Perempuan Gila

Sebut saja saya “si Gila”, jika kemarahan bagi perempuan tidak bisa dinilai sebagai sebuah kewajaran. Sebut saja saya “si Gila” karena kegagalan saya merepresi kemarahan dan kegagalan saya untuk menjadi perempuan “normal”.

Pagi ini saya merasa marah terhadap perlakuan seseorang (tidak bisa saya ceritakan). Saya marah dan tidak bisa mengendalikannya sehingga saya menuangkan begitu saja pada orang yang bersangkutan.

Apa yang terjadi setelah itu? Setelah saya menuangkan kemarahan saya dengan sangat terstruktur dan jelas, setidaknya menurut saya, orang tersebut bertanya “kamu kenapa sih?”.

Saya jadi teringat pembahasan Aquarini Priyatna Prabasmoro dalam bukunya “Kajian Budaya Feminis; Tubuh, Sastra, dan Budaya Pop” tentang isu kemarahan dalam dunia feminis. Dalam bab pembukanya, ia menulis judul “saya marah karena itu saya menulis”. Judul yang menarik dengan isi yang tidak kalah menarik. Menurut beliau, perempuan, sebagai makhluk penyayang dan penyabar, seringkali dibatasi oleh label tersebut, termasuk dalam menuangkan kemarahannya. Label itu membuat perempuan harus merepresi kemarahan dalam dirinya supaya tidak keluar dan merusak label yang kadung diberikan. Jika tidak, siap-siap dilabeli “gila”.

Perempuan sebagai makhluk yang (katanya) lemah lembut seperti tidak memiliki hak untuk marah, padahal sebagai makhluk sensitif, yang lebih mengutamakan perasaan daripada logika, perempuan memiliki peluang lebih besar untuk merasakan perubahan-perubahan emosi dalam dirinya. Tetapi entah siapa yang menyepakati; perempuan “normal” tidak seharusnya marah-marah, membuat perempuan tersiksa demi sebuah kenormalan yang (menurut saya) abnormal.

Sulitnya, tidak banyak yang bisa memahami kemarahan perempuan. Entah penyebab kemarahannya yang tidak bisa dimengerti atau pengungkapannya yang tidak terstruktur, seringkali kaum lelaki, sekalipun orang terdekat yang seharusnya paling mengerti, malah menganggap kemarahan perempuan sangat irasional dan tidak patut. Kalau sudah begitu, perempuan akan semakin tersudut dalam kemarahan dan ketidakberdayaannya untuk lari dari label “perempuan yang baik dan benar”.

Menurut saya, setiap manusia berhak menuangkan kemarahan, tidak terikat laki-laki atau perempuan. Bukankah marah juga merupakan bagian dari emosi yang dimiliki manusia, seperti sedih dan bahagia? Lantas mengapa perempuan yang menuangkan kemarahan dianggap sebagai persoalan yang tabu dan menyalahi kodratnya sebagai penyayang? Apakah penyayang tidak boleh marah?

Bagi saya, begitu juga Aquarini, merepresi kemarahan justru menjadi kegilaan sendiri di dalam diri saya. Kegilaan itu bisa jadi berdampak lebih buruk dari kemarahan yang saya tuangkan. Tentunya itu akan menimbulkan lebih banyak kerugian bagi diri saya dan (bahkan) orang lain. Saya tidak mau mengalami kerugian itu, begitu juga orang lain, saya rasa. Namun lagi-lagi pandangan tersebut akan dianggap sebagai hal yang irasional, bahkan oleh orang yang (seharusnya) paling mengerti saya.

Ah sudahlah, sebut saja saya “si Gila”. Setidaknya saya sudah berusaha membuat orang lain mengerti kemarahan saya. Kalaupun dia tidak mengerti, biarkan saja.

Advertisements

6 thoughts on “Perempuan Gila

  1. Emang siapa ndri yg bilang bahwa perempuan yg mengeluarkan emosinya itu gila? Gw pernah baca orang ngomong gitu, si Freud, tapi berlaku utk semua manusia. Sampe ada istilah “kemarahan adalah kegilaan”. Soal represi itu.. kalo gak salah ada banyak cara utk melampiaskan emosi/perasaan, lagian bukan cuma kemarahan yg harus dikeluarkan, perasaan lain pun menurut gw punya hak yg sama. Nah, tinggal bagaimana kita mengekspresikan itu? Menurut gw represi bukan jalan keluar. Malah, bisa-bisa u jadi gila kalo terus2an merepresi perasaan. Jgn terjebak pola budaya lah, bagaimana pun itu cuma konstruksi yg bisa dihancurkan.
    Oia, pernah denger sublimasi dalam wilayah bahasan Freud ga? (Represi yg u maksud di atas juga dalam pengertian Freudian, kan? Atau gw salah?

    Tulisan u keren, ndri. Enak bacanya. Walaupun u lagi marah2, tp u ttp berusaha logis. Menurut gw itu salah satu bukti bahwa u bukan orang yg cenderung mudah dikuasai perasaan.

    “Setidaknya saya sudah berusaha membuat orang lain mengerti kemarahan saya. Kalaupun dia tidak mengerti, biarkan saja.” Hmmm…. Hmmm….

    1. Baca di buku yang gw sebutin di atas, Brok. Kalau Freud melihat secara global bahwa kemarahan sebagai kegilaan, di buku ini si feminis melihat kemarahan sebagai isu yang lebih spesifik pada perempuan yang (secara natural atau kultural?) disebut sebagai makhluk lemah lembut.
      Gw sendiri melihat kemarahan sebagai suatu emosi yang wajar tergantung bagaimana mekanisme pertahanannya (Freud).
      Ngomong-ngomong soal Sublimasi, mungkin yang gw lakukan dengan menulis tulisan di atas adalah upaya gw dalam menyublimasi kemarahan, yaaa walaupun sebelumnya sempet melakukan “aggresive reaction” juga sih. Hahaha. Tapi sah-sah saja toh, Freud sendiri bilang kalau setiap orang bisa melakukan lebih dari satu mekanisme pertahanan untuk menangani kecemasan atau emosinya, kan? 😀

      1. ya sah sah aja ndri… perasaan gw gak menyalahkan itu, deh.
        sekarang gimana kalo kita sedikit ngacapruk?
        sebenarnya gw tertarik jg utk ngomongin soal feminisme. Gw pernah punya teman, cewek, feminis, dan suka nulis. dia pernah nulis tentang tidak enaknya menjadi laki-laki (yang nota bene dilabeli superior). Di tulisan itu dia menyampaikan pendapat bahwa di sisi lain, laki-laki pun menderita dengan label superior itu. Hal lain yg bikin gw tertarik adalah pendapat dia tentang adanya perbedaan “job description” antara laki-laki dan perempuan. Gw setuju ketika dia bilang bahwa itu bukanlah ketidak-adilan, tapi pembagian tugas (pada prisnsipnya begitu, tp pelaksanaannya yg suka salah kaprah). Laki-laki dan perempuan adalah dualitas yg tidak bisa disamakan, itu gak bisa kita pungkiri. Perbedaan itu pada akhirnya membedakan kemampuan, hingga muncullah pengkotak-kotakan. Persoalan bahwa kemudian muncul superioritas, menurut gw itu cerita klasik, untuk apa kita bicarakan lagi? Segala perbedaan antara laki-laki dan perempuan, menurut gw, adalah satu hal yang romantis dan dahsyat.
        Memang, masih ada sebagian masyarakat, yg secara sadar atau tidak, memiliki pola pikir semacam itu. Tapi di sisi lain, apakah perempuan sendiri sudah berhasil menanamkan sikap mandiri dan tidak bergantung pada orang/hal lain, tidak saja kepada laki-laki (menurut gw itu inti dari feminisme)?
        Misalnya gini, karena merebaknya emansipasi, sekarang banyak sekali wanita yang berani memilih memperjuangkan karir atau mimpinya yang lain. Sayangnya, banyak juga diantara mereka yang tetap lunak. Artinya, kenapa mereka hanya sadar bahwa mereka punya hak yang sama untuk memperoleh ini dan itu, tapi tidak menyadari bahwa ada konsekwensi dibalik hak itu? Dan ketika mereka mendapat konsekwensi yang tidak enak, mereka kembali merengek, ke siapa pun itu.
        Mungkin hal ini gak berlaku bagi lu atau wanita lain yang memang punya sikap dan pola pikir, tapi, setidaknya, yang lebih banyak gw temui adalah wanita-wanita yang tidak sadar akan konsekwensi itu tadi.
        Memang benar, patriaki itu berasal dari kaum laki-laki, tapi menurut gw zaman sekarang semua orang udah bisa lebih terbuka. Atau karena begitu terbuka jadi orang-orang bisa berbuat seenaknya tanpa menyadari konsekwensi dari tindakannya?
        Eh, gw ga berusaha memojokkan lu, lho. Justru mumpung ini lu, gw jd bisa share soal feminisme. Karena kadang gw terganggu juga ketika para perempuan sering memojokkan laki-laki atas hal-hal yang seperti lu tulis di atas. Gw sendiri ga berpikiran seperti itu. Buat gw, perbedaan laki-laki dan perempuan itu hanya berlaku di atas kasur, lainnya ya sama aja. Hmm… apalagi ya… udah dulu deh. Sorry kalo ngawur, akhir-akhir ini gw lagi seneng ngacapruk wehehehe….

        *Di bandung kemaren gw sempet baca Jurnal Perempuan yg topiknya ngebahas soal Perempuan di ranah seni pertunjukan. Sayangnya dompet gw wkatu itu tipis banget. U punya bukunya ga, ndri? hehehe….. (tawa licik)

      2. Gw sepakat perbedaan “job description” itu hanya pembagian tugas sesuai kemampuan semata, bukan ketidakadilan yang patut diributkan. Karena faktanya (gw mengamini kata lu) laki-laki dan perempuan tidak bisa disamakan.
        Gw juga percaya pasti menjadi laki-laki pun memiliki keunikan dan kesulitan tersendiri, seperti halnya perempuan. Sayangnya, wilayah kajian gw fokus terhadap perempuan dan isu-isu di sekitarnya karena lebih mudah gw pahami dari segala sisi. Intinya, menulis tentang perempuan jauh lebih mudah buat gw sebagai perempuan karena wilayah kajiannya dekat dengan gw. Iya, subjektif memang. Tapi gw rasa semua orang akan menaruh (atau dengan licik menyelipkan) subjektivitas dalam setiap gagasan yang diungkapkannya. 😀

        Sejujurnya, gagasan gw tentang feminisme juga (masih) mengalami perubahan seiring dengan bertambahnya pengetahuan dan pendalaman makna atas kedirian sebagai perempuan. Sampai saat ini proses itu masih terus berkembang.

        Balik lagi ke masalah perempuan dan laki-laki. Gender itu kan kontruksi sosial yang (mestinya) bisa dinegosiasikan. Ketika gw menulis hal-hal seperti di atas, sama sekali tidak ada tendensi untuk memojokkan kaum laki-laki. Itu tidak lebih hanya reaksi gw atas kecemasan terhadap ketimpangan yang gw rasakan dan upaya untuk menegosiasikan kepada pembaca (yang berinteraksi dengan gw pastinya). Lagi-lagi ini subjektif karena ketimpangan yang gw rasakan belum tentu sama dengan yang dirasakan oleh perempuan lain dalam kelompok lain. Feminis itu kan lahir dengan konteks tertentu; agama, budaya, lingkungan, sejarah, dll. Jadi tiap feminis pasti terbentuk dengan konteks yang berbeda, spesifik.

        Ini kayanya gw ngacapruk juga deh, hahaha. Tp gw sepakat kalau segala perbedaan antara laki-laki dan perempuan adalah suatu hal yang romantis dan dahsyat. Tergantung negosiasinya juga, pastinya. 😀

        Wah, anda belum beruntung, Brok. Gw gak punya bukunya. Kalau nanti akhirnya lu punya, gw pinjem ya… 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s