Aku ingin merindukanmu

*sebuah fiksi

Aku ingin merindukanmu dalam perjalanan pulang dari kotamu sore itu, sore yang murung diiringi hujan yang berkejaran dengan samar-samar suaramu. Meski hujan, kotamu selalu mengingatkanku pada suatu sore yang biru. Kotamu selalu membuatku ingin mengubur kenangan lalu menggalinya lagi berkali-kali.

Kau sedang apa, sayang?
Aku ingin merindukanmu dan sore yang dihiasi tawamu. Aku ingin merindukan berjalan menyusuri trotoar sambil mendengarkan lagu-lagu kesukaanku yang kau bilang keren. Aku masih suka lagu-lagu itu meski sekarang hanya kudengarkan sambil duduk menghadap komputer yang selalu memperlihatkan pekerjaan. Tidak ada jalan-jalan. Rutinitasku kini sudah lain. Kau selalu bilang kalau aku gila kerja. Kau juga selalu bilang kalau aku gila sungguhan dan menularkannya padamu. Padahal kau yang sudah membuatku gila.

Aku ingin merindukan kedatangamu ke kantorku dengan bungkusan makanan dan kopi instan. Meja kerjaku sekarang seringnya ditemani segelas kopi pahit yang kubuat sendiri. Tidak ada sentuhanmu di sana, hanya abu rokok yang berjatuhan diantara tombol-tombol keyboard komputer.

Aku ingin merindukan duduk mengamatimu yang khusyu berbincang dengan Tuhan, lalu menitipkan namaku di sela-sela doa panjang.

Ah, apa yang kau minta, sayang?
Kau punya segalanya. Kau punya kedamaian yang tak pernah bisa kutemukan. Kau pasti akan tersenyum dan menjawab “kedamaian itu bukan dicari, tapi diciptakan”. Aku menemukan kedamaian yang kau ciptakan.

Aku ingin merindukan setiap kali melihatmu membereskan mukena hijau, warna kesukaanmu. Di sudut matamu, kulihat air mata yang menggenang, kerinduan yang coba tak kau perlihatkan. Kerinduanmu yang dalam untuk aku temani menghadap Tuhan. Kalau sudah begitu, hatiku luluh. Tapi kita sama-sama tahu tentang yang satu itu. Seperti katamu, kebutuhan kita berbeda, cara kita berbeda.

Aku ingin merindukan kedamaian itu, juga ketulusan dalam setiap gerak kasihmu. Aku ingin merindukan wajahmu yang lugu mempertanyakan sesuatu atau ketika berpikir keras ingin menjawab pertanyaan-pertanyaanku yang menurutmu selalu susah.

Hei, aku ingin merindukan saat-saat mencuri waktu di pertengahan malam hanya sekedar bertanya  banyak hal kepadamu. Setengah kantuk kau akan tetap menjawab semuanya, meski tak nyambung. Kau hanya ingin menjawab, tak ingin membuatku menunggu hingga esok hari untuk mendengar jawaban-jawabanmu yang seringkali lucu.

Aku ingin merindukanmu andai saja tak kau buat aku menunggumu menjawab tanyaku di awal suatu pagi. Andai saja kau perlihatkan keyakinanmu seperti biasanya. Andai saja kau sambut perahuku yang berlabuh pagi itu. Aku mengerti keraguanmu saat itu. Keyakinanmu terkikis waktu yang kuciptakan dalam penantianmu karena pencarianku. Aku sudah selesai dalam pencarianku, dan kau selesai dalam penantianmu.

Aku ingin merindukan kesungguhanmu dalam mengarungi sungai yang panjang itu, sungai yang kuperlihatkan padamu suatu hari dan dengan yakin kau setuju untuk berenang menuju sebuah muara dan laut lepas.

Aku ingin merindukanmu andai kita masih menuju ke muara yang sama.

Aku ingin merindukanmu andai kau tak pernah ragu.

Aku ingin merindukanmu yang merindukanku.

Advertisements

One thought on “Aku ingin merindukanmu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s