati-matian, kalah, dan membiarkan orang lain tersenyum puas atas kecurangan mereka? No way. Saya tidak ingin tersiksa dalam keadaan seperti itu. Meskipun saya pernah melakukannya, satu kali. Dan saya benci melakukannya. Kalau bukan karena ingin menuruti kemauan orang tua, saya tidak akan membuang waktu untuk melakukannya. Hasilnya? Sudah bisa dipastikan, saya kalah.

Sama juga dalam soal percintaan. Saya tidak suka bersaing untuk yang satu ini. Saya tidak pernah terlibat persaingan dengan banyak orang untuk memperebutkan satu hati. Tidak. Saya akan mempersilakan orang lain untuk maju dan berkompetisi. Saya tidak akan berjuang untuk sesuatu yang kemungkinannya kecil untuk saya dapatkan. Sekali lagi, saya tidak suka mendapati diri saya tersiksa karena kalah. Lebih baik dari awal saya menghindarinya. Saya akan memberi dan meminta perhatian dari hati yang memang sudah menempatkan saya sebagai satu-satunya yang berhak ada di sana. Atau setidaknya, dia belum menempatkan siapapun di sana. Fair.

Dan saat ini saya merasa dicurangi. Bukan oleh lawan main, tapi oleh pemilik arena. Awalnya seolah-olah saya sendiri yang sedang berada di arena itu. Kalaupun ada orang lain, setidaknya sama-sama berada di garis start. Ternyata tidak. Seseorang sudah lebih dulu melintasi arena ini. Dia hampir sampai. Pantas saja saya tidak melihatnya. Yang paling saya sesalkan adalah tidak ada yang memberi tahu saya, bahkan pemilik arena. Saya merasa seperti dijadikan peserta hiburan. Tontonan menarik sebelum pertandingan dinyatakan selesai karena peserta yang lain sudah sampai di garis finish.

Saya sudah tiba di pertengahan lintasan ketika menyadarinya, ketika semua penonton bersorak kemenangan. Bukan untuk saya, tentunya. Lalu, saya harus bagaimana? Keluar arena begitu saja? Karena mau menuntut pun pada siapa? Pada pemilik arena yang sedang sibuk mengurus si pemenang? Atau pada penonton yang sedang berbisik bahkan tertawa atas kebodohan saya?

Ini sangat jelas. Saya mendapati diri saya kalah telak, dicurangi atau tidak. Tidak ada yang saya dapatkan dari perjuangan melaju di setengah lintasan ini. Saya harus pulang dengan tangan hampa. Ya, saya harus menerimanya. Toh, tidak ada gunanya melanjutkan perjuangan ini. Sia-sia.

Dan ini semakin menguatkan saya untuk lebih selektif dalam memilih arena. Apapun itu. Dan saya akan sebisa mungkin menghindari persaingan. Saya akan berjuang. Bukan bersaing.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s