Bagaimana ini, Tuhan?

Terlalu biasa. Terlalu umum. Hidup tak lagi seru. Segala perjuangan, segala penantian seperti petualang yang tersesat dalam perjalanan mencari rumahnya sendiri. Semakin jauh berjalan, semakin besar keraguan. Dan satu-satunya petunjuk semakin jauh tertinggal. Aku lelah bertanya-tanya sendiri.

Bagaimana jika Tuhan benar-benar sudah mati seperti kata Nietzsche? Atau bagaimana jika Tuhan ternyata tidak ada? Dan bumi ini memang terbuat dari kumpulan kejadian yang bisa diuraikan oleh ilmu pengetahuan? Bagaimana kalau kita ini memang turunan kera yang berevolusi?

Seluruh pertanyaan itu menjadi penting sekaligus tidak penting. Terkadang sejarah memang cukup menjadi sejarah. Tertulis maupun tidak. Disepakati atau disangkal, biarkan saja sejarah menjadi realitas subyektif setiap individu. Tidak perlu dijadikan kesepakatan yang dibukukan. Karena tidak cukup waktu untuk memahami begitu bodohnya kah Adam sehingga memilih melakukan berbuat sesuatu yang bisa menyingkirkannya dari tempat sempurna hanya karena godaan dari dirinya sendiri. Penasaran kah?

Kita terlalu sering menyeret tubuh kita hanya untuk menjawab sebuah rasa penasaran. Daya pikir, cinta. Semua berpangkal dari satu hal yang sama; rasa penasaran. Lalu penasaran itu membunuh kera-kera berabad-abad. Membunuh Tuhan. Karena monyet dan Tuhan tidak pernah saling membunuh. Rasa penasaran yang membunuh mereka.

Lalu kita dihadapkan kekhawatiran yang dalam atas kematian Tuhan. Bertanya-tanya kemana lagi rasa percaya yang terlanjur berceceran itu harus digantungkan. Sementara tiang-tiang penyangga dengan sadar kita robohkan dengan gada ilmu pengetahuan. Gada itu pula yang merusak sistem keseimbangan semesta. Memutuskan kisah cinta paling romantis antara manusia dan alam, manusia dan manusia. Kita.

Anehnya, semua seperti tak berjarak. Siang dan malam tak berjarak. Langit dan bumi tak berjarak. Langit dipijak, bumi dijunjung. Kita berjalan di atas kepala. Kita juga tak berjarak. Tak jelas seberapa dekat atau seberapa jauh. Keberadaan yang mengisi ketiadaan, ketiadaan yang membayangi keberadaan. Tak bisa dibedakan. Karena tak juga rampung segala definisi tentang itu. Tergantung pada proses pencarian itu sendiri; mencari ada atau mencari tiada? Dan waktu. Pernahkah kita benar-benar berkawan?

Tapi kawan dan lawan juga tak berjarak. Keduanya seringkali saling menggantikan, bertukar topeng sesuai kebutuhan. Tergantung siapa yang dihadapi atau siapa yang memesan. Ini bukan lagi tentang benar atau salah. Ini tentang hati dan perut yang bertetangga. Benar atau salah hanya menjadi hidangan pembuka untuk selanjutnya melongok perut yang sepi pengunjung. Hati biarkan saja, kan sudah dilatih untuk tidak makan. Mungkin ia juga sudah lupa rasanya makan.

Bagaimana ini, Tuhan? 

Advertisements

2 thoughts on “Bagaimana ini, Tuhan?

    1. Teruskan keresahannya? Tersiksa masbroooo, seringkali kepikiran mending jadi orang “normal” aja, tapi jadi orang normal juga tersiksa ternyata… 😐

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s