Menghitung Waktu

Selamat pagi, Waktu. Aneh rasanya menyapa waktu dengan perhitungan waktu. Seolah-olah keduanya tidak saling mengenal, padahal saling menciptakan. Siapa yang menciptakan? Siapa yang menghitungnya?

Apakah kita pernah benar-benar menghitung? Menempatkan angka-angka pada langkah yang tak pernah disadari. Berapa angka yang kita namai untuk tiba di sini? Sepuluh? Seratus? Seribu? Kita tertinggal terlalu jauh sebelum menyadari bahwa kita harus berhitung.

“Ayo, mulai lagi!” ujar waktu kemarin.

“Dari mana?” kataku.

Aku sudah tertinggal jauh. Tak ada hitungan yang bisa kutambahkan atau kukurangi meski waktu melambat. Aku terlambat. Aku tak mengenal angka yang pernah terlewat, tetapi di depan sana jelas terlihat.

Bahkan saat aku sejauh ini, Aku tak punya waktu untuk sekedar mencari angka yang tepat untuk kelak disandingkan di sana. Sudah ada yang menunggu dengan perhitungan yang tepat dari sekedar kira-kira. Mereka bicara ilmu pasti. Aku menduga-duga. Mereka mengumpulkan angka-angka yang tercecer waktu. Aku menimbang-nimbang waktu.

Sembilan. Entah siapa yang meletakkannya di sana. Aku nyaris ingin melahap semua sebelum tiba waktunya. Supaya tak sampai di sana.

“Terlalu cepat” kataku.

“Masih jauh” ujar waktu.

Tapi waktu terus berlari dan aku kerap berhenti, berpikir; haruskan aku berlari? Sedangkan hitungan tidak pernah berhenti. Waktu juga. Mereka saling mengejar dan mengalahkan. Aku ketinggalan.

 

Ah waktu, aku lelah menghitung bersamamu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s