Perempuan dan Busana Minimalis

Pernah melihat seorang perempuan berpakaian minimalis seperti ini? Apa yang anda rasakan atau pikirkan? Para lelaki mungkin akan merasa senang-senang saja bahkan diuntungkan melihat pemandangan seperti ini. Mungkin. Bagaimana dengan perempuan? Apakah ada perasaan risih ketika melihat sesama perempuan berpakaian sangat minim? Atau malah santai-santai saja cenderung tidak peduli? Atau justru laki-laki yang merasa risih? Ah, saya rasa yang terakhir itu tidak mungkin. :p

Hari ini saya melihat seorang perempuan menggunakan celana super pendek khas anak muda jaman sekarang. Sebetulnya bukan sekali ini saja saya melihat perempuan-perempuan memamerkan kakinya yang mulus dan jenjang (atau tidak mulus dan tidak jenjang). Hidup di kota besar seperti Bandung ini melatih mata saya melihat manusia-manusia trendi dengan pakaian model terbaru yang hampir selalu membuat saya takjub. Ya, takjub. Saya selalu salut pada mereka yang bisa berpakaian “aneh” tapi tetap nyaman.

Bagi saya, pakaian adalah penutup badan yang dengannya kita akan nyaman melakukan aktivitas apa pun. Saya menyematkan predikat “pakaian nyaman” itu bertahun-tahun pada duet celana jeans dan kaos gombrang, walaupun saat ini pakaian yang mengisi lemari saya lebih bervariasi. Tuntutan usia, mungkin. Tuntutan berbagai hal di luar diri saya juga. Penyesuaian, katanya. Tapi saya tetap lebih suka dan nyaman dengan celana jeans dan kaos gombrang.

Kembali lagi dengan trend pakaian yang akhir-akhir ini semakin “aneh”. Setidaknya bagi saya. Perempuan-perempuan saat ini, entah kenapa, suka sekali memperlihatkan keindahan fisiknya. Celana super pendek, kaos super ketat. Pakaian yang membuat orang lain dengan leluasa dapat menikmati belahan dada dan belahan-belahan lainnya, sengaja maupun tidak. Dua jenis pakaian ini cukup banyak ditemui di mana saja. Angkot, Mall, kampus, trotoar jalan, festival musik, warung remang-remang. Di mana saja.

Mungkin gejala-gejala pakaian seksi seperti ini sudah ada sejak dulu kala. Toh, pakaian tradisional kita pun beberapa menimbulkan kesan seksi si pemakainya. Hanya saja lebih elegan, lebih membudaya. Berbeda dengan banyak jenis pakaian sekarang yang menimbulkan kesan erotis dan murahan.

Harus saya akui, wanita memiliki kecenderungan untuk selalu terlihat cantik dan seksi. Tujuannya hanya satu: mendapatkan perhatian, baik dari lawan jenis maupun sesama perempuan. Nah, hasrat tersebut sekarang ini semakin difasilitasi oleh para penguasa dunia fashion yang tentu saja dengan mudah dapat kita tiru. Lalu atas nama kebebasan, tidak ada yang dapat melarang siapa mengenakan apa. Tidak norma, tidak juga agama.

Terkadang saya kagum pada orang-orang yang bisa membebaskan dirinya dari apa pun, lepas dari berbagai ikatan yang (menurut mereka) seringkali membatasi dan menghambat gerak-gerik. Padahal, menurut saya, ketika mereka melepaskan ikatan-ikatan yang nyata dan tegas itu, mereka justru sedang mengikatkan diri mereka pada ikatan lain yang tak terlihat. Ikatan yang secara tidak sadar akan membelenggu mereka hingga tidak lagi memiliki apa yang mereka sebut kebebasan.

Ketika kita tidak ingin terikat pada norma yang berlaku di masyarakat, secara tidak sadar kita justru sedang membunuh kebebasan diri kita. Sesuatu bernama “pengakuan” sedang menjelma dengan nama “ekspresi”. Ya, kebebasan berekspresi (dalam hal ini ekspresi berpakaian) yang kita lakukan tidak lain hanyalah demi sebuah pengakuan: pengakuan “keren”, “fashionable”, “gaul”, dan berbagai pengakuan lain.

Tapi tidak ada salahnya memang. Seperti yang saya katakan tadi, atas nama kebebasan, tidak ada yang dapat melarang siapa mengenakan apa. Tidak norma, tidak juga agama. Apalagi saya. Semua orang berhak melakukan apa saja atas dirinya dan hidupnya. Tapi tentu langkah apapun dalam hidup ini selalu ada harga yang harus dibayarkan. Berpakaian minim boleh saja, tapi juga perlu ingat bahwa tidak semua orang dapat berpikiran positif dan tidak semua orang berhasil mengendalikan diri mereka. Jika semua orang adalah ikan, maka umpan apapun yang diberikan, pasti dimakan. Maka jangan memancing.

Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa pakaian-pakaian yang saya bicarakan sejak tadi itu identik dengan hal-hal yang negatif dan menimbulkan reaksi yang negatif juga. Tidak selalu. Pakaian rapi dan tertutup pun tidak jarang menjadi sasaran perlakuan yang tidak senonoh. Hanya saja peluangnya tidak terlalu besar.

Tulisan ini tidak tertuju pada seseorang, meskipun terinspirasi darinya. Saya menulis ini sebagai sesuatu yang umum meskipun melalui penalaran yang subyektif. Saya juga tidak bermaksud menjadi maupun mencitrakan diri saya sebagai seorang yang suci, apalagi menganggap diri saya sudah berjalan dalam koridor yang benar. Tidak. Saya juga hanya manusia biasa yang seringkali lalai dan melakukan kesalahan.

Saya juga manusia yang perlu diingatkan. Silakan.

Advertisements

One thought on “Perempuan dan Busana Minimalis

  1. Setuju sekali dengan pendapat anda tentang budaya berpakaian waniat indonesia sudah di jajah oleh. Kebudayaan barat. Bila kita di suruh memilih 2 permen. yang satu tertutup rapih dalam kemasan dan yang ke 2 terbuka kemasannya. Mana yang akan kita pilih?
    Dalam pemikiran kami kaum laki2 muslim yang sangat menghargai wanita. Jadi kami lebih menghormati wanita yang bisa menutupi auratnya dan menjaga tingkah lakunya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s