Mengapa Kita Butuh Status?

Suatu hari saya sedang menjelajahi pikiran saya sendiri dan mengaitkannya dengan berbagai kejadian dalam hidup saya. Orang bilang melamun, saya bilang merenung. Apapun namanya, saya selalu menikmati proses pendalaman pemikiran sendiri dengan sejumlah teori yang pernah saya dengar atau teori yang saya buat sendiri. Entah bagaimana mulanya, tiba-tiba saya berpikir tentang status. Iya, status. Saya berpikir “mengapa kita butuh status?”.

Lalu saya mencari arti kata ‘status’ dalam KBBI. Menurut KBBI, status adalah keadaan atau kedudukan (orang, badan, dsb) dalam hubungan dengan masyarakat di sekelilingnya. Saya sendiri membagi ‘status’ menjadi tiga berdasarkan fungsinya, yaitu pembeda, pengakuan dan komitmen.

Pertama, status sebagai pembeda. Selain nama, manusia perlu sesuatu yang lain sebagai pembeda dengan manusia lainnya. Status ini ada yang didapatkan secara alamiah, ada juga yang didapatkan melalui proses tertentu dengan syarat-syarat yang tidak dapat dilewati oleh semua orang. Misalnya status sebagai seorang anak. Semua orang pasti melewati atau pernah menyandang status ini yang seiring dengan usianya lalu berubah statusnya menjadi Ayah atau Ibu. Tetapi status lain, seorang Ustadz misalnya, harus melewati proses tersendiri, tidak bisa begitu saja mendappatkan status Ustadz. Dalam tataran sosial masyarakat, status ini bisa juga adalah jabatan. Seringkali manusia membeda-bedakan berdasarkan jabatan yang dimiliki seseorang, sehingga tercipta kesenjangan sosial.

Kedua, status sebagai pengakuan. Semua orang butuh pengakuan, baik dari masyarakat maupun dari lembaga yang berwenang untuk memberikan sebuah pengakuan. Misal pengakuan dari kepolisian bahwa kita berkelakuan baik atau mampu mengendarai kendaraan bermotor. Contoh lain, pengakuan dari lembaga pendidikan bahwa kita sudah memiliki pengetahuan dan kemampuan yang lebih dibandingkan orang lain melalui selembar ijazah. Di indonesia, tidak perlu naif, kita masih hidup dalam aturan mendapat pekerjaan dan penghargaan sesuai pendidikan kita, bukan kemampuan kita. Punya kecerdasan atau pengetahuan yang baik tetapi tidak diakui secara sah oleh lembaga akademik, tetap saja berstatus rendah. Butuh pengakuan lembaga akademik bahwa kita sudah melewati tahap-tahap yang memenuhi kriteria untuk menjadi seorang pekerja tertentu. Meskipun kenyataannya pengakuan itu akhirnya bisa dibeli.

Padahal status itu adalah komitmen. Ini yang ketiga dan paling penting. Ketika kita menyandang status tertentu, itu berarti kita berkomitmen untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan status tersebut. Misalnya orang yang menyandang status sebagai guru, berarti ia memiliki komitmen (dan seharusnya menjalankan komitmen) sebagai pendidik, mencerdaskan murid-muridnya. Terkadang status itu menjadi koridor agar kita berjalan di jalan yang tepat, serta membantu kita untuk mengetahui mana yang boleh dan tidak boleh.

Memang, status tertentu seringkali membatasi gerak-gerik manusia untuk melakukan sesuatu di luar kebiasaan pada umumnya kelompok tersebut. Misalnya seorang aktivis lingkungan. Ketika seseorang dilabeli sebagai seorang aktivis, maka masyarakat secara sepihak melekatkan nilai-nilai kesempurnaan, nilai-nilai ideal, yang padahal belum tentu bisa dilakukan oleh aktivis tersebut. Bisa saja dia hanya sanggup melaksanakan sebagian dari keseluruhan kesempurnaan sebagai seorang aktivis. Salah? Tentu tidak. Manusia tidak ada yang sempurna, kan? Ketika seseorang yang menyandang status tertentu keluar batas pun tidak selalu dihukum, tetapi bisa jadi bahan pembicaraan negatif di kalangan tertentu.

Contoh lain ketika kita memiliki pasangan, baik pacar maupun istri atau suami. Secara otomatis status itu membatasi langkah kita untuk bisa bergaul dengan orang lain, terutama lawan jenis. Tidak pantas, begitu katanya. Padahal yang kita lakukan hanya hubungan pekerjaan atau pertemanan. Kalau statusnya menikah mungkin memang harus membatasi diri untuk banyak alasan. Kalau statusnya pacaran? Mungkin saya kembalikan saja pada masing-masing individu karena setiap orang pasti memiliki pertimbangan sendiri.

Begitulah. Status, penamaan, label adalah gimmick dalam kehidupan manusia. Alih-alih apa yang dilakukan untuk hidupnya, status menjadikan hidup manusia lebih ramai dan menarik. Bak dinding yang kosong, status adalah lukisan yang dipajang di sana. Keberadaan lukisan ini bukan sekedar kesukaan si pemiliknya, tetapi juga sesuatu untuk dilihat orang lain, dipamerkan, dinilai. Bisa bagus, bisa juga tidak. Seringkali yang menurut kita bagus ternyata menjadi gunjingan orang lain. Demikian juga status. Seringkali manusia (memaksakan diri untuk) menyandang status demi penilaian orang lain. Hanya untuk dipamerkan. Lupa pada komitmen yang harus dijalankan dari status tersebut.

Saya lalu memikirkan status yang melekat pada diri saya, pada orang lain (yang kemudian bertautan dengan hidup saya, dengan status saya). Setelah berjalan-jalan di dalam pikiran saya sendiri pun saya masih bertanya “mengapa kita butuh status? mengapa kita butuh status jika kita tidak bisa berkomitmen?”

 

Advertisements

2 thoughts on “Mengapa Kita Butuh Status?

  1. Buat gue status itu cuma label, yg penting ya arti dari status itu sendiri -komitmen. Well, pacaran itu bukan status ya tapi hanya pengakuan diri saja hahaha..
    nice writing guli!

    1. Yup, paling penting memang komitmen menjalankan apa yang sudah kita pilih.
      Eh pacaran itu status loh, buktinya kalau gak pacaran disebutnya HTS (Hubungan Tanpa Status), hihihi…

      Thanks Niken :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s