(per)JODOH(an)

2/365.

Jodoh.

Selama setahun kemarin, saya sangat erat dengan pembicaraan tentang yang satu ini. Tahun 2013 ini saya semakin kuat didorong untuk segera memikirkannya dengan serius dan matang, dengan segala perhitungan. Ah, lagi-lagi hitungan. Belum cukupkah saya bilang kalau saya sudah muak dengan segala perhitungan?

“Kamu harus serius!” kata orang-orang. Aneh. Seakan mereka bisa tahu seserius atau se-tidak-serius apa saya mempersiapkan diri untuk bertemu jodoh.

Perjodohan.

Kata jodoh sebagai kata benda kemudian berkembang menjadi sebuah proses mempertemukan dua orang sebagai jodoh ketika dua orang tersebut dianggap tidak mampu menemukan jodohnya sendiri. Menurut saya ini proses yang tidak menyenangkan. Sulit bagi saya memahami konsep perjodohan dari segi mana pun. Katanya, orang yang dipilihkan pasti baik. Subjektif sekali. Parameter baik bagi setiap orang pasti berbeda tergantung keinginan dan kebutuhannya. Nah, lalu orang-orang merasa menetahui yg kita butuhkan, padahal mereka bukan Tuhan.

Usia juga akan mempengaruhi versi keinginan dan kebutuhan itu. Saya sulit menerima keinginan dan kebutuhan orang di usia orang tua sebagai kebutuhan saya. Karena sangat berbeda. Perjodohan pun bisa berbeda tanggapannya dari orang yang berbeda. Ada yang menganggap perjodohan sebagai bagian dari proses sakral pernikahan, sehingga proses ini pun penuh perhitungan dan seleksi khusus. Ada yang melihatnya sebagai permainan. Meja judi yang menyenangkan. Dan yang dipertaruhkan adalah hati, hidup, dan harga diri orang lain.

Pembicaraan mengenai jodoh-perjodohan ini menjadi menarik ketika usia kita memasuki (katanya) “usia panik”. Ketika kita (terutama perempuan) sudah menginjak usia 25 tahun, dianggap sudah matang untuk menikah berdasarkan standard perkotaan. Di beberapa daerah berbeda-beda tergantung adat dan budayanya, ada yang usia 20 tahun sudah dianggap layak dan cukup matang, ada yang bahkan 17 tahun harus sudah dinikahkan.

Mengapa saya bilang menarik? Menarik karena semua orang, mulai dari orang tua, keluarga dekat, keluarga besar, sahabat, bahkan orang yang kenal sepintas pun tiba-tiba merasa bertanggung jawab untuk memberikan solusi supaya kita segera menemukan jodoh kita. Iya, menemukan. Berarti ada proses ‘mencari’ untuk menjadi ‘menemukan’. Padahal proses jodoh-perjodohan itu mestinya bukan ‘menemukan’ melainkan ‘bertemu’, yang berarti dua pihak yang (meminjam istilah mbak Danti di blognya) sama-sama berjalan ke tengah. Dua pihak aktif, bukan satu mencari, satu diam.

Jodoh itu di tangan Tuhan. Tapi kalau gak diambil-ambil ya bakal tetep ada di tangan Tuhan.

Lelucon di atas sering saya dengar dari teman-teman yang sudah berhasil menemukan jodohnya dan giat menceramahi saya. Saya hanya ikut tertawa setiap kali mendengar lelucon tersebut. Maksud di balik lelucon itu bahwa kita, manusia, harus tetap berusaha meskipun Tuhan sudah punya rencana. Saya paham. Sesuatu yang tidak saya pahami adalah persepsi orang-orang terhadap kata “usaha”. Usaha seperti apa yang mereka maksudkan? Mengapa saya selalu dibilang tidak berusaha?

Saya bekerja, berkawan, bergaul dengan banyak orang. Itu usaha. Perihal akhirnya saya bertemu jodoh saya siapa dan dimana, ya itu tidak bisa saya tentukan sendiri. Ada tangan Tuhan di sana. Saya percaya.

Nah, kalau sudah berusaha, lalu percaya, selebihnya adalah ikhlas. Ini tahap paling sulit, menurut saya. Karena ikhlas itu bukan hanya tentang menerima bahwa Tuhan belum mempertemukan kita dengan jodoh terbaik yang telah disiapkan. Ikhlas di sini termasuk menerima dengan lapang dada dan berbesar hati segala macam tuntutan orang sekitar untuk segera menemukan jodoh, termasuk menerima usaha orang-orang mempertemukan kita dengan (orang yang siapa tau) jodoh kita melalui proses perjodohan.

Catatan penting bagi orang yang dijodohkan adalah berpikir positif saja pada apapun yang orang lain katakan atau lakukan. Mungkin mereka memang berniat baik. Bicarakan dengan jelas keinginan dan kebutuhan kita, sebelumnya tentu kita perlu mengenal diri kita sendiri termasuk dua hal itu, supaya orang lain pun bisa memahaminya. Bagi orang yang menjodohkan, niat baik itu juga perlu aplikasi yang baik. Mungkin sebaiknya benar-benar menggali keinginan dan kebutuhan orang yang akan dijodohkan, bukan secara acak hanya dengan pertimbangan “siapa tau jodoh”. Kenali dan hargai prinsip hidup orang tersebut supaya tidak ada yang merasa dirugikan atau tidak dihargai.

Karena memilih untuk sendiri atau berpasangan, sebaiknya itu adalah sikap. Bukan paksaan.

Advertisements

One thought on “(per)JODOH(an)

  1. Hohoho,,, jadi inget catatan awal tahun 2012 gue yang kira-kira tentang jodoh juga..
    Yang jelas kita tetap berusaha dan melakukan yang terbaik. hasil akhir tetap Tuhan yg menentukan. Kalau belum waktunya yg tepat menurutNya, ya belum aja. mari menulis surat kepada Neptunus.. 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s