Dari dalam Jurang

Wow, minggu ini diingatkan tentang waktu. Ternyata saya tidak pernah menyadari bahwa waktu telah meninggalkan saya jauh di belakangnya. Waktu terus berjalan, bahkan berlari. Tapi saya tidak pernah beranjak dari tempat itu. Tempat yang tidak pernah saya tahu bagaimana cara untuk keluar dari sana. Mungkin saya tahu. Tapi tidak mau. Entahlah. Saya merasa seperti berada di sebuah jurang yang (padahal) mungkin dengan sengaja saya lompat ke dalamnya. Terjun bebas.

Entah kapan tepatnya, mungkin empat tahun lalu, mungkin lebih. Saya menjalani hidup seperti kebanyakan orang menjalaninya. Normal. Lalu saya diperkenalkan pada banyak hal. Pada banyak keindahan juga ketakutan. Tidak perlu khawatir, seseorang mengingatkan. Jalani saja. Saya menurut saja, meski saya melihat banyak jurang yang menganga di sepanjang jalan yang saya lewati.

Lalu ada yang memanggil dari dalam sana. Dari sebuah jurang yang sangat dalam. Saya tidak bisa melihat ada apa di bawah sana. Tapi saya mengenal suara itu. Suara yang selalu saya rindukan, suara kedamaian. Saya pikir begitu, tadinya. Turun saja, kata suara di sana. Baru kau tahu. Hmmm, ajakan yang menarik. Tapi tunggu dulu! Saya butuh waktu. Sebaiknya saya pikir-pikir dulu sebelum ke situ.

Tapi saya tidak pernah meninggalkan tepi jurang itu dalam waktu yang lama. Saya berdiri di sana, melongok ke bawah. Berharap dapat melihat apa yang ada di dasarnya, sambil sesekali berbicara pada suara dari dalam sana. Turun saja, selalu begitu katanya. Tapi jurang itu terlalu curam. Terlalu sulit menebak isinya. Tidak mudah mencari jalan untuk dapat tiba di sana dengan selamat. Lengah sedikit, saya bisa terjatuh. Setidaknya saya perlu bekal.

Ternyata bekal saya tidak pernah cukup. Terlalu banyak rasa takut yang menempel pada kulit saya, pada hati dan kepala. Saya ciut. Meski tak henti bertanya pada banyak orang. Ya, saya penasaran. Tapi suara di kepala saya juga tak pernah berhenti bicara. Mereka menerka, menduga, berburuk sangka. Suara-suara itu menjerumuskan saya pada jurang lain yang tak bernama.

Tanpa saya sadar, hari-hari yang saya lewati setelah itu adalah mencari jalan menuju ke sana. Ke sebuah jurang yang sangat menggoda. Saya ingin ada di sana. Bertemu si suara. Bertemu apa saja di dalamnya. Rasanya bekal ini sudah cukup. Dan saya semakin dekat ke sana. Tiba di sana, saya kecewa. Tidak ada apapun di sana. Kosong. Bahkan tidak ada suara-suara. Saya sudah berada jauh di bawah, dan tidak menemukan apa-apa. Lalu sebuah suara memanggil dari atas sana, bertanya sekenanya “sedang apa di bawah sana?”

Sia-sia rasanya. Bertahun-tahun saya hanya berjalan untuk menuju ke sana, dan ditinggalkan dengan kekosongan  justru saat saya sudah tiba. Terlalu lama, kata suara itu lagi. Kau terlalu banyak menduga. Membuang waktu. Hanya untuk menunggu diskusi panjang di dalam kepalamu. Suara itu berlalu. Meninggalkan saya bersama suara-suara yang lain. Suara dari dalam kepala. Seperti suara kera.

Tapi saya si manusia kerdil tak bernyali. Hanya melihat raksasa di sekelilingnya. Lalu menyalahkan mereka atas atas semua kemalangan. Si gadis malang. Terjebak bersama si kera di kepalanya. Begitu katanya.

Pantas kalau sekarang saya tidak mengenal hitungan waktu. Di dalam sini, semua terasa sama. Tak pernah saya lihat perbedaan. Mana siang, mana malam. Rupanya saya terjebak dalam sebuah dimensi dimana di sini waktu membeku. Dan entah siapa yang melempar api, tapi kebekuan itu mulai mencair. Seolah mengejar ketinggalannya, waktu dalam hidup saya mulai berlari. Angka-angka di kepala saya mulai berganti. Dan saya sadar. Ini sudah lebih dari empat tahun saya berdiam diri di sini. Di sebuah jurang yang tak lagi berpenghuni.

Harus saya akui. Mungkin saya menunggunya kembali, suara yang pernah ada di sini. Suara yang dulu memanggil saya, lalu pergi. Ya, saya si gadis lugu nan dungu. Menanti sesuatu yang bahkan saya tidak tahu pasti. Saya harus pergi.

Saya harus naik lagi. Saya lihat ke atas sana, ke mulut jurang yang masih menganga. Mencari bantuan. Ramai sekali ternyata di sana. Saya tidak pernah sadar betapa banyak orang yang menunggu saya kembali. Siaga memberi bantuan. Bahkan sekedar memastikan saya akan kembali dengan aman. Saya terharu.

Sedikit demi sedikit saya berjalan. Mencoba keluar dari dalam jurang. Ada yang menawarkan tali. Tidak perlu. Belum. Saya turun ke sini sendiri, saya pun akan keluar dengan usaha sendiri. kalian tetap saja di sana. Menanti saya dan berdoa “semoga saya tetap melangkah”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s