Selamat ulang tahun!

Halo dunia!

Sampai juga saya di usia 28 dengan kondisi yang tidak pernah saya bayangkan. Memangnya siapa yang bisa? Seseorang pernah berkata bahwa hidup seperti novel, kita adalah tokoh di dalamnya, kita semua. Setiap orang menjadi tokoh utama dalam novelnya sendiri, lalu menjadi tokoh yang tidak terlalu penting dalam kisah orang lain. Saya menikmati setiap kisah yang harus saya lalui, dalam hidup novel saya maupun orang lain.

Tiga tahun lalu, ketika segalanya menjadi mungkin, ketika hal terbesar yang saya inginkan sudah di depan mata, saya justru menolaknya, bertanya pada diri sendiri; “inikah yang saya inginkan? Inikah yang saya cari?” Saya menolaknya untuk mencari jawaban itu, mencari-cari diri saya sendiri yang entah sedang berada di mana.

Tiga tahun. Saya mencari kedamaian sejati, damai yang memang disebabkan oleh diri, hati, dan pikiran saya sendiri, bukan damai yang diciptakan oleh orang lain. Bukan damai yang semu, yang akan hilang ketika sumber kedamaian itu hilang. Bukan damai yang selalu saya khawatirkan akan pergi ketika saya terbangun dari tidur setiap pagi. Bukan, bukan damai yang itu.

Dan di sini lah saya hari ini; Bali. Mencari kedamaian di Pulau Dewata yang ramai. Dan saya bergumul dengan keheningan yang nyata dalam diri. Hening yang saya siapkan khusus untuk hari ini. Hening yang saya bungkus rapat-rapat untuk saya nikmati sepanjang hari ini bersama dunia yang sedang berbahagia.

Dalam hening itu saya munculkan simbol-simbol. Lalu menalar sejauh-jauhnya, sedalam-dalamnya. Memaknai jejak yang pernah tertinggal, mempertanyakan eksistensi diri “adakah saya di sana?”

Adakah saya menyertakan diri saya seutuhnya dalam setiap langkah dalam hidup ini? Ataukah hanya menyertakan sebagian, lalu sebagian lainnya berlarian ke tempat yang asing? Adakah saya memahami makna penciptaan, makna keberadaan, makna pencarian? Adakah saya mengenalNya?

Hari ini semesta menampung do’a-do’a, lalu dihujankan perlahan di atas kepala saya, masuk ke dalam darah dan menjelma kekuatan sekaligus kegelisahan. Pun demikian, saya mengamini semua. Lalu menambahkan, “semoga menggenapkan kedirian”.

Saya berdiri di tepian tebing Uluwatu, melihat hamparan Samudera Hindia yang seolah tanpa batas dan langit yang menggenggamnya. Di antara keduanya, terbentang layar yang menampilkan film kehidupan, proyeksi dari dalam pikiran saya. Saya saksikan dengan seksama, menikmati setiap detik kejadian yang tergambar di sana, menyelami perasaan-perasaan yang berbeda setiap kali adegan berganti. Sesudahnya, saya biarkan ombak menghanyutkan semuanya.

Lalu saya mulai membenahi isi kepala, isi hati. Menyiapkan ruang-ruang untuk diisi kembali dengan banyak hal untuk setahun ke depan, yang (lagi-lagi) tidak bisa saya bayangkan. Menyiapkan diri untuk setiap kejutan yang akan diberikan semesta, menyiapkan langkah untuk menapaki halaman-halaman baru, dalam novel saya maupun orang lain.

Sejenak saya pejamkan mata, mensyukuri semesta. Lalu tersenyum untuk kedamaian yang tercipta hari ini, hari bahagia terlahir ke dunia. Selamat ulang tahun, Saya!

Sore di Uluwatu
Sore di Uluwatu

 

 

 

*Sore yang damai di Uluwatu*

23 Februari 2013

Advertisements

2 thoughts on “Selamat ulang tahun!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s