Sketsa Sore Itu

Ada yang berbeda dengan hujan sore itu. Ia datang dalam hening, tak seramai biasanya. Tak ada sambutan ceria, tak ada senyum bahagia. Ada apa dengan Pohon yang murung? Tangannya bahkan tak menjabat uluran Hujan yang tanpa ragu. Ragu hanya milik Pohon sore itu.

“Mengapa Kau datang?”, Angin berseru dari balik jendela kayu. Sembunyi-sembunyi menitipkan air mata pada dinding usang. Matanya menangkap harap yang berguguran dari pohon di ujung sana, berharap sedikit keberanian untuk memungutnya satu per satu dan menyimpannya dalam rumah. Tapi tak bisa, Hujan sudah lebih dulu sampai di sana, menyentuh tanah yang tak sabar menunggu.

***

Aku saksikan sketsa sore itu dalam keheningan. Mencoba menyelami kebisuan yang disimpan sendiri-sendiri, oleh Angin, Pohon, dan rintik Hujan sore itu. Lalu melukiskan dalam dinding anganku sendiri. Ada seutas sunyi yang menyelinap di sana, di sela-sela tumpukan kisah yang tak selesai. Aku menyaksikan semuanya dalam diam.

Suatu saat Pohon akan tahu, diam-diam ingin kupetik harap sebelum ia gugur, sebelum jatuh ke tanah, sebelum disapa hujan, bahkan sebelum Angin sempat mendambakannya. Kelak ia tahu betapa ingin aku datang lebih cepat, melukis sketsaku sendiri di atas langit sebelum sore itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s