Sepenggal Kisah: Si Kecil Heri

Kisah ini pernah saya posting di salah satu blog saya yang lain), saya pindahkan ke sini supaya tidak tercecer. Kisah ini adalah tentang seorang anak yang mengamen di Sukabumi. Semoga bermanfaat. 🙂

* * *

Seorang anak sedang lahap menikmati makanannya. Sebungkus nasi dan ayam, terlihat satu merk junkfood di kemasan plastik. Sangat kontras. Tangan si anak yang dekil menyentuh butir-butir nasi yang putih, dan sebuahkecrekan tergeletak pasrah mendampingi sang tuan yang sedang kelaparan.Kecrekan itu selalu menemani tuannya menyusuri jalan-jalan aspal, tidak lepas saat menjejal pintu-pintu angkutan kota. Kecrekan itu pendamping setia saat suara nyaringnya meminta perhatian dari para penumpang.

Tidak sadar saya memperhatikannya. Ada perasaan yang menelusup diantara ketakjuban dan rasa prihatin, entah apa namanya, hampir tidak terdefinisikan. Heri, nama anak ini. Saya duga umurnya tidak lebih dari 7 tahun. “6 tahun”, katanya. Entah dia sudah bisa menghitung umurnya sendiri atau tidak, saya malah ragu dia tahu hari lahirnya. Kulit anak hitam tidak terawat, rambutnya kemerahan, bukan karena hasil kerja salon yang harganya ratusan ribu, tetapi karena matahari yang setiap hari tanpa ampun “memanggang” si kecil heri. Ternyata Heri menangkap mata saya yang sedang memperhatikannya, dia pun berkata lugu sambil menyodorkan ayam ditangannya, “mau teh?” Saya hanya tersenyum.

Kemudian saya sedikit merenung. Sedikit heran melihat Heri memilih junkfood sebagai makan siangnya, sedangkan saat itu saya hanya membeli nasi bungkus di warteg. Menu kami sama-sama ayam goreng, tapi tentu saja makanan di hadapan Heri lebih bergengsi dengan kemasan yang bagus, dibandingkan makanan saya yang hanya dibungkus kertas nasi seadaanya. Saya tidak bicara soal kesehatan, toh Heri, begitupun saya, tidak mengerti seberapa kandungan gizi maupun penyakit yang ada di dalamnya. Atau bahaya apa yang terdapat dalam keduanya.

Sekali lagi saya heran. Apa alasan Heri memilih makanan itu. Apa yang ada dalam pikirannya? Gengsi kah? Atau hanya sekedar keingingan untuk merasakan sesuatu yang dianggapnya mewah? Saya sempat menanyakannya, anak lugu itu menjawab dengan santai “ngga apa-apa teh, kan murah”. Sesederhana itu.

Saya tidak khawatir terhadap harga makanan tersebut yang murah atau mahal. Tetapi saya memperhatikan Heri selama satu hari tersebut terus-terusan jajan. Ada saja jajanan yang dia beli, mulai dari makanan berat, buah, es, mungkin menghabiskan sebagian besar atau seluruh hasil mengamennya hari itu. Seorang temang saya mengingatkan Heri untuk menabung dan tidak terlalu banyak jajan, dan anak itu hanya tersenyum nakal.

Saya mencoba mengalihkan perhatian Heri dari jajan, saya ajak dia belajar mewarnai, dia bersemangat mengiyakan ajakan saya. Wajahnya menjadi serius saat sebuah gambar ada di hadapannya, jari-jari kecil Heri sibuk menggoreskan warna-warna crayon, meskipun hasilnya jauh dari rapi, tapi Heri terlihat menikmati prosesnya, dan saya menikmati ekspresi wajah Heri saat itu. Entah ada penyebabnya atau tidak, tetapi Heri senang menggunakan warna kuning.

Kemudian saya menawarkan untuk belajar membaca, kali ini ekspresi Heri tidak seantusias sebelumnya. Rasa malas tersirat di wajahnya yang bulat. Heri menggeleng tanda tidak setuju dengan usul saya.

Heri tidak sekolah. Meskipun dia memakai celana seragam merah, tetapi dia tidak pergi ke sekolah, setidaknya dalam beberapa bulan ini. Heri tidak lagi berminat untuk sekolah dan memilih mengamen setiap hari. Heri bahkan tidak memiliki cita-cita. Itu yang dia ucapkan pada saya, sayang saya tidak bisa membaca isi hati maupun pikirannya. Tetapi yang jelas, saya tahu Heri terlanjur kecewa pada lingkungan pendidikan, pada guru dan teman-teman sekolahnya.

Saya mengorek sedikit cerita tentang rasa kecewanya. Heri, walaupun tampak enggan, akhirnya bercerita juga. Cerita yang sangat singkat, tapi membuat saya sedikit mengerti. Heri sempat terdaftar sebagai siswa di salah satu Sekolah Dasar, dan seperti anak-anak seusianya, Heri bersemangat untuk mengikuti pelajaran. Namun ternyata proses belajar di bangku sekolah tidak semudah membalik telapak tangan.

Hal yang biasa terjadi jika seorang anak mengalami kesulitan menangkap pelajaran, selama masih dalam batas normal, dalam arti tidak mengalami gangguan fungsi otak atau apapun itu. Saya tidak mengerti mengenai hal tersebut, tetapi dalam pengamatan saya selama tiga hari, Heri memiliki kemampuan yang sama dengan anak-anak lain seusianya, hanya saja butuh perhatian lebih untuk memacu semangat Heri. Menurut saya, guru lah yang punya peranan untuk hal itu di sekolah. Sikap yang bijaksana dalam menghadapi anak didik merupakan hal yang paling penting. Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga pendidik dan teman untuk muridnya. Ya, teman. Teman yang bisa membuat seorang siswa nyaman, bukan seseorang yang ditakuti.

Namun sayang, Heri tidak mendapatkan kenyamanan tersebut. Menurut pengakuannya, Heri sering dimarahi sang guru tercinta karena sering tertinggal dalam mengikuti pelajaran. Belum lagi teman-temannya yang sering meledek karena dia lambat. Heri frustasi. Hari-hari bersekolah berubah menjadi hari-hari penuh tekanan. Dia harus belajar karena harus berusaha agar gurunya tidak marah, dia harus belajar agar teman-temannya tidak meledeknya. Dia bukan lagi belajar karena ingin belajar.

Saya prihatin dengan kondisi tersebut. Bukan hanya pada Heri, tapi pada puluhan, ratusan bahkan mungkin ribuan anak lainnya yang merasakan hal yang sama. Anak-anak yang merasa sekolah adalah mengejar nilai, baik nilai yang tercantum dalam buku Rapor maupun nilai yang diberikan oleh orang di sekeliling mereka. Sungguh mengerikan jika anak-anak kelas 1 SD sudah terbebani oleh hal semacam itu. Mereka seharusnya menikmati proses belajar, dimana mereka memenuhi sebanyak-banyaknya apa yang ingin mereka ketahui. Memiliki rasa penasaran yang tak terbendung. Dan butuh orang-orang bijaksana untuk mengarahkan rasa ingin tahu mereka, bukan memaksa mereka pada jalur yang sudah ditentukan, lagi-lagi demi sebuah nilai.

Kembali pada Heri. Dia tetap tidak ingin membaca. Saya tidak memaksa.

Keesokan harinya, dengan wajah lugunya Heri kembali mendatangi saya. Wajahnya ceria. Entah kenapa saya selalu merasa bahagia setiap kali melihat ekspresi di wajahnya. “Teteh, Heri mau mewarnai lagi dong,” saya pun menyerahkan kertas gambar dan Crayon, lalu membiarkan dia asik dengan “mainannya”. Saya lagi-lagi memperhatikan bocah di hadapan saya. Bajunya masih seperti kemarin dan dua hari yang lalu, Kaos belang berkerah dan celana seragam merah. Sepertinya dia tidak pulang kerumahnya selama tiga hari ini, “tapi mandi koq teh,” jawabnya ketika saya menanyakan kenapa tidak mengganti pakaian. Dan saya kaget ketika dia bilang sudah sebulan tidak pulang kerumah.

Saat makan siang tiba, saya tidak melihat Heri menjinjing bungkusan junkfood seperti kemarin. Seingat saya, setengah hari ini dia tidak jajan. Tumben, pikir saya. Ketika saya bersiap untuk menyantap makan siang, tiba-tiba Heri bertanya ragu-ragu “teh, boleh berdua makannya?” Jujur, saya kaget dengan pertanyaan tersebut. Saya lalu bertanya kenapa dia tidak membeli makan seperti kemarin. tadinya saya pikir dia menabung seperti saran teman saya. Ternyata dia tidak punya uang sama sekali.

Sungguh bertolak belakang dengan apa yang saya lihat kemarin, dimana Heri makan siang junkfood dan tidak henti-hentinya jajan, hari ini meminta makan kepada saya dengan alasan tidak punya uang sama sekali. Saya pun mempersilakan Heri untuk memakan sebagian jatah makan siang saya.

Kemudian saya tertarik untuk mencari tahu kenapa uang hasil ngamen Heri tidak tersisa, padahal saya yakin uangnya cukup untuk makan. “Heri ga ngamen teh, kecrekannya ilang,” jawabnya sambil melahap nasi dan sayur tauge. Bocah kecil itu tidak bisa makan karena tidak mengamen, disaat teman-teman seusianya sedang bermain PS sambil disuapi oleh si mba’. Dan Heri harus berhadapan dengan anak-anak yang lebih tua yang senang merampas hasil keringatnya berteriak-teriak dan menerjang bahaya di jalan raya.

Di tengah-tengah makannya, Heri bercerita bahwa semalam dia dipalak oleh pengamen lain yang usianya lebih tua, dan badannya lebih besar. Berhubung Heri tidak punya uang untuk diberikan, maka jadilah Heri sebagai korban penganiayaan mereka. Heri dipukuli. Saya pun mengerti mengapa kemarin dia jajan sampai menghabiskan uang hasil ngamennya. “Mending diabisin kan teh daripada dikasih ke orang?” saya sedih mendengar ucapan Heri, ekspresi wajahnya seolah-olah menggambarkan dipalak dan dipukuli orang adalah hal yang biasa.

Kehidupan di jalan mungkin memang keras, saling pukul, main hakim sendiri dan tidak terkontrol. Walaