World Need Respect, People Need Too

Suatu siang di lampu merah Taman Cikapayang, Dago, saya sedang berada dalam angkot menuju kantor. Siang itu cukup terik, saya yang duduk di bangku depan bercucuran keringat dan kehausan. Tiba-tiba seorang lelaki mendekat ke pintu angkot yang saya tumpangi. Wajah dan tubuhnya dilumuri cat yang entah menyimbolkan apa, tangannya membawa setumpuk kertas bergambar warna-warni. Celananya pendek selutut dan kakinya tanpa alas langsung menyentuh aspal. Saya membayangkan betapa panasnya aspal jalanan siang itu. Laki-laki itu menyodorkan selembar brosur yang dibawanya kepada saya. Secara otomatis, seperti biasa, saya menolaknya.

“Gratis ini teh”, ujarnya judes.

Saya terhenyak dengan ucapannya yang ketus. Saya menerjemahkan ucapannya saat itu menjadi “apa susahnya sih tinggal ambil aja, gak disuruh bayar aja gak mau, apalagi bayar”. Nah loh! Apa yang salah dari kondisi ini?

Saya lalu mengingat-ingat beberapa kejadian yang hampir serupa. Sebelumnya, bagi-membagi brosur di jalanan, Mall, atau di manapun tidak pernah menjadi masalah besar bagi saya. Kalau dikasih ya ambil, kalau tidak ya sudah. No big deal. Tapi hari itu selembar brosur membuat saya resah dan merasa bersalah.

Setahun terakhir saya cenderung menghindari bahkan menolak brosur yang dibagikan, apapun itu. Sekali waktu saya sedang berjalan bersama teman yang peduli terhadap permasalahan sampah. Saat itu saya menerima sebuah brosur yang langsung diprotes oleh teman saya. Katanya, brosur yang saya terima itu hanya akan menjadi sampah karena informasi yang terdapat dalam brosur tersebut hanya dibaca sekilas. Saya kaget tapi sepakat. Memang benar brosur tersebut akan menjadi sampah begitu saja saat saya sudah selesai membaca informasinya. Lalu saya berpikir betapa banyaknya sampah yang saya hasilkan hanya dari selembar brosur yang bisa saya terima hampir setiap hari. Sejak saat itu saya berhenti menerima brosur.

Tapi kejadian siang hari di lampu merah Taman Cikapayang itu juga membuat saya gamang. Prinsip “zerowaste” yang berusaha saya terapkan dalam hidup saya setahun ini tiba-tiba runtuh begitu saja. Seorang lelaki yang menatap tajam pada saya saat itu seolah ingin menunjukkan pada saya bahwa ada dia di balik brosur “sampah” itu. Ada dia dan entah berapa puluh, bahkan ratus, orang yang mendapatkan penghasilan dari brosur itu.

Laki-laki berlumuran cat itu hanya orang yang dibayar oleh pemilik pertokoan besar untuk menyebarkan brosur kepada banyak orang. Ia mendapatkan uang dari usahanya menyampaikan informasi di dalam brosur kepada sebanyak-banyaknya orang. Terlepas dari kenyataan bahwa brosur itu akan menjadi sampah, tugas laki-laki tadi akan lebih berat jika banyak orang yang tidak mau menerima brosur darinya. Saya membayangkan apa rasanya jika saya memiliki tugas dan orang-orang tidak mau membantu. Pasti sedih.

Akhirnya siang itu jadilah saya mengambil brosur dari laki-laki itu sambil membawa kegelisahan besar. Sudahkah saya, kita, meletakkan manusia pada posisinya yang benar dalam upaya pelestarian lingkungan? Adakah kita menuju pada keharmonisan kehidupan alam raya atau justru tidak adil dalam menjaganya? Saya, sebelumnya menolak brosur karena ingin menolong lingkungan, justru melupakan untuk menolong sesama manusia. Saya baik terhadap bumi tapi jahat pada manusia. Setidaknya begitu selama belum ada solusi yang adil untuk keduanya. Padahal alam raya ini adalah sebuah ekosistem yang ramai. Bukan hanya pohon-pohon, tanah, air, udara, hewan. Ada manusia juga di dalamnya. Kita salah satunya.

Jika kita bisa menghargai alam, semestinya kita bisa menghargai juga sesama manusia. Setidaknya kita bersikap adil terhadap manusia lain. Dengan begitu semoga keharmonisan dapat terwujud dalam kehidupan kita.

Advertisements

2 thoughts on “World Need Respect, People Need Too

  1. puk puk Guliii…..
    Gw pernah ngalamin. Tapi mungkin ga separah lo sih, soalnya kalo cuma liat gambarnya mash biasa aja. dan gw berhasil dengan exposure therapy yg agak terpaksa dan dalam waktu singkat 😀 Ular pertama yg berhasil meredam ketakutan gw adalah salah satu ular di Koridor Halimun Salak. Dimanfaatin tuh temennya dari sioux yg mau bantuin. hehe… Selamat mencoba..! :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s