Tidak Boleh Jujur di Negri Ini!

Kasus-kasus korupsi di negri ini memang benar-benar bikin muak. Apalagi orang-orang yang terlibat adalah orang-orang yang punya kuasa dan bisa mengotak-atik kasus ini sehingga mereka tetap aman dari jeratan hukum. Ini sungguh menjijikan. Saya muak dengan semua kasus korupsi yang terjadi di negri ini dan kenyataan bahwa orang jujur pasti kalah. Di negri tercinta ini, kita tidak boleh jadi orang jujur. Berani jujur? Pasti disingkirkan!

Saya bisa bicara seperti itu karena keluarga saya mengalaminya. Ayah saya terancam dipensiunkan sebelum waktunya, abang saya tidak digaji berbulan-bulan. Karena apa? Karena para pejabat korup yang takut dibongkar kecurangannya. Cuih!

Sejauh yang saya tahu, Ayah termasuk orang yang tegas dan berani melawan ketidakberesan. Dimana pun. Ayah tidak akan pernah takut sekalipun nyawa taruhannya. Terkadang kami, keluarganya, yang merasa takut dengan keberaniannya. Diam-diam kami berharap Ayah menjadi orang yang biasa-biasa saja, tidak terlalu banyak melawan. Tapi bukan ayah namanya jika diam saja melihat kecurangan.

Dalam kepemimpinannya, saya sering melihat ayah menegur dengan keras anak buahnya yang tidak bekerja dengan baik, bermalas-malasan, korup. Saya melihatnya karena anak buahnya sering datang ke rumah dan meminta belas kasihan. Ayah tidak segan memindahtugaskan anak buahnya yang sudah berkali-kali diberi peringatan tapi tetap ngeyel.

Ayah juga berkali-kali mendatangi para atasannya dan dengan lantang menentang kecurangan mereka. Orang-orang yang kerjanya hanya duduk-duduk itu punya gaji yang jauh lebih besar dari Ayah, tapi mereka masih mengambil hak rakyat kecil. Uang bantuan untuk petani-petani kecil mereka sunat dengan alasan pajak dan lain-lain yang padahal masuk kantong mereka sendiri. Sungguh terlalu!

Wajar kalau Ayah marah. Saya pun yang mendengarnya sangat marah. Ayah yang setiap hari ke lapangan, bertemu para petani, tentu tahu kondisi para petani itu. Mereka seringkali menjadi korban kecurangan para birokrat. Bukannya mendapat bantuan, seringkali malah mereka terpaksa terjerat hutang gara-gara permainan orang-orang sinting itu.

Iya, saya marah! Sangat marah! Saya muak terhadap kelakuan orang-orang yang tidak punya nurani itu. Dan Ayah berusaha melawan itu. Hasilnya? Saat ini Ayah terancam pensiun dini. Orang-orang di atas sana merasa terganggu dengan kejujuran Ayah dan takut kecurangan mereka akan diusut KPK, akhirnya mereka menggunakan kekuasaannya untuk “menyingkirkan” Ayah. Sinting!

Lain lagi cerita Abang. Di instansi yang berbeda, Abang yang masih seorang honorer sudah berbulan-bulan tidak mendapatkan gajinya, bahkan ia tidak mendapatkan haknya pada saat hari raya kemarin. Uang gajinya masuk ke kantong-kantong para petinggi di sana yang gajinya lima kali lipat dari gaji Abang. KETERLALUAN!

Bayangkan, untuk seorang yang memiliki keluarga, berbulan-bulan tidak digaji adalah kiamat. Mengapa orang-orang bisa setega itu menghentikan rezeki orang lain? Sedihnya, dengan kenyataan itu, abang tetap datang ke kantor dan bekerja seperti biasa. Oh, Tuhan. Rasanya saya ingin mendatangi kantor itu dan memaki-maki pejabat di sana.

Sejak kecil, Abang memang orang yang sabar dan plegmatis. Ia selalu manut dan jarang sekali melawan. Tidak seperti saya yang tukang protes dan tukang cari ribut. Tapi kalau masalah ini saya rasa memang perlu ribut, tidak bisa didiamkan. Minimal lebih baik pergi dari tempat itu, toh rezeki itu selalu ada. Sempat terpikir untuk menampar Abang dan bilang “jangan diam saja!”.

Tapi begitulah Abang. Ia akan diam, berpikir positif, dan bersabar menunggu “keajaiban”. Saya yang jadi senewen sendiri dengan masalah ini. Sedih, marah, kecewa, muak dengan seluruh sistem yang ada di negri ini dan orang-orang yang ada di dalamnya.

Dua kejadian yang hampir bersamaan ini membuat kepala saya hampir meledak. Saya benar-benar muak. Kemarahan saya dilengkapi oleh berita semalam tentang Polri yang menggrebek KPK untuk menjemput paksa penyidik KPK. Lagi-lagi “permainan” orang besar yang menggunakan kuasa untuk menyingkirkan orang-orang yang berani memperlihatkan kebenaran.

Sungguh kacau negara ini. Di negri ini, hal-hal yang tidak benar dilindungi. Di negri ini, orang yang punya uang pasti menang, meskipun uangnya hasil korupsi. Tidak boleh jujur di negri ini!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s