Strong Ophidophobia

Setiap orang pasti punya ketakutan terhadap sesuatu, pemberani sekalipun. Hanya saja mungkin level ketakutannya berbeda-beda. Maka kita tidak bisa mengatakan “berlebihan” kepada orang-orang yang mengidap ketakutan akut pada sesuatu. Saya, misalnya.

Saya punya ketakutan yang kuat pada ular. Jangan tanya kenapa. Saya sendiri tidak tahu dan tidak ingat apa persisnya yang membuat saya sangat takut, bahkan untuk melihat gambarnya. Buat saya, ular sama sekali tidak lucu, malah mengerikan. Dan saya tidak bisa mengerti kenapa orang bisa sangat suka terhadap ular bahkan sampai memeliharanya.

Sialnya, tetangga kamar kost saya memeliharanya. Bayangkan! Saya yang punya ketakutan berlebihan pada ular harus bertetangga (harfiah) dengan ular?!? Tadi pagi saya baru melihatnya, ular itu dengan manis disimpan di depan kamarnya yang mana harus saya lewati setiap hari. SETIAP SAAT! Oh, Tuhaaaan….

Selama dua bulan saya tinggal di kamar kost itu, saya tidak tahu sama sekali kalau ada yang pelihara ular di sana. Saya tidak pernah melihatnya dan (plis deh) siapa yang akan berpikir di kontrakan khusus putri ada yang pelihara ular? Mungkin saya terlalu polos karena faktanya ada yang memelihara ular di kamar kost. KAMAR KOST! Tempat kau tinggal dengan banyak orang lain yang bukan keluarga, perlu banyak kesepakatan untuk melakukan sesuatu yang tidak “normal”. Terutama jika kau memakai area bersama untuk peliharaanmu yang LUCU itu.

Saya langsung menggigil dan gemetaran begitu melihat ular dalam kotak bening di lantai. Kecil. Tapi cukup membuat darah saya turun semua ke telapak kaki. Saya langsung masuk ke kamar dan nyaris pingsan karena lemas. Saya tidak meminta bantuan pada tetangga kamar yang lain, belum kenal. Malu. Saya langsung menghubungi teman kantor via whatsapp. Pesan saya terkirim. Lalu handphone saya mati. Iya, MATI. Habis baterai. Charger tertinggal di kantor.  Habis juga riwayat saya.

Saya berusaha mengumpulkan seluruh energi untuk bergerak, berganti pakaian, dan segera keluar dari kamar. Saya harus keluar. Saya tidak mungkin terus-terusan ada di dalam kamar dimana ada seekor ular sedang nangkring di depan kamar. Saya membayangkan ular itu berkata “ayo kita main bareng” sambil tersenyum licik. Hiiiiii… Itu seremnya dobel-dobel.

Akhirnya saya berhasil melangkah keluar dan segera meluncur ke kantor. Thank God jarak tempat tinggal – kantor sangat dekat. Berjalan kaki tidak sampai dua menit, saya sudah tiba di kantor dan membuat drama. Saya menangis sejadi-jadinya meminta pertolongan untuk pindah kost. Berlebihan? Bisa ya bisa tidak.

Beberapa orang mungkin menilai reaksi saya berlebihan hanya melihat ular saja (hanya??? Menurut loooo?). Entah harus menjelaskan dalam bahasa apa bahwa saya memang sangat ketakutan. Saya tidak tahu bagaimana membuat orang lain mengerti ketakutan ini. Saya ingin marah rasanya pada orang yang menganggap ketakutan saya ini sebagai sesuatu yang lucu. Ini Serius. Sangat tidak manusiawi jika kau tertawa ketika orang lain gemetar ketakutan.

