Kura-kura dalam Perahu

Kura-kura dalam perahu. Pura-pura tidak tahu.

Kita pasti sering mendengar peribahasa di atas. Peribahasa ini sangat umum digunakan untuk menganalogikan seseorang yang mengetahui sesuatu tetapi diam saja seolah-olah tidak tahu. Bahkan tanpa menyebutkan kalimat kedua, orang sudah mengerti maksud dari kalimat pertama. Peribahasa yang umum, kondisi yang sangat umum juga.

Saya tidak tahu mengapa kura-kura dihubungkan dengan sikap berpura-pura. Hanya karena memiliki rima yang sama ataukah memang kura-kura suka berpura-pura? Entahlah. Saya membaca beberapa referensi, tidak ada satu pun yang memberikan informasi apakah kura-kura suka berpura-pura atau tidak. Kalau saya hubungkan dengan dongeng yang sering saya baca dan dengar waktu kecil, rasanya kura-kura tidak mungkin suka berpura-pura. Ia selalu digambarkan sebagai tokoh protagonis dan selalu menjadi korban kenakalan si Kera. Eh tapi itu kan dongeng ya, fiktif. 😀

Siapa yang tidak pernah jadi kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu? Saya rasa semua orang pernah melakukannya untuk berbagai macam alasan, penting atau tidak penting. Subyektif. Semua orang berhak memilih untuk bereaksi seperti apa terhadap situasi tertentu, termasuk memilih untuk menjadi kura-kura yang tidak tahu. Seberapa sering kita melakukannya? Apa alasannya?

Untuk beberapa situasi, alasan umum ketika orang berpura-pura tidak tahu adalah tidak mau terlihat sombong. Misalnya yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan, keahlian atau wawasan. Beberapa orang memilih untuk pura-pura tidak tahu dan lebih banyak mendengarkan orang lain. Selain alasan tidak mau terlihat sombong, biasanya juga karena ingin lebih banyak menggali informasi atau pengetahuan dari orang lain. Orang yang berpura-pura dalam situasi ini biasanya justru akhirnya lebih banyak tahu lagi dibandingkan orang yang berbicara. 

Dalam situasi yang lain, orang berpura-pura tidak tahu karena malas menanggapi orang yang sedang menjadi lawan bicara atau topik yang sedang dibicarakan. Reaksi ini bisa disebabkan oleh banyak hal; lawan bicara suka pamer, topiknya tidak menarik, atau terlalu beresiko jika menanggapi pembicaraan.

Sikap ‘kura-kura dalam perahu’ tidak hanya berlaku dalam konteks obrolan. Sikap ini juga kerap muncul dalam merespon keadaan yang terjadi di sekitar. Contoh sederhana, ketika kita sedang berjalan lalu menemukan sampah yang tergeletak begitu saja, kita hanya melewatinya, pura-pura tidak tahu. Salahkah? 

Contoh sederhana tadi sangat mudah jawabannya, tergantung kita mau lebih peduli atau tetap konsisten menjadi “kura-kura”. Tetapi menjadi sulit ketika keadaanya lebih rumit. Misal ketika kita tahu akan/sudah ada kejahatan yang dilakukan oleh orang lain, tetapi terlalu berbahaya jika kita mengungkapkannya. Apakah harus tetap berpura-pura tidak tahu? Mungkin tergantung tingkat resiko yang akan didapatkan.

Lebih rumit lagi kalau hubungannya sama perasaan (siap-siap galau :p). Rumit karena tidak ada ilmu pasti untuk urusan yang satu ini. Kita seringkali terjebak dalam pilihan harus pura-pura tidak tahu padahal tahu, pura-pura tahu padahal tidak tahu, pura-pura tidak tahu padahal tidak tahu karena memang tidak ada dalam perahu. Memang kusut urusan perasaan. Apalagi ketika mulai tidak jelas batasan boleh dan tidak boleh, harus dan tidak harus. Tidak ada rumusnya.

Contoh, ketika mantan pacar sakit. Kita ingin sekali menjenguknya karena masih sayang. Tapi kondisinya dia sudah punya pacar baru dan didampingi oleh pacarnya di rumah sakit. Apakah lebih baik kita memilih untuk menjadi “kura-kura” saja supaya tidak menimbulkan “persoalan” baru? Bisakah berpura-pura tidak tahu bahwa orang yang kita sayangi sedang sakit? Katanya sayang, koq tidak memberi perhatian?

Contoh lain. Kita menyukai seseorang yang sudah memiliki pasangan. Apakah kita akan berpura-pura tidak tahu dan tetap melanjutkan suka-sukaan itu? Apakah kita akhirnya tidak  akan tersakiti oleh sikap ‘pura-pura tidak tahu’ kita? Nah loh.

Oke, cukup contoh kasusnya. Intinya, kita seringkali dihadapkan pada pilihan mau ‘pura-pura tidak tahu’ atau tidak. Untuk kondisi tertentu, mungkin sebaiknya kita biarkan diri kita mengetahui dan menyatakan diri bahwa kita mengetahuinya. Tidak berpura-pura apalagi membohongi diri sendiri. Terutama jika itu berkaitan dengan fakta, kenyataan. Terima saja itu sebagai kenyataan yang kita ketahui dan memang terjadi. Tidak ada gunanya menjadi ‘kura-kura dalam perahu’. 🙂

Image

 

*sumber gambar dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s