To be A Woman

Sore ini kedua kalinya saya mengikuti kuliah Studi Humanika tentang ragam feminisme oleh Ibu Aquarini Priyatna. Setelah minggu lalu membahas tentang “Gelombang, Aliran dan Konsep Pembentukan Feminisme Liberal, Radikal, dan Marxis”, minggu ini pembahasan fokus kepada feminisme psikoanalisis dan eksistensialis. Saya tidak (belum) akan membahas mengenai materi dalam kelas tersebut karena saya perlu mempelajari lebih banyak lagi tentang teori-teori yang njelimet itu. 😀

Saya hanya ingin membahas hal yang mendasar yang cukup mengganggu ketentraman berpikir. Minggu lalu, ketika berusaha mencari lokasi kuliah, saya bertanya pada seorang perempuan yang sepertinya mahasiswi di kampus tersebut. Dia pun berbaik hati untuk mengantarkan saya hingga ke ruangan yang saya tuju. Dalam perjalanan menuju ruangan tersebut, dia bertanya “kenapa tertarik ikut kajian itu?”

Saya sempat terdiam beberapa detik, bingung harus memberi jawaban apa atas pertanyaan itu, sedangkan waktu yang saya punya untuk menjawab mungkin tidak sampai 2 menit. Oke, saya memutuskan untuk memberi jawaban singkat “pengen aja”. Seperti dugaan saya, dia memberikan pertanyaan lanjutan “kenapa pengen?”. Untunglah kami sudah tiba di lokasi sebelum saya sempat menjawab pertanyaan kedua.

Namun pembicaraan singkat dengan pertanyaan yang tak sempat terjawab itu membuat saya termenung memikirkannya. Sambil menunggu kuliah dimulai, saya mencoba menelaah pertanyaan yang diajukan mahasiswi tadi. Seperti biasa, saya berasumsi.

Feminisme, seperti yang sering saya dengar, adalah “barat” dan identik dengan pemberontakan perempuan serta obsesi perempuan untuk menjadi “laki-laki”. Sehingga ketika seseorang berbicara feminisme, maka reaksi yang umum terjadi adalah memicingkan mata dan kemunculan berbagai frase seperti seks bebas, lesbian, dan hal-hal lain yang negatif. Kemudian muncullah ketakutan-ketakutan dalam masyarakat dan inisiasi untuk mencegahnya karena merasa memiliki “tugas sosial” untuk memastikan segalanya sesuai jalur. Memang ada sebagian orang yang akhirnya memilih hal-hal yang dinilai negatif di atas berdasarkan sejarah dan konteks feminisme yang membentuknya.

Saya sendiri mendapat respon kurang positif ketika teman-teman dekat mendapati saya sedang sangat antusias terhadap kajian-kajian tentang perempuan, apalagi ketika melihat saya sedang larut dalam buku-buku tebal tentang feminisme. Saya bisa membaca ketakutan mereka bahwa saya akan “menyimpang” dari jalan hidup yang “baik dan benar”. Entah apa yang akan dipikirkan oleh orang tua saya jika mengetahui hal tersebut. Mungkin akan kebakaran jenggot seperti ketika saya menyampaikan keinginan untuk melanjutkan kuliah di bidang filsafat; mereka takut anaknya menjadi tidak beragama.(FYI, saya tidak meneruskan niat kuliah tersebut karena tidak mendapat restu dan belum punya cara untuk meyakinkan kedua orang tua saya, dan minat saya berubah. :p).

Kembali lagi pada persoalan mengkaji feminisme. Saya sebut persoalan karena memang begitu adanya, setidaknya dalam kontruksi sosial yang saya hadapi. Saya dibesarkan dalam patriarki yang cukup kuat, meskipun entah bagaimana caranya kemudian saya tumbuh menjadi “tidak biasa”. Namun tetap saja, saya adalah perempuan yang hidup dalam dunia yang penuh laki-laki. Dan belajar tentang feminisme berarti menyalahi apa yang masyarakat sebut dengan “kodrat”.

Entah bagaimana cara memberikan pemahaman kepada orang lain bahwa “feminisme berarti benci laki-laki” atau “feminisme itu pasti lesbian” hanyalah mitos. Sulit untuk menyampaikan sesuatu yang saya sendiri masih mencari. Tetapi menjadi perempuan, seperti juga menjadi individu, menurut saya, adalah sebuah proses yang panjang. Proses ini tentu akan berbeda pada setiap orang, tidak dapat diseragamkan. Dan saya masih ada di dalam proses untuk mencari dan menjadi perempuan sebagai satu individu yang sadar sepenuhnya atas keberadaannya di dunia ini.

