Senangnya Bersepeda (Lagi)

Pagi ini saya bersepeda mulai dari kantor di Jl. Tikukur melewati Jl. Dipati Ukur menuju kawasan Car Free Day Dago. Perjalanan yang lumayan bagi seseorang yang sudah lupa rasanya bersepeda dan tidak pernah olah raga. Keringat mulai ikut berolah raga dengan berlarian dari kepala, leher, hingga punggung. Basah kuyup. Dan kesalahan pertama adalah TIDAK MEMBAWA MINUM. Saya resmi kehausan.

Ini dia SELI alias SEpeda LIpat yang menemani jalan-jalan pagi ini πŸ™‚

Saya tidak tahu apa tujuan sebenarnya dari pemberlakuan Car Free Day, apakah untuk mengurangi polusi dari kendaraan bermotor yang banyak melaju di sana pada hari-hari dan jam-jam biasa, atau untuk memfasilitasi warga Bandung berolah raga, atau biar keren saja punya Car Free Day. Karena kenyataannya area Car Free Day lebih mirip pasar kaget dan arena bermain gratis. Dan salah besar jika anda berniat olah raga di kawasan tersebut. Selama melewati sepanjang Jalan Dago tersebut, saya hampir tidak merasa mengayuh sepeda karena setiap beberapa meter terpaksa berhenti. Jalan terhalang oleh orang-orang yang berjalan sangat lambat karena ingin membeli jajanan atau melihat berbagai macam pertunjukan bahkan kampanye. Jadi saya putuskan mengikuti mereka untuk menonton juga dan menghalangi orang lain juga. πŸ˜€

Gimana lewatnya?

Tapi memang Car Free Day ini memang arena bermain yang seru. Kita bisa melihat berbagai pertunjukan gratis, mulai dari band, tari, teater, musik tradisional, sampai melihat orang teriak-teriak mengkampanyekan sesuatu. Tadi saya sempat melihat para mahasiswa yang mengajak warga Bandung untuk sama-sama mengawasi dana BOS di sekolah-sekolah. Tapi saya tidak bertanya bagaimana caranya kita bisa melakukan itu, apakah cukup dengan beramai-ramai menandatangani spanduk (yang entah nanti akan dikemanakan) atau apa? Tapi semangat para mahasiswa ini patut diacungi jempol dan wajib didoakan semoga konsisten dan tujuan baiknya tercapai.

Seribu Dukungan Jaga Si BOS!

Kawasan Car Free Day bukan hanya milik orang dewasa. Banyak juga orang tua yang membawa anaknya untuk bermain di sana. Ini jelas peluang besar bagi para pedagang mainan. Berbagai macam mainan anak-anak dijual di kawasan ini, mulai dari balon gas, balon sabun, dan banyak lagi mainan lainnya. Ada juga yang menyediakan jasa permainan yang biasa disebut “odong-odong”.

Odong-odong

Banyaknya orang yang datang ke kawasan Car Free Day dan banyaknya orang yang berjualan di sana, saya jadi terpikir adakah yang menghitung jumlah sampah yang dihasilkan di kawasan tersebut selama kurang lebih 4 jam pemberlakuan Car Free Day. Ada? Berapa? Saya terpikir demikian karena di sepanjang jalan melihat para penjual jajanan yang hampir semuanya berkemasan plastik, termasuk air mineral. Untunglah pagi ini saya berhasil menahan diri untuk tidak berkontribusi dalam penambahan jumlah sampah itu. Meskipun haus, saya menahan diri untuk tidak membeli AMDK (Air Minum Dalam Kemasan) sambil berdoa semoga tidak dehidrasi. Begitu tiba di kantor, langsung membayarnya dengan menenggak dua gelas air. :p

Air Minum Bukan Dalam Kemasan… :p

Kegiatan bersepeda sendirian kurang lebih 1 jam ini cukup membuat saya merasa bahagia dan sehat (dan lapar :p). Walaupun sebenarnya saya tidak tahu apakah dampak positifnya lebih besar dari negatifnya mengingat selama bersepeda tetap saja saya banyak menghirup polusi dari asap kendaraan yang tidak kalah banyak di jalan lain yang saya lewati saat menuju dan sepulang dari kawasan Car Free Day. Belum lagi para perokok yang dengan santai menyebarkan asapnya ke udara yang saya (dan orang lain) hirup. Seharusnya Car Free Day juga Smoke Free Day. Belum lagi di perjalanan menuju kantor, saya dihadang asap dari pembakaran sampah.

Dago sih Car Free Day, jalan lain?
Banyak Asap di Sana… 😐

Ampun, Tuhan. Bagaimana mau sehat kalau begini ceritanya?

Tapi bagaimanapun juga, bersepeda hari ini benar-benar membuat saya bahagia karena ini adalah sesuatu yang sudah bertahun-tahun tidak pernah saya lakukan. Ya, saya takjub sendiri karena (akhirnya) bersepeda lagi cukup jauh dan melewati jalan-jalan raya. Sendirian. Saya sampai berkali-kali bilang “keren” pada diri saya sendiri sambil senyum-senyum bahagia. πŸ™‚

Tentu saja saya sangat bahagia, meskipun mungkin bagi banyak orang kegiatan bersepeda bukan sesuatu yang istimewa. Tapi bagi saya ini sangat membahagiakan. Semenjak kejadian “disenggol” angkot saat bersepeda beberapa tahun yang lalu, saya jadi tidak berani bersepeda lagi ke jalan raya, lalu berhenti bersepeda sama sekali. Tanpa diduga dan rencanakan sebelumnya, hari ini saya berhasil menaklukan ketakutan itu. Kenapa saya bilang tanpa diduga? Karena sampai terbangun tadi pagi saya tidak terpikir sama sekali akan melakukannya. Tapi saya melakukannya. Dan itu keren. πŸ˜€

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s