Maling Teriak Maling

Tadi pagi melihat sebuah judul berita “Puncak Mengancam Jakarta”. Deskripsi berita tersebut menggambarkan bahwa perubahan pemanfaatan lahan di kawasan Puncak, Bogor, dapat mengakibatkan bencana bagi Jakarta. Tentu saja sebagai daerah dataran tinggi, Bogor, seharusnya dapat menjadi daerah resapan air. Kenyataannya, pembangunan-pembangunan yang semakin pesat di daerah perbukitan (bahkan gunung) mengurangi kemampuan daerah tersebut untuk menahan air. Hasilnya: Jakarta, daerah dataran rendah yang 90% lahannya ditanami beton, kebanjiran.

Saya tidak akan membicarakan tentang peraturan-peraturan tentang tata ruang di daerah resapan air yang bertahun-tahun hanya menjadi tulisan dalam dokumen pemerintahan. Saya tidak akan membicarakan bagaimana bangunan-bangunan tanpa IMB dapat beranak-pinak di kawasan merah. Saya juga tidak akan membicarakan rencana pemerintah untuk membongkar villa-villa di kawasan Puncak yang bertahun-tahun hanya jadi isapan jempol.

Saya hanya ingin membicarakan sesuatu yang menggelitik pikiran saya dari berita yang saya ceritakan di awal. Jakarta, dimana arus uang bermuara di sana, meributkan alih fungsi lahan yang terjadi di Puncak. Mari kita lihat. Puncak, sebuah kawasan di kaki Gunung Gede Pangrango, dalam beberapa tahun terakhir mengalami pembangunan yang sangat pesat. Apa saja yang dibangun di sana? Villa, Hotel, Factory Outlet, Tempat Wisata. Milik siapa? Milik pejabat-pejabat yang tinggal di Jakarta supaya mereka bisa menikmati liburan di tempat istirahat dengan nuansa dan udara pegunungan yang sejuk. Jauh dari hingar bingar dan kemacetan Jakarta. See? Siapa yang membuat bencana sebenarnya?

Ini sungguh ironis. Maling teriak maling. Sepertinya kita memang senang sekali mempermasalahkan sesuatu, bertindak seolah-olah kita adalah seorang superhero, padahal kita adalah penjahatnya. Lihat saja siapa yang teriak-teriak tentang kemacetan? Mereka adalah para pengendara kendaraan pribadi yang kalau bisa mungkin juga ingin punya jalan raya pribadi. Mereka mengeluhkan banyaknya kendaraan bermotor di jalan raya bukan karena khawatir dengan banyaknya emisi yang mengotori udara atau resah akan gas rumah kaca yang semakin kuat menahan terik matahari. Bukan. Mereka mengeluhkan kemacetan karena perjalanan mereka terganggu. So simple. So selfish.

Lihat juga mereka yang mengampanyekan penggunaan kendaraan umum. Wajahnya yang berbinar-binar menceritakan betapa menyenangkannya naik kendaraan umum seperti menceritakan pengalaman berlibur. Siapa mereka? Mereka adalah yang enam hari dalam seminggu menempuh perjalanan di dalam mobil yang AC-nya tidak kenal panas matahari. Mereka adalah yang mengejar waktu perjalanan dengan motor-motor kreditan tanpa uang muka.

Coba tanyakan pengalaman naik angkutan umum pada ibu-ibu yang setiap hari harus berjejalan dalam bus kota bersama para laki-laki yang tidak mau mengalah untuk memberikan tempat duduk. Coba tanyakan pada perempuan-perempuan setengah baya yang harus naik kereta setiap hari dengan resiko menjadi korban pelecehan laki-laki tidak bertanggung jawab. Coba tanyakan kepada mereka bagaimana rasanya naik angkutan umum yang sopirnya ugal-ugalan dan emosional. Coba tanyakan pada mereka yang sering  menjadi korban para copet atau perokok. Saya jamin mereka tidak akan merekomendasikan untuk naik kendaraan umum.

Coba tengok kawan-kawan kita yang memperjuangkan produk-produk lokal. Coba perhatikan pakaian, alat komunikasi serta kendaraan mereka. Coba lihat dimana mereka saat waktu-waktu luang mereka, duduk manis di teras rumah sambil menikmati singkong rebus kah? Atau sedang berdiskusi serius di cafe-cafe yang sebagian besar menunya berbahan import?

Ah, saya jadi geram sendiri. Banyak hal lain yang serupa di sekeliling kita, bahkan yang kita sendiri lakukan dengan atau tanpa sadar. Mungkin kita harus banyak introspeksi diri apa yang sudah kita lakukan, apa yang belum kita lakukan, apa yang bisa kita lakukan tapi tidak lakukan. Mari kita banyak berkaca bukan pada cermin yang retak. Sehingga kita bisa melihat diri kita secara utuh. Sehingga kita bukanlah maling yang teriak maling. Bukan orang yang selalu teriak, kalau bisa.

Ini bukan kritik ilmiah yang berdasarkan hasil riset. Ini hanya pandangan dari seorang yang ilmunya cetek tapi selalu ingin komentar. :p

Advertisements

4 thoughts on “Maling Teriak Maling

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s