(Jangan) Bicara Angka

Saya tidak tahu sejak kapan manusia mulai mengenal angka. Tapi sejak saat itu, sadar atau tidak, hidup kita mulai dibatasi angka-angka. Kita terjebak. Pada batasan yang kita buat sendiri. Kita berhitung. Bahkan untuk banyak hal yang tidak seharusnya. Kita memaksakan. Menamai semua aspek dengan bilangan. Seperti hidup tak sempurna tanpa anngka-angka di belakangnya.

Sebut saja untuk masuk ke sekolah. Ada angka-angka yang harus kita penuhi, mulai dari angka dalam ijazah, rapor, hingga angka yang terlampir dalam amplop pendaftaran. Angka-angka tersebut menunjang kita untuk bisa duduk manis di sebuah sekolah, mendengarkan Bapak dan Ibu Guru mengajarkan banyak hal. Kita butuh angka untuk menjadi pintar.

Katanya, angka memudahkan kita untuk melihat, merunut, menghitung banyak hal. Tapi kita tidak perlu menghitung semuanya, kan? Kenapa kita harus berhitung? Yang pasti bukan karena 12 tahun belajar matematika. Matematika adalah produk konspirasi angka-angka yang ingin diperhatikan secara eksklusif. Angka-angka itu tidak puas menghantui berbagai elemen hidup kita. Bahkan angka memiliki otoritas untuk melekatkan dirinya secara berbeda pada laki-laki dan perempuan.

Saya sedang membenci angka dan perhitungan apapun. Lalu saya pun membenci kenyataan bahwa keputusan apapun tak pernah lepas dari angka. Apapun. Catat itu. Bahkan untuk memilih dengan siapa saya akan berbagi suka, saya harus memperhitungkan angka. Aturannya, saya tidak boleh memiliki kelebihan angka dari perhitungan tersebut. Kata siapa? Kata mereka. Kata saya. Kata kita, pecinta angka-angka.

Kenapa saya begitu membenci angka? Karena ada angka 5 yang mengganjal pada perhitungan dalam hidup saya. Bayangkan, LIMA. Angka yang cukup besar untuk dihabiskan sendirian. Ini pelanggaran. Tak boleh dibiarkan. Lalu apa yang harus saya lakukan?

Saya benci angka-angka. Seandainya tidak ada yang mengenal angka 27, tidak ada yang perlu repot melakukan pengurangan dengan angka berapapun di luar sana. Tidak ada yang perlu panik menanggung kelebihan angka dari pengurangan tersebut. Atau seandainya tidak ada yang mengenal angka 22, mungkin tidak ada yang perlu pusing memikirkan aturan yang entah dibuat oleh siapa. Mungkin tidak akan ada aturan. Atau memang sebetulnya tidak pernah ada aturan untuk angka-angka itu? Toh banyak orang yang mulai meninggalkan hitung-hitungan kuno, matematika dasar, penamaan bilangan. Banyak orang lebih memilih meleburkan angka-angka, mengurainya menjadi kata-kata. Indah, tidak kaku.

Ya, angka selalu begitu kaku. Mungkin karena mereka terikat hubungan suci sampai mati bernama ilmu pasti. Padahal manusia adalah makhluk paling lentur, paling mudah menyesuaikan diri. Adaptasi. Tapi kenapa justru manusia mengunci dirinya dalam kamar penuh angka? Sehingga setiap gerakan adalah bilangan, setiap kata adalah angka. Sampai suatu saat kita tidak dapat lagi bergerak karena angka-angka semakin tak terhingga.

Ah, angka. Bisakah kalian melupakannya? Karena saya tidak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s