Renungan Ramadhan

Dua hari yang lalu saya jalan-jalan dengan bos saya mengunjungi beberapa tempat di ibu kota. Jalan-jalan ini sangat berkualitas dan bermakna buat saya. Dalam perjalanan kemarin kami berdiskusi tentang banyak hal yang benang merahnya adalah perihal ukuran kesejahteraan seseorang. Obrolan semakin menarik sepulang dari tempat pertama yang kami kunjungi: Kandank Jurank Doank. Di sana kami berbincang dengan Dik Doank (lebih tepatnya diceramahi :p). Kebetulan bos saya kenal dengan Dik Doank, sehingga kami berkesempatan untuk berbincang secara personal dengannya, walaupun harus menunggu 2 jam.

Betapa malunya saya dalam perbincangan itu, malu pada diri sendiri, malu pada Sang Khalik. Dik Doank memberikan kami petuah tentang keikhlasan, tentang ridho Allah, tentang banyak hal yang berhasil membuat saya meneteskan air mata. Sungguh saya malu. Dan sedih. Betapa saya bukanlah apa-apa dan tidak pernah berbuat apa-apa, tapi selalu menginginkan banyak hal. Betapa saya angkuh dan sombong, hanya memikirkan diri sendiri. Betapa saya hina dengan menginginkan pujian. Astagfirullah.

“Kalau mau miskin; pikirkan perutmu, kalau kau mau hidup sederhana; pikirkan keluargamu, kalau kau mau kaya; pikirkan orang-orang di sekelilingmu.” – Dik Doank

Satu hal yang paling saya ingat adalah bagaimana kita harus mencintai apa yang kita kerjakan. Maka dengan cinta itu sudah seharusnya kita ikhlas. Dan ikhlas itu tidak pernah terkatakan, begitu katanya. Saya merasa ditampar oleh perkataan beliau “baru ngurusi sampah saja sudah hitung-hitungan”, teringat obrolan tentang ukuran kesejahteraan bersama pak bos.

“Penderitaan itu singgasana dimana Allah bertahta. Nikahilah penderitaanmu dengan benih ikhlas, maka akan mengandung dan begitu lahir adalah kebahagiaan.” – Dik Doank

Beliau mengatakan bahwa jika akhirnya saya mengurusi sampah itu (seharusnya) adalah keputusan saya yang diiringi Bismillah, yang artinya saya menjalani itu bersama Allah. Dik Doank menyebutnya “jalan sunyi”, jalan yang kita pilih untuk menjadi berguna dan lebih dekat dengan Sang Pencipta, bukan jalan ramai yang penuh hingar bingar, pujian, pencitraan.

“Esensi hidup adalah cinta. Cinta itu siap dibebani tanpa membebani, cinta itu mengasihi dan menyayangi, cinta itu akan melahirkan rasa yang tidak mengenal lelah.” – Dik Doank

Obrolan singkat tapi padat itu diakhiri dengan doa bersama yang melelehkan air mata saya seperti lilin yang apinya menyala. Saya sukses menangis. Perjalanan pulang  dari Kandank Jurank menuju tempat kunjungan berikutnya saya habiskan dengan merenung sampai tertidur. Tempat selanjutnya membuat saya geleng-geleng kepala: Plaza Indonesia.

Tiba di Plaza Indonesia, saya merasa seperti gembel yang masuk istana. Tak hentinya saya terheran-heran dengan kehidupan para manusia yang sedang beredar di sana, tangan-tangannya menjinjing tas-tas belanja yang isinya sepertinya bernilai jutaan rupiah. Lalu melihat mereka berkumpul di tempat makan yang harga satu porsinya bisa untuk makan satu minggu anak kost seperti saya. Di luar Plaza Indonesia, saya melihat sebuah mobil Ferrari terparkir manis di sana. Saya berkata kepada bos saya “kenapa kesenjangan bisa begitu nyata di Indonesia?”

Saya miris sekali melihat pemandangan di Plaza Indonesia, mengingat betapa banyak masyarakat Indonesia yang tidak bisa sekolah bahkan tidak bisa makan. Jangankan untuk membeli mobil, makan sehari-hari saja mereka harus mengais dari sampah. Saya lalu berpikir “apakah orang-orang yang  uangnya tidak pernah habis ini pernah melihat kemiskinan di Indonesia?”.

Mengapa ada miskin dan kaya di dunia ini?

Setelah (hanya) melihat kemewahan di Plaza Indonesia, saya diajak bos saya mencicipi kemewahan berbuka puasa di Hotel Mandarin. Beliau mendapat undangan dari mitranya di Jakarta. Saya takjub melihat makanan yang berlimpah di sana, mulai dari Asian Food hingga West Food. Lalu saya terbayang anak-anak yang badannya tinggal tulang karena gizi buruk, anak-anak yang harus berjualan hingga malam demi membantu orang tuanya agar bisa menyantap hidangan yang layak.

Saya mengambil sup, sushi, dan kentang dengan rolade ayam. Perut saya kekenyangan bukan main, padahal saya hanya mengambil sedikit dari masing-masing jenis makanan tersebut. Itulah puasa. Saat berbuka, kita tidak pernah bisa menyantap makanan dalam jumlah banyak karena perut kita beradaptasi dengan kondisi kosong selama berjam-jam. Selain bermanfaat untuk kesehatan, puasa juga mengajarkan kita untuk tidak serakah dan selalu ingat penderitaan orang lain yang hidupnya tidak seberuntung kita. Tapi mungkin jauh lebih bahagia dari kita.

Perjalanan sehari itu benar-benar menjadi bahan perenungan bagi saya. Semoga saya tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang selalu mengejar duniawi dan tidak bersyukur. Semoga dengan kemampuan saya yang terbatas ini saya dapat berbuat banyak untuk orang-orang dan lingkungan.

“Masuk sorga itu bukan semata-mata karena kita berbuat baik, tapi karena Allah ridho.” – Dik Doank

Semoga setiap jalan yang kita pilih, segala hal yang kita lakukan, mendapat ridho Allah. Amin.

 

 

*terima kasih kepada pak bos yang menajak saya jalan-jalan dan belajar banyak 🙂

Advertisements

3 thoughts on “Renungan Ramadhan

  1. blog baru lagi ndri?
    pas acara ultah Burung Indonesia kemarin, Dik Doank n Kandank Jurank maen, gw malah tertarik sama konsep lagu2 mereka. kalo u ada no dik doank, mintain lagu2nya donk hehehehe

    1. blog lama banget brok, tapi udah lama juga gak diapdet, baru akhir2 ini aja ditengok lagi… :p

      Gw ga punya nomornya euy, bos gw yang punya…

  2. “Seorang hamba Allah masuk surga karena Ridho-Nya”

    Setuju sekali! kalo hanya ngejar pahala, apa bisa menyaingi pahala Abu Bakar yang beratnya lebih daripada pahala seluruh manusia di bumi?

    Maka Ridho Allah jadi jalan.. 🙂
    #semoga kita termasuk orang yang di-Ridho-i

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s