Sembarangan si Sampah

Merubah kebiasaan. Maksudnya bukan bikin hewan rubah jadi kebiasaan, tapi maksudnya adalah merubah kebiasaan. Itu bukan hal yang mudah. Jangan soal itu bikin rubah kebiasaan masyarakat, bikin rubah kebiasaan sendiri saja susahnya setengah mati. Lalu kenapa saya membahas soal kebiasaan? Bukan. Bukan saya ingin membahas kebiasaan kamu mengupil dan menempelkannya di tembok. Sekalipun menurut kamu itu bisa jadi maha karya, tapi menurut saya itu aneh. Karena kalau kamu ingin itu upil jadi maha karya, alangkah kamu sangat hebat kalau itu upil menempel pada Apollo bikinan kamu, sehingga, siapa tahu, itu upil bisa ke bulan. Tapi itu terserah kamu teman, karena itu upil kamu, bukan upil saya.

Sekali lagi saya tidak akan membahas upilmu yang mungkin suatu saat nanti, siapa tahu, benar-benar akan ke bulan. Tapi saya ingin membahas kebiasaanmu yang lain. Kebiasaanmu yang kau anggap sepele, padahal yang sepele itu bisa jadi hal yang besar. Mungkin kamu pernah duduk di sana, di bangku Sekolah Dasar, di mana ibu guru bilang bahwa sedikit-sedikit bisa jadi bukit.

Apakah kebiasaan itu yang ingin saya bahas? Itu adalah soal membuang sampah sembarangan. Basi. Memang. Untuk apa sih si saya ini repot-repot membahas soal sampah padahal sedang ujian akhis semester. Seperti kurang kerjaan, tetapi memang saya kurang kerjaan. Pasti kamu juga tidak mau repot urus itu sampah, kan ada itu akang-akang yang bahkan kamu tidak kenal namanya, yang memang dibayar untuk itu. Untuk apa? Ya untuk bersih-bersih. Bersih-bersih sampah yang kamu buang itu di pojok kelas, di lorong-lorong, di got samping, Di mana-mana.

Kamu kan tidak dibayar untuk itu. Kamu jauh-jauh dari rumah ke kampus itu tidak dibayar, melainkan kamu bayar. Kamu bayar untuk belajar, untuk mengerjakan tugas, untuk punya teman, untuk dapat nilai, untuk nongkrong, untuk demo, untuk seperti mahasiswa. Iya itu kamu bayar untuk semuanya. Jadi tidak perlulah kamu pikir-pikir soal sampah, meskipun itu bisa bikin banjir, bikin kotor yang lalu bikin rupa-rupa penyakit. Macam balon rupa-rupa warnanya. Apa itu namanya? Iya itu demam berdarah. Iya cikungunya juga. Iya betul malaria. Iya tidak usah dipikirkan. Walaupun bikin kematian.

Kamu pasti sibuk. Seperti mahasiswa yang dibilang sejati. Sibuk memikirkan tugas yang bisa bikin kamu pintar. Memang harus pintar, biar bisa protes kalau pemerintah salah. Jadinya kamu sibuk perhatikan itu pemerintah. Terlalu sibuk jadi tidak tahu apa yang ada di sana. Tempat sampah yang ada di sana. Di mana? Di sana, di depan kampus tempat kamu duduk-duduk mengobrol dan berkarya, di kantin tempat kamu beli rokok, kopi dan choki-choki, di belakang tempat kamu sembunyi-sembunyi berduaan, di bangku samping tempat kamu tertawa-tawa seperti tidak punya masalah. Mungkin kamu memang tidak punya.

Jadi kamu tidak sempat memperhatikan padahal itu mereka ada di sana. Di mana-mana. Di mana-mana mata memandang. Tapi dia seperti hantu ya? Jadi kamu tidak lihat dia ada di sana. Berarti bukan salah kamu kalau kamu jadi tidak lihat. Bukan salah kamu juga kalau jadi buang itu sampah di tempat yang sembarangan, yang kamu suka. Bukan salah kamu kalau jadi tidak mau disalahkan. Tidak ada yang mau disalahkan. Itu normal.

Tapi tidak salah, bagus malah, kalau kamu jadi tidak normal. Tidak normal karena kamu tidak mau membuang sampah sembarangan. Tidak apa-apa, keren malah, kalau kamu bisa itu bikin kampus jadi bersih. Biar jadi cantik, seperti kamu pakai baju yang bagus setiap hari. Biar indah, seperti kamu yang selalu berkaca di kamar mandi wanita. Itu tidak apa-apa, pahala malah, kalau kamu bikin ringan itu tugas akang-akang yang nyapu pagi dan malam.

Saya tahu kamu sibuk. Karena saya juga sibuk. Saya sibuk pacaran, sibuk mencontek tugas, sibuk bergosip. Saya sibuk buat itu semua. Tapi saya yakin teman-teman masih sempat membuka-buka bulletin buatan teman kita yang juga sibuk ini. Saya juga yakin teman-teman sempat membaca tulisan-tulisan dari halaman satu sampai habis. Maka boleh saja saya berharap teman-teman juga sempat membaca tulisan ini. Boleh saja saya juga berharap itu tempat sampah jadi berguna. Jadi tidak sekedar jadi pajangan. Boleh saja saya berharap kampus jadi bersih. Jadi indah. Boleh saja saya berharap. Boleh kan? Harus boleh.

Teman, sesungguhnya saya tidak bermaksud menggurui, karena saya bukan guru. Saya juga sadar bahwa saya juga mahasiswa biasa, bukan manusia sempurna. Karena yang punya sempurna itu Andra and The Backnone. Maka maafkan saya jika kamu tidak suka. Tapi tolong jangan benci, karena benci bisa jadi cinta.

 

Indri Guli

Deket tumpukan sampah

290110

 

*tulisan ini pernah dimuat dan memenangkan lomba penulisan buletin kampus “Kredo”. Aneh karena tulisan ini merusak tatanan penulisan yang baik dan benar, kata pertama dalam tulisan ini saja sudah menyalahi EYD, hahaha. Tapi semoga “keunikan” tulisan ini tidak mengurangi substansi yang ingin disampaikan. Mungkin karena “keunikannya” tulisan ini juga bisa menang lomba, atau karna kebaikan redaktur? 😀

 

Advertisements

2 thoughts on “Sembarangan si Sampah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s