Pengkhayal vs Tuan Masuk Akal

Ingin sekali mem-posting ini sejak seminggu yang lalu…

“Pagi dan Langit yang Tinggi”

Purnama berganti wajah, ditinggalkannya langit yang masih menunggu entah apa. Di kejauhan, pagi merunduk malu-malu. Tak kuasa dipandangnya langit yang begitu megah. Langit selalu membuat pagi merona.

Diam-diam pagi mencuri pandang, ketika langit baru terbangun dari tidurnya. Lalu disapanya ragu-ragu, sekedar bertanya kabar atau berbagi cerita.Terkadang langit menyambut pagi dengan hangat, terkadang acuh seolah pagi tak terlalu berarti. Tak apa. Pagi tak pernah memaksa. Tapi ia akan selalu datang lagi menyapa langit yang tinggi.

Pagi memang setia. Ia selalu menyapa langit yang sama. Langit yang mungkin tak mengingat namanya. Tak apa. Pagi tetap bahagia meski hanya sekedar melihat langit dari kejauhan.

Seringkali pagi cemburu pada senja yang lembut membelai langit. Pada malam yang menemani langit dan bintang. Bahkan pada burung-burung yang menyapa sambil lalu.

Pagi sadar dirinya tak selembut senja maupun seindah malam. Ia hanya pagi yang biasa. Dan dari tempatnya, langit begitu tinggi. Pagi bermimpi suatu hari nanti ia akan bersamanya, bersama langit yang tinggi. Berbagi cerita, berbagi cahaya. Meski sederhana.

Sebetulnya bukan tulisan ini yang membuat saya tidak sabar memuatnya di blog ini, tapi justru tanggapan dari seseorang yang menggelitik saya untuk membahasnya.

Jadi begini. Waktu saya mengirimkan tulisan di atas pada seseorang, kalimat pertama yang dia katakan (tuliskan lebih tepatnya) adalah “ini pasti ditulis dengan serius”. Lalu kalimat-kalimat berikutnya membuat saya heran, geli, aneh, dan ingin protes. Tulisan yang saya buat dengan mencurahkan seluruh perasaan saya ini dibahasnya dengan penalaran logis bahkan cenderung ilmiah. Dia mempertanyakan tentang langit yang lalu dijawabnya sendiri bahwa langit hanyalah ruang hampa di luar bumi dan bahwa birunya adalah pantulan warna bumi. Ia juga menjelaskan beberapa fakta lain termasuk tentang bintang yang menurutnya bukanlah sesuatu yang istimewa melainkan hanya benda yang berada di tempat yang jauh dan sepi (saya lupa lengkapnya karena percakapannya terhapus).

Tanpa dosa, ia menerjemahkan puisi saya dengan definisi dari buku IPA. Saya jadi bingung. Jadi gamang sendiri dengan apa yang saya tulis. Jangan-jangan memang saya yang salah beranalogi sehingga analogi saya tidak dapat dipahami oleh orang lain. Ini buruk. Tapi menurut saya, menghubungkan puisi dengan fakta ilmiah adalah sesuatu yang aneh. Puisi kebanyakan tersusun dari majas-majas, perumpamaan-perumpamaan, pengandaian-pengandaian, meskipun ada juga puisi-puisi yang lugas. Tapi puisi (kalau bisa disebut demikian) saya di atas sudah jelas merupakan analogi, bukan karangan ilmiah. Dan menghubungkan puisi yang penuh analogi dengan fakta ilmiah bagi saya seperti mencoba menghubungkan teori Charles Darwin dengan cerita Nabi Adam. Beda sudut pandang. Beda arah.

Percakapan mengenai puisi saya (dan beberapa percakapan lain) membawa saya pada sebuah kesimpulan bahwa ia adalah Si Tuan Masuk Akal, sesorang yang sangat rasional dan logis; memandang sesuatu dari pemahaman yang paling masuk akal. Sementara, saya pengkhayal sejati yang gemar berandai-andai dan bermain analogi. Tapi perbedaan itu justru menyenangkan karena dapat menciptakan percakapan-percakapan yang unik. 😀

 

 

*Tulisan ini saya buat karena saya sangat merindukannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s