Saya jadi penasaran tentang ketakutan yang saya miliki terhadap ular. Setelah bertanya pada om gugel, saya menemukan istilah Ophidophobia. Melihat gejalanya, (mungkin) saya tergolong dalam Strong ophidophobia. Saya lalu mencari tahu bagaimana menyembuhkan ketakutan itu karena saya tidak mau seumur hidup merasa ketakutan. Saya kutip beberapa metode terapi dari laman Sioux Indonesia. (Bahkan untuk mencari solusi pun saya harus berhadapan dengan gambar ular :|).

Ada beberapa metode terapi yang bisa digunakan untuk mengatasi phobia akan ular ini, yang pertama yang biasa digunakan adalah Cognitive-behavioral therapy (CBT), teknik ini focus untuk menghentikan pikiran negative yang muncul secara otomatis yang berhubungan dengan ular, dan menggantikannya dengan pikiran pikiran yang lebih masuk akal. CBT merupakan gabungan dari dua teknik terapi cognitive dan behavioral. CBT melihat kepribadian seseorang terbentuk dari pengalaman masa kanak-kanak dan remaja. Dengan metode ini kita bisa menggali penyebab munculnya phobia tersebut sehingga kita bisa menggantinya dengan hal yang berkebalikan. Misalnya jika Aji phobia akan ular dikarenakan pengalaman masa kecilnya yang pernah digigit ular berbisa, maka tiap melihat ular dia akan memiliki ketakutan yang berlebihan. Dengan metode CBT, Aji diminta untuk melihat interaksi yang berkebalikan antara ular dan manusia, misalnya melihat ular yang jinak dan bermain dengan manusia, warna ular yang kuning, hijau, atau albino, disini kemampuan kognitifnya akan bekerja untuk memikirkan bahwa tidak semua ular berbisa, dan tidak semua ular akan menggigit dia.

Metode kedua adalah dengan cara Exposure Therapy. Teknik ini menggunakan cara mengekspos objek ketakutan penderita phobia. Seorang Ophidophobis, akan terus menerus diajak untuk lebih dekat dengan ular selangkah demi selangkah. Penderita akan diajak untuk melihat ular dari gambarnya terlebih dahulu, menonton film tentang ular, melihat kotak ular dari jauh, sampai nanti bisa berinteraksi dengan ular secara langsung.

Ketiga adalah dengan metode hypnosis / hypnotheraphy. Metode ini mungkin paling cepat, terapis akan membawa Ophidophobia ke dalam alam bawah sadarnya dan mulai memberikan sugesti sugesti positif tentang ular. Walaupun begitu metode ini pun tidak bisa sekali jadi, setiap orang pasti berbeda hasilnya.

Menurut situs tersebut, ophidophobia bisa juga disembuhkan dengan medis. Tetapi disarankan untuk terapi terlebih dahulu dan diiringi niat serta kemauan untuk melawan ketakutan karena itu dapat mempengaruhi cepat atau lambatnya proses penyembuhan. Sampai detik ini saya belum yakin untuk mengikuti terapi karena saya belum siap untuk dihadapkan langsung dengan ular. Membayangkannya saja saya tidak sanggup. 😐

 

Advertisements

4 thoughts on “Strong Ophidophobia

  1. cup-cup! guliiiii, pasti suatu saat kamu akan berani untuk terapi. PASTI! jangan dipakasain sekarang, kamu lagi kaget :*
    dan baca tulisan kamu, saya berasa lagi kuliah kembali teknik konseling. CBT oh CBT hatam rasanya, tapi duluuuu.. sekarang ntahlah -______-

  2. puk puk Guliii…..
    Gw pernah ngalamin. Tapi mungkin ga separah lo sih, soalnya kalo cuma liat gambarnya mash biasa aja. dan gw berhasil dengan exposure therapy yg agak terpaksa dan dalam waktu singkat Ular pertama yg berhasil meredam ketakutan gw adalah salah satu ular di Koridor Halimun Salak. Dimanfaatin tuh temennya dari sioux yg mau bantuin. hehe… Selamat mencoba..! :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s