Kepada si Ratu Drama

Hidup ini novel.

Seseorang pernah berkata seperti itu pada saya beberapa tahun lalu, berkali-kali. Dia meyakinkan saya bahwa kita memang hanya sebuah tokoh dalam novel. Dia perlu berkali-kali meyakinkan saya karena dia sedang membawa saya pada cerita novel di mana ia jadi tokoh utamanya. Saya bilang saat itu supaya tidak lagi menyeret saya karena saya sudah lelah dengan berbagai cerita tidak masuk akal darinya. Namun dia mengatakan bahwa bukan dia yang sedang menuliskannya, melainkan entah siapa.

Saya putus asa untuk terus membuat lompatan dari satu cerita ke cerita yang lain. Sedangkan saya memiliki novel sendiri untuk saya resapi tiap halamannya. Dia yang datang setiap saat membuat saya mulai curiga; jangan-jangan ini justru novel saya sendiri. Jalani saja, katanya, kelak kita akan tahu akhirnya. Saya muak tapi penasaran. Kemudian saya mendapati diri saya menghilang di dua halaman terakhir, dan saya yakin bahwa ini memang novel saya sendiri karena saya akhirnya bersikap sebagai subjek yang juga menentukan alur cerita, bukan sekedar tokoh kedua atau ketiga yang pasrah mengikuti alur yang diciptakan tokoh utama. Saya bersikap.

Hidup ini novel. Seperti yang pernah saya tulis; kita bisa menjadi tokoh utama dalam novel kita sendiri, lalu menjadi tokoh yang tidak begitu berarti dalam novel orang lain, kita sadari maupun tidak. Kita membuat alur cerita untuk orang lain dalam kehidupan kita, dengan demikian kita dapat menakar besar kecil pengaruh tokoh tersebut untuk kehidupan kita. Orang lain pun melakukan hal yang sama pada kita. Wajar saja, saya rasa. Itu namanya novel kehidupan.

Lalu bagaimana dengan novel sungguhan? Bolehkah kita menulis novel dengan menyisipkan sebagian cerita orang lain di dalamnya? Tergantung. Novel adalah cerita fiksi. Ada sebagian novel yang memang diangkat dari kisah nyata, namun tetap saja dibumbui fiksi untuk membuat dinamika cerita menjadi lebih menarik. Bumbu-bumbu yang dikhususkan membuai pembaca. Saya sendiri tidak tahu hukumnya apakah boleh menuliskan kisah orang lain tanpa seizin pemilik cerita, sekalipun dibumbui fiksi. Tapi menurut saya, itu tidak etis.

Saya sendiri pagi ini mendapati diri saya ditempatkan secara sembarang dalam cerita seorang Ratu Drama, cerita yang 20% benar dan selebihnya adalah bualan. Entah demi mencari perhatian pembaca atau memang penulisnya memiliki kepuasan tersendiri terhadap skenario tersebut. Biasanya sebuah tulisan fiksi itu sedikit banyak merepresentasikan keinginan penulis di dunia nyata yang tidak dapat terwujud. Apapun itu, jujur saja, saya tidak peduli. Saya tidak tertarik pada kehidupan penulis cerita tersebut.

Namun demikian, saya tidak dapat menerima dengan senang hati bahwa cerita saya dikisahkan oleh orang lain yang sama sekali tidak tahu apa-apa tentang cerita tersebut. Loh kenapa marah? Itu kan 80% fiksi. Memang. Lalu siapa yang membaca cerita-cerita tersebut? Lingkaran utama dalam kehidupan penulis yang mana adalah lingkaran kedua dalam kehidupan saya. Tulisan yang tidak utuh akan menuai asumsi pembaca. Lalu karena pembaca tahu bahwa cerita tersebut diangkat dari kisah nyata, maka mulailah mereka-reka kehidupan orang lain tanpa dasar yang jelas. Pembaca memiliki hak untuk menginterpretasikan bacaannya, memang. Tetapi jika kemudian menempelkannya secara sembarang pada kehidupan orang lain, siapa yang dirugikan?

Saya rasa menjadi penulis, penulis apapun, memiliki tanggung jawab untuk mencerdaskan pembaca. Entahlah, rasanya saya sudah habis kesabaran menghadapi orang yang selalu mencampuri urusan orang lain dan membuat asumsi sekenanya terhadap orang lain. Saya tidak peduli jika penulis mengarang-ngarang cerita untuk menarik perhatian orang lain dan membuat orang lain berasumsi tentang diri penulis. Namun saya merasa berhak untuk tidak suka dan marah jika seseorang membuat orang lain berasumsi tentang diri saya. Apalagi jika asumsi itu terbangun dari cerita-cerita penuh rekayasa.

Tapi saya tentu tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengungkapkan kemarahan dan ketidaknyamanan saya akibat ulah orang lain. Saya marah pun tidak akan membuatnya lantas diam dan berhenti. Saya rasa tidak demikian. Kemarahan saya hanya akan menjadi bahan tulisan atau bualan berikutnya untuk menarik (lagi) perhatian orang lain. Ah, sudahlah. Hidup ini seru ya? Seringkali membuat kita sadar bahwa kita tidak bisa mengatur orang lain untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu pada kita.

Hidup ini memang novel. Sayangnya, bukan kita yang sedang menuliskannya.

*kepada seseorang yang entah harus saya sebut apa, mungkin ratu drama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s