Sayangnya, kontruksi sosial kita tidak menempatkan proses pencarian seorang perempuan menjadi sebuah proses yang “normal”. Ketika seorang perempuan butuh memaknai lebih dalam tentang kediriannya akan dinilai sebagai suatu hal yang terlalu berat, terlalu tinggi, terlalu neko-neko dan beresiko.

Kita hidup dalam aturan bahwa laki-laki harus lebih pintar, lebih kuat, penghasilan lebih tinggi dari perempuan. Sehingga jika perempuan mampu melampaui kemampuan laki-laki berarti sebuah pelanggaran yang seolah tidak termaafkan dan merusak kestabilan kehidupan berelasi antara perempuan dan laki-laki. Ini terlalu dangkal, menurut saya.

Suatu ketika seorang teman (laki-laki) berbicara kepada saya “jangan terlalu mikir, kamu gak takut nanti laki-laki takut sama kamu gara-gara kamu terlalu ‘tinggi’?”. Dia berbicara seperti itu karena menilai saya sebagai seorang kritis dan sering mempertanyakan banyak hal yang menurut dia tidak perlu dipertanyakan, setidaknya oleh perempuan. Dia juga menambahkan bahwa dia, sebagai laki-laki, tidak akan memilih perempuan seperti saya untuk menjadi pendampingnya.

Saya rasa wajar jika akhirnya dia berpendapat seperti itu karena dia hanya melihat saya dari luar dan tidak berusaha menggali dan memahami pemikiran saya lebih dalam. Dari pengetahuannya yang terbatas atas diri saya, dia melihat saya sebagai perempuan yang tidak akan mau kalah dan selalu ingin jadi pemenang dalam relasi bersama laki-laki, dan juga tidak mau mengerjakan pekerjaan domestik sebagaimana perempuan seharusnya. Saya tidak marah pada teman saya, saya hanya tersenyum dan bilang “tenang saja, saya tidak akan menikah dengan laki-laki yang berpikir seperti kamu”.

Ibu saya juga sempat khawatir terhadap saya karena saya terlalu “aktif” bahkan dibandingkan kakak saya yang seorang laki-laki. Beliau khawatir saya akan membuat standard tinggi untuk kriteria pendamping saya yang kemudian beliau sampaikan secara aneh dengan kalimat yang diucapkan berulang-ulang “jangan terlalu pilih-pilih”. Sejujurnya saya tidak dapat memahami pola pikir ibu saya dengan mengatakan kalimat tersebut. Mungkin begitu juga ibu saya; tidak dapat memahami pola pikir saya kenapa belum menikah juga sampai usia sekarang, bahkan tidak terlihat punya pacar selama 3 tahun belakangan. Dan sekarang mengkaji feminisme.

Sepertinya PR saya cukup besar untuk menjelaskan mengapa saya tertarik dengan isu feminisme, lebih besar lagi jika harus menjelaskannya pada orang yang tidak mau membuka pikiran bahkan untuk sekedar tahu. Entah bagaimana menjelaskan pada orang-orang terdekat saya bahwa feminisme itu beragam dan kontekstual, bahwa feminisme adalah pilihan yang sangat subjektif sekalipun banyak teori yang mewakili kelompok tertentu, bahwa feminisme bukan sekedar benci laki-laki atau menjadi laki-laki. Dan menjadi feminis adalah pilihan. Ibu Atwin sendiri seorang feminis yang menikah dan punya anak, beliau juga berpenampilan sangat feminin (setidaknya dalam dua kuliah yang saya datangi) dengan memakai rok.

Menjadi feminis, setidaknya bagi saya saat ini, adalah upaya untuk memaknai keberadaan saya di dunia ini. Menjadi feminis adalah upaya untuk sepenuhnya sadar dalam menjalankan peran sebagai subjek maupun objek. Menjadi feminis adalah upaya menciptakan kehidupan yang seimbang antara perempuan dan laki-laki dengan fleksibilitas perlintasan gender, membebaskan diri saya (sebagai perempuan) dan laki-laki dari konstruksi gender yang kaku. Being a feminist is not to be a man, it is to be a woman.

 

 

*Tulisan ini, seperti tulisan saya yang lain adalah dokumentasi pemikiran saya pada saat ini yang mungkin akan berubah, mungkin juga konsisten. Saya menulis ini supaya saya dapat melihat perkembangan pemikiran saya sendiri. Tapi sepertinya tulisan ini harus bersambung dulu karena saya mulai pusing :p.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s