Mendengar, Mendengar, Berbicara

Pasti bukan tanpa sebab mengapa Tuhan memasangkan dua telinga di sisi kiri dan kanan kepala kita, lalu menambahkan sebuah mulut di antara keduanya. Mengapa dua telinga dan (hanya) satu mulut? Mungkin memang benar seperti kata orang-orang, bahwa kita mesti lebih banyak mendengar daripada berbicara.

Mendengar merupakan aktivitas yang mencerminkan sikap bijak dan rendah hati. Orang yang lebih banyak mendengar setidaknya mampu mengendalikan dirinya untuk tidak cepat merespon bahan pembicaraan, sehingga tidak terkesan sok tahu, meskipun dia benar-benar tahu. Orang yang lebih banyak mende

ngar daripada berbicara tentu melalui sebuah proses yang mendukung kematangan berpikir. Mendengar yang berarti menyimak, lalu mengkaji dan menalar merupakan filtrasi dalam menuangkan sebuah gagasan yang sumbernya adalah informasi dari luar. Filtrasi yang baik tentu akan mengeluarkan hasil yang jernih.

Tetapi memasangkan filter itu tidak mudah, tidak semua orang bisa melakukannya. Kebanyakan filter yang sudah terpasang pun tidak bisa bekerja dengan baik sehingga informasi tidak masuk ke saluran yang mengarah pada filter, tetapi berbelok ke saluran ego. Hasilnya, informasi tersebut diolah secepat kilat dan sekenanya, lalu dituangkan begitu saja padahal belum matang. Lebih bahaya lagi jika informasi tersebut gagal terdistribusi pada saluran yang benar dan jatuh begitu saja ke dasar hati. Di sana, segala informasi bisa dengan mudah bertransformasi menjadi bentuk lain.

Kembali pada aktivitas mendengar. Sekalipun mendengar adalah aktivitas yang (terlihat) mudah dan kita memiliki instrumen yang lebih dari cukup untuk melakukannya, tetap saja tidak semua orang mampu melakukannya. Tak jarang kita menolak mentah-mentah untuk mendengarkan karena merasa informasi tersebut tidak penting atau bisa membahayakan, bahkan kita juga sering menolak untuk mendengar sebelum benar-benar tahu apa yang akan kita dengar. Kerugian besar.

Menolak untuk mendengar berarti menolak banyak peluang untuk memperkaya dan mendewasakan diri. Perihal informasi yang kita dengar akan “membahayakan”, itu soal lain. Bahaya atau tidak sebuah informasi tergantung pada kesiapan diri kita dalam penerimaan informasi tersebut. Jika kita memiliki filter yang terpasang dengan benar dan berfungsi dengan baik, tentu akan meminimalisir tingkat bahaya itu sendiri.

Lalu kapan kita harus mulai bicara? Apa yang harus kita bicarakan? Filtrasi informasi akan membantu kita memilih hal-hal yang harus dibi

carakan atau mungkin justru membuat kita tidak merasa perlu untuk berbicara. Tidak ada salahnya tidak berbicara untuk hal-hal tertentu. Mungkin saja itu bisa membantu menjaga kestabilan suatu kondisi tertentu. Mendengar banyak hal tidak harus sebanding dengan berbicara banyak hal. Seperti kata pepatah; “diam itu emas”, kan?

Mendengar, mendengar, dan terus mendengar. Kaji lebih dalam semua informasi yang kita dapatkan, pelajari keterkaitan antara satu informasi dengan informasi lain, pasangkan dengan fakta-fakta yang ada. Lalu simpan rapi dalam ruang penyimpanan pribadi. Bicaralah pada saat yang tepat dan pantas untuk berbicara. Semoga dengan demikian aktivitas mendengar dan berbicara menjadi lebih berisi dan bermanfaat.

Selamat mendengar. 🙂

Advertisements

One thought on “Mendengar, Mendengar, Berbicara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s