When Simple-Stupid-Thing become Serious-Confused-Thing

Pernahkah anda tersesat dalam pikiran dan perasaan anda sendiri? Saya sedang mengalaminya. Sangat absurd.

Begini. Anda dihadapkan pada dua jalan yang berbeda, lalu entah kenapa anda merasa sangat harus memilih salah satu jalan tersebut. Padahal tidak ada yang mengharuskan. Anda bisa saja putar arah dan meninggalkan kedua pilihan tersebut. Kedua jalan tersebut bukanlah hal yang diberikan kepada anda untuk anda pilih. Jalan itu ada di tempatnya, dan secara kebetulan anda berjalan mendekat kepadanya. Lalu anda mulai menimbang-nimbang seberapa perlu anda berjalan di salah satu jalan tersebut atau haruskah anda meninggalkan keduanya.

Anehnya, saya tidak terpikir untuk meninggalkannya. Saya hanya fokus mempertimbangkan jalan mana yang sebaiknya saya pilih diantara kedua jalan itu. Faktanya adalah kedua jalan tersebut memiliki portal yang tertutup dengan petugas yang penuh curiga. Saya jadi penasaran untuk memasuki kedua jalan itu. Tapi sebaiknya saya punya alasan dan tujuan yang kuat untuk memasuki salah satu diantaranya.

Pada suatu hari salah satu jalan tersebut portalnya terbuka. Saya merasa mungkin saya boleh memasukinya meskipun sebetulnya yang saya inginkan adalah berjalan di jalan yang lain. Jalan satu lagi yang cukup kuat menarik perhatian saya. Tapi saya merasa akan lebih sulit memasuki dan berjalan di sana. Jadi saya putuskan untuk membiarkan diri saya masuk ke tempat saya sudah dipersilakan. Saya meyakinkan diri dan mulai masuk.

Di pertengahan jalan, tiba-tiba saya merasa saya berjalan di jalan yang salah. Entah apa sebabnya, saya hanya merasa begitu. Saya menyadari ternyata saya tidak memiliki alasan atau tujuan yang kuat di sana. Lalu saya panik. Saya ingin keluar dari jalan itu. Tapi saya tidak mungkin kembali ke titik awal, malu pada apa yang sudah saya lewati selama perjalanan yang (meskipun) belum jauh itu. Saya tidak mungkin kembali. Tapi jalan ini juga masih jauh. Saya tidak melihat petunjuk apapun untuk dapat keluar dengan tenang dari jalan ini.

Tapi saya ingin keluar. Saya harus keluar. Saya merasa tidak nyaman berada di jalan itu. Dengan segala kemampuan saya mencari jalan pintas yang bisa menghubungkan dengan jalan yang lain, jalan yang sempat ingin saya pilih. Sepertinya saya mulai menemukan dan bisa pindah begitu saja. Sedikit-sedikit tapi yakin.

Ternyata tidak semudah itu. Pilihan ini justru mendatangkan ketidaktenangan bagi saya. Ketika saya memilih keluar dari jalan pertama dan hampir memasuki jalan kedua, saya justru melihat banyak hal dari jalan yang pertama. Dari kejauhan, saya juga bisa melihat banyak orang yang sedang berkompetisi menuju ujung jalan itu. Tidak seramai itu, tapi cukup ramai. Saya heran mengapa banyak yang tertarik untuk berjalan di sana? Mungkin karena hampir tidak ada petunjuk apapun di jalanan itu sehingga orang lebih tertantang untuk menaklukannya. Mungkin saya punya alasan yang sama. Atau justru karena orang-orang mendapat banyak petunjuk di sana. Mungkin hanya saya yang tidak melihatnya, saya tidak peka atau memang tidak ada petunjuk. Entah.

Melihat hal itu saya jadi tidak ingin keluar dari sana. Saya tidak rela ada yang bisa berhasil di sana sedangkan saya menyerah bahkan ketika belum setengah perjalanan. Saya ingin ambil bagian dalam petualangan yang menantang itu, sekedar membuktikan seberapa besar saya bisa berjuang di sana dan melihat siapa yang akhirnya tiba di ujung jalan. Saya penasaran. Dan seperti saya selalu bilang, rasa penasaran itu bisa mengalahkan apapun. Meskipun saya harus berdarah-darah dan kalah. Apalagi kenyataannya saya sudah tertinggal jauh.

Tapi saya masih belum benar-benar yakin bahwa saya ingin berjalan (apalagi berjuang) di sana. Dan jalan lain yang hampir terbuka pun sama menariknya, pintunya mulai terbuka dan saya penasaran. Tapi tidak mungkin melangkah di keduanya. Saya merasa berbuat curang jika demikian. Serakah. Dan saya tidak terbiasa melakukannya. Setidaknya saya harus menyelesaikan satu per satu. Meskipun jika sudah menyelesaikan perjalanan di salah satu jalan tersebut, saya tidak mungkin masuk di pilihan yang satu lagi. Terlalu aneh.

Jadilah saya sekarang tersesat dalam pertimbangan-pertimbangan yang (sekali lagi) tidak ada yang mengharuskan untuk mempertimbangkannya. Kedua jalan tersebut tidak mengundang saya untuk masuk ke dalamnya, mereka hanya ada di tempatnya. Dan saya memilih untuk mendekatinya. Bukan salah mereka. Salah saya sendiri terlalu impulsif. Kalau sekarang saya jadi bingung, sebetulnya itu adalah kebingungan yang saya ciptakan sendiri.

Saya pikir tadinya ini sangat sederhana dan mudah, semudah memilih mau makan jeruk atau apel. Meskipun saya harus memilih salah satu padahal saya suka keduanya, tapi tidak akan beresiko apapun. Tapi ini lebih serius daripada memilih buah. Ini lebih sederhana dan bodoh tapi menjadi sesuatu yang sangat serius dan membingungkan. Ini seperti memilih mau makan jeruk atau apel yang ada di meja, tapi bukan milikmu dan mungkin tidak disajikan untukmu. Memilih salah satu atau keduanya hanya akan membuatmu sakit perut.

Mungkin sebaiknya meninggalkan keduanya.

 

 

 

*just help me to find the wayout

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s