Kemana Para Superhero?

6/365. Kemana para superhero?

Tulisan ini tertunda delapan hari. Maklum lah, banyak hal rumit yang sedikit mengganggu selama delapan hari ini. Alasan, memang. ūüėÄ

Mari kita teruskan pembicaraan tentang artis cilik yang mengidolakan boyband. Dalam tulisan sebelumnya (baca di sini), saya membahas tentang ganteng Рtidak ganteng versi saya. Sekarang saya mau membahas tema kedua; anak berusia 7 tahun mengidolakan boyband. 

Anak kecil yang seharusnya masih nonton kartun dan bermain boneka itu mengidolakan personel boyband karena alasan ganteng?! Hei, kemana para superhero?

Bagi saya yang tumbuh bersama munculnya tokoh-tokoh Superhero, mulai dari kartun sampai manusia, idola bagi saya adalah sosok-sosok yang memberantas kejahatan dan membela kebaikan, sebut saja Batman, Superman, Power Ranger, bahkan Saint Saiya dan Sailor moon. Belum lagi, Ayah saya suka mendongeng tentang “baik-jahat”.¬†Meskipun sekarang saya berpikir tidak mungkin orang bisa punya kekuatan khusus dan berubah menjadi sosok lain, tetap saja dulu saya pernah bercita-cita menjadi superhero.

Koleksi majalah anak-anak yang isinya selalu menarik untuk dibaca, perpustakaan sekolah yang menyimpan buku-buku cerita rakyat. Semuanya tentang kepahlawanan. Hikmah yang bisa diambil adalah bahwa sejak anak-anak, generasi saya tumbuh dengan semangat untuk menjadi orang baik, meskipun pada akhirnya kita harus realistis di zaman sekarang ini kebaikan tidak selalu menang. Oke, saya tahan dulu pembahasan tentang itu. Butuh sesi khusus. Nanti saja.

Kembali ke topik kita. Saat ini yang saya soroti adalah betapa sayangnya anak kecil mengidolakan seseorang bukan karena sifat-sifat atau perbuatan kepahlawanan yang dilakukannya, melainkan karena kecakapannya “berdandan”.¬†Ini menunjukkan perubahan kesukaan pada generasi saat ini. Perubahan itu tentu dipengaruhi juga oleh pola pendidikan orang tua kepada anaknya. Saat ini, karena tuntutan kebutuhan (yang bukan hanya premier-sekunder, tapi juga tertier), mengharuskan kedua orang tua bekerja sehingga waktu yang diluangkan untuk anak-anak hanya sedikit.¬†¬†

Kalaupun ada di rumah, orang tua tidak membekali pendidikan anak dengan sesuatu yang sesuai usia anak, bacaan, tontonan, musik. Terkadang mental orang tua (khususnya yang masih muda) meremehkan pembentukan mental dan karakter anak-anak sehingga meremehkan juga pentingnya memperhatikan apa yang dilihat dan didengar anak-anak.

Saya pribadi saat ini semakin malas menonton televisi. Alasannya, tayangan-tayangan di tv nasionall semakin tidak berkualitas, mulai dari acara hiburan sampai acara berita sekalipun. Entah benar atau hanya perasaan saya saja, tayangan-tayangan di tv itu selalu menonjolkan gaya hidup kaum hedon. Apalagi sinetron. Bahkan sinetron tentang anak-anak sekolah tidak bisa dijadikan contoh yang baik. Saran saya, lebih baik matikan Tv dan temani anak-anak bermain.

Saya bukan psikolog, bukan juga ahli pendidikan anak-anak. Saya hanya punya perhatian khusus pada pertumbuhan anak-anak. Semoga saya atau siapapun di dunia ini bisa memperhatikan dan menjaga perkembangan anak-anak agar tetap menikmati dunia pada usianya dan tumbuh dengan baik menjadi manusia yang baik. Menjadi superhero.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s