Oleh-oleh dari Blog Lama

Saya baru saja mengintip lagi blog lama saya yang entah kapan terakhir kali berkunjung ke sana. Tulisan terakhir yang ada di sana adalah cerita tentang kunjungan ke sebuah museum yang ada di Bogor, sekitar November 2010. Setelah itu, kosong. Tidak ada apapun yang saya tulis.

Saya membaca lagi tulisan-tulisan yang ada di sana. Ya ampun, saya baru menyadari ternyata saya sangat konyol pada saat itu. Tulisan-tulisan saya selalu diselingi dengan kekonyolan pikiran saya, sekalipun tema yang ditulis adalah sesuatu yang serius. Sepertinya saat itu saya merasa ada yang kurang kalau tidak menyelipkan komentar-komentar yang (seharusnya) lucu. Pada saat itu saya rasa itu lucu. Sekarang saya malah merasa geli pada diri sendiri, bisa-bisanya saya menuliskan hal-hal tersebut.

Tapi di luar hal-hal konyol dan tidak penting itu, saya menyadari satu hal: ternyata saya selalu punya ide untuk menulis. Ada saja tema yang saya bahas, mulai dari hal yang sederhana seperti handphone rusak hingga masalah krisis budaya. Hal apapun bisa saya bahas. Bisa. Walaupun pembahasannya sangat ngawur.

Ini menarik. Pada saat itu saya bisa asik sendiri dengan pikiran saya dan menuangkannya dalam sebuah tulisan, tulisan yang bisa membuat saya tertawa sendiri saat membacanya empat tahun kemudian. Ini menarik karena saya bisa melihat dan memperhatikan banyak hal di luar diri saya untuk saya pikirkan dan saya olah sedemikian rupa sehingga bisa dibaca oleh semua orang (yang mau membacanya, tentunya).

Lalu saya mengingat-ingat; kemanakah saya setelah tulisan yang terakhir itu? Jawabannya adalah saya terlalu terpusat pada diri saya sendiri: apa yang saya rasakan. Ya, saya terlalu fokus mengeksplorasi hati. Sekalipun saya menuliskan pengalaman, pasti yang dituliskan adalah bagaimana perasaan saya terhadap pengalaman itu. Seingat saya, Sayangnya, saya cukup sulit mendapatkan mood untuk menuliskan perasaan-perasaan bahagia sehingga tulisan yang keluar setelah itu adalah puisi-puisi kesedihan, kegalauan, ratapan. Lalu, mengutip perkataan teman saya, ada pola yang sama dari puisi-puisi yang saya tulis. Entahlah, mungkin benar.

Ya, setelah itu saya memang lebih banyak menulis puisi. Entah puisi betulan atau bukan, saya juga tidak tahu. Tapi katanya, sebuah karya, saat dilempar ke khalayak, maka khalayak yang menamainya. Jadi saya bebaskan saja semua orang mau menyebutkannya apa, yang jelas saya suka menuliskannya.

Tapi dengan mengunjungi blog lama, saya menjadi tertantang untuk mulai menuliskan lagi banyak hal. Apapun. Mengeksplorasi pikiran saya, bukan perasaan saya. Saya mau mencoba lagi memperhatikan banyak hal, lalu menuliskannya. Sederhana maupun rumit. Serius maupun ngawur. Pokoknya menulis. Saya jadi terpikir untuk menantang diri saya sendiri untuk menulis setiap hari, seperti tantangan foto Ramadhan in My Eyes (jadi teringat kalau hari ini saya bolong lagi motretnya).

Semoga dengan menantang diri sendiri bisa membuat saya lebih rajin menulis dan melatih diri saya untuk lebih terstruktur dalam menyampaikan gagasan. Ya, gagasan. Bukan curhatan. 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s