Relasi Subjek-Objek

Pertemuan dua kesadaran tidak akan pernah mempunyai dasar yang setara; subjek-subjek, melainkan subjek-objek. Pada satu kondisi seseorang akan menjadi subjek dan mengobjektivikasi yang lain, namun pada kondisi yang lain ia akan menjadi objek dari subjektivitas orang lain. Kekacauan terjadi ketika salah satu menjadi dominan dan mereduksi subjektivitas yang lain.

Tetapi relasi subjek-objek mestinya bukan relasi yg statis, melainkan bersifat dialektika yg saling membutuhkan untuk saling mengakui subjektivitas masing-masing. Tidak ada subjek tanpa objek. Seseorang menjadi subjek ketika ia direfleksi oleh objek, akhirnya akan ada “me-” & “di-“. Memang begitu relasinya.

“Saya begini, kamu begitu” adalah pengakuan terhadap subjektivitas dengan menegasikan objek, sehingga potensi konflik dalam relasi sangat besar. Setiap orang memiliki hak dan kebebasan untuk melakukan sesuatu. Tetapi tidak ada kebebasan yang mutlak di dunia ini, tidak ada kemandirian yang absolut, tidak juga dengan subjektivitas. Setiap hak seseorang akan bersinggungan dengan hak orang lain, setiap subjektivitas akan bersinggungan dengan subjektivitas orang lain.

Harmoni dapat tercipta dengan melakukan perlintasan peran, menjadi subjek atau objek seharusnya kesepakatan antara dua kesadaran. Ketika seseorang secara sadar melakukan perannya sebagai objek, justru ia tidak sedang diobjektivikasi oleh orang lain. Kondisi ini sama sekali tidak menghilangkan subjektivitasnya, melainkan kematangan dirinya untuk bersikap adil dan bijaksana terhadap dirinya maupun orang lain. Ia tahu kapan harus menjadi subjek dan kapan harus menjadi objek.

Tetapi dasar ini seharusnya sama-sama dipahami oleh dua kesadaran dalam membentuk relasinya. Jika dasarnya berbeda, interval konflik makin pendek, benturan pemikiran akan lebih sering terjadi. Kalau sudah begitu, relassi yang terjalin hanya akan menyebabkan opresi bagi kedua belah pihak. Masing-masing akan merasa tidak dihargai sebagai subjek yang juga punya kebutuhan untuk menghidupkan subjektivitasnya.

Nah, diperlukan kemampuan dalam menyampaikan dan menerima gagasan sehingga mereduksi peluang kegagalan dalam memahami satu sama lain. Sayangnya, jika kita bicara relasi perempuan dan laki-laki, komunikasi seringkali menjadi hal yang sulit. Bukan sulit untuk dilakukan, tetapi sulit untuk membuat informasi yang disampaikan tetap utuh dari pemberi ke penerima informasi.

Saya seringkali merasa gagal dalam menyampaikan gagasan dan perasaan saya, kemudian dengan frustasi berkata “kenapa sih gak bisa ngerti?”. Padahal di sisi lain, dia merasa yang sama. Itu membuat saya lebih frustasi lagi karena gagal memahami maksud yang ingin disampaikan olehnya.

Perempuan dan laki-laki menggunakan “bahasa” yang berbeda dalam berkomunikasi, begitu juga dalam pengolahan informasi yang diterima. Keadaan bahwa perempuan yang katanya lebih sering menggunakan perasaan dan laki-laki yang lebih menggunakan logika, bahwa laki-laki realistis dan perempuan metaforis, menghasilkan sebuah jurang di antara keduanya. Solusinya, ya keduanya perlu terjun ke dalam jurang itu.

Satu hal yang perlu diingat adalah bagaimana kita memahami perbedaan “bahasa” yang digunakan, lalu menjabarkan sejelas-jelasnya sehingga tidak ada asumsi yang (kenyataannya) seringkali salah. Kelenturan dalam menerima kondisi orang lain juga menjadi penting dalam menjaga keharmonisan suatu relasi. Ya, sepertinya saya harus belajar banyak untuk itu, kamu?

Advertisements

One thought on “Relasi Subjek-Objek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s