Membaca “Tapi”, Memaknai Kekecewaan

Tapi

aku bawakan bunga padamu
tapi kau bilang
masih
aku bawakan resah padamu
tapi kau bilang
hanya
aku bawakan darahku padamu
tapi kau bilang
cuma
aku bawakan mimpiku padamu
tapi kau bilang
meski
aku bawakan dukaku padamu
tapi kau bilang
tapi
aku bawakan mayatku padamu
tapi kau bilang
hampir
aku bawakan arwahku padamu
tapi kau bilang
kalau
tanpa apa aku datang padamu
wah!

1976

Sutardji Calzoum Bachri

Dialog Satu Arah

Membaca “Tapi” adalah membaca dialog satu arah antara Aku dan Kau, dialog yang sunyi, pedih, dan menuntut. Dialog yang hanya menjadi gema tanpa sahutan. “Tapi” tak lebih dari sekedar monolog Aku yang ingin diperdengarkan kepada Kau. Sayangnya, Kau hanya diam. Kemudian “Tapi” menjadi jarak tanpa ujung bagi Aku dan Kau.

Setiap kalimat (kecuali kalimat terakhir) dalam puisi ini selalu diawali “Aku bawakan…”, kalimat ini menunjukkan hanya Aku yang melakukan aktivitas, Kau tak lebih dari komentar yang dituturkan kembali oleh Aku. Aku bergerak dinamis, sedangkan Kau statis. Aku berusaha meraih Kau, Kau diam menunggu. Meskipun demikian, larik-larik puisi di atas justru secara implisit memperlihatkan keputusasaan Aku untuk meruntuhkan kuasa Kau.

Bagi saya, puisi ini mengandung kekecewaan yang dalam. Saya melihat kekecewaan itu dalam setiap lariknya. Meskipun Aku melakukan segalanya, selalu ada “Tapi” di sana, selalu tidak cukup. “Tapi” adalah penyangkalan akan penerimaan dan penegasan untuk segala kekurangan. Kau menciptakan ketidaksempurnaan dengan menghadirkan “Tapi” pada jarak antara Aku dan Kau. Meskipun puisi ini tidak memiliki satu pun kalimat pertanyaan, saya justru merasai setiap kalimatnya adalah pertanyaan yang cenderung menuntut.

Ketika membaca “aku bawakan dukaku padamu tapi kau bilang tapi”, saya kira Aku tidak sekedar sedang memberitakan bahwa Kau hanya berkata “Tapi” untuk duka yang dibawanya. Lebih dari itu, Aku bertanya (dan menuntut) mengapa Kau hanya berkata “Tapi”, mengapa Kau tidak dapat berbuat lebih dari sekedar merisaukan “Tapi”?

Puisi ini juga tentang keyakinan dan keraguan. Sepertinya Aku cukup tangguh dan pantang menyerah, awalnya. Aku bertahan meski tak pernah mendapat jawaban dari Kau, meski Kau tak tersentuh. Aku memiliki keyakinan yang kuat terhadap Kau sehingga Aku tetap menghadirkan dirinya dalam ruang milik Kau dan mempercayai eksistensi Kau dalam ruang milik Aku. Meskipun tak pernah bertemu. Meskipun Kau ragu atas keyakinan Aku, meskipun selalu ada “Tapi”.

Relasi Subjek-Objek

Sekalipun Sutardji menghadirkan Aku sebagai subjek, “Tapi” justru menjadikan Aku sebagai objek dalam kesempurnaan yang diinginkan oleh Kau. Aku telah mereduksi subjektivitasnya demi pengakuan Kau terhadap keberadaannya. Aku dengan sadar menjadi objek demi kesempurnaan yang bukan miliknya.

Namun bahkan puisi ini pun bukan milik Aku. “Tapi” adalah milik Kau, Aku sama sekali tidak memiliki hak atau kuasa untuk menghilangkannya, justru semakin kuat terikat dengan bayang-bayangnya. Aku bahkan tidak mampu memaknai kehadiran “Tapi” dalam kesempurnaan Kau, sehingga Aku frustasi dan menyerah.

Puisi yang tragis. Karena setelah perjuangan Aku mempersembahkan banyak hal bagi Kau, ternyata tidak pernah menjadi apa-apa. Hingga pada akhir puisi, Aku tidak lagi mampu memberikan apa-apa untuk Kau. Setelah itu, tidak ada lagi “Tapi” di sana, tidak bagi Aku. “Tapi” hanya milik Kau.

Memaknai “Tapi”

Tentu kita tidak asing dengan kata “Tapi”. Ada yang mengenalnya sebagai kata yang tidak terlalu berarti, sehingga dengan sembarang bisa menempatkannya begitu saja dalam sebuah kalimat. Ada yang memaknainya sebagai sebuah kata sakral yang harus ditempatkan dengan hati-hati.

“Tapi” sendiri berfungsi sebagai kata penghubung intrakalimat/antarkalimat/antarparagraf untuk menyatakan hal yang bertentangan atau tidak selaras. Dalam fungsinya tersebut, “tapi” menampilkan ironi dalam kalimat yang meminangnya. Lebih jauh lagi, “tapi” berfungsi sebagai kata bantu untuk menyatakan keragu-raguan, kebimbangan atas pertimbangan yang tidak tuntas.

Ada yang menafsirkan puisi “Tapi” ini sebagai salah satu bentuk relasi manusia dengan Tuhan. Sutardji yang direfleksikan sebagai tokoh Aku, melalui puisi ini menyadari keterbatasannya sebagai manusia. Sebaliknya, Tuhan adalah kuasa yang bisa menilai cukup atau tidak upaya manusia untuk datang pada-Nya dan menghadirkan-Nya.

Saya melihatnya sebagai kondisi yang lebih umum. Kita (sebagai Kau) seringkali mengalami keraguan dan ketidakpuasan terhadap apa yang dilakukan oleh orang lain (sebagai Aku). Sehingga kita selalu melihat kekurangan dari upaya orang lain dan membuat orang lain lelah dan menyerah untuk berusaha, seperti tokoh Aku dalam puisi tersebut yang akhirnya menyerah.

Kita juga mungkin pernah berada dalam posisi tokoh Aku yang merasa kecewa karena tidak mendapat penghargaan atas apa yang sudah dilakukan. Setiap usaha selalu dinilai kurang tanpa mendapat petunjuk yang jelas untuk menyempurnakannya. Kemudian perkara menilai-dinilai ini menjadi tidak adil karena memang tidak ada kriteria penilaian yang dinyatakan dengan jelas.

Dalam puisi “Tapi”, Kau hanya memberi petunjuk  berupa kata-kata yang menggantung, seperti “masih, hanya, cuma, meski, tapi, hampir, kalau”. Mungkin sebenarnya tokoh Kau ingin agar tokoh Aku dapat menguraikan kata-kata tersebut menjadi sebuah pemahaman yang dapat mendekatkan mereka. Namun bisa juga ternyata kata-kata tersebut adalah pagar permanen yang membatasi mereka, sehingga sampai kapanpun tokoh Aku berusaha, tidak akan pernah berhasil melampaui pagar itu.

Sayangnya, seperti yang saya bilang di atas, puisi ini adalah dialog satu arah. Kita hanya melihat dari sisi yang ditonjolkan oleh tokoh Aku. Sedangkan jawaban dan tanggapan Kau atas “tuntutan” Aku menjadi misteri yang oleh Sutardji dibebaskan untuk ditafsirkan pembaca. Saya rasa Sutardji pun membebaskan pembaca untuk memaknai “Tapi” dari sudut pandang sebagai Aku atau sebagai Kau, atau tidak dari keduanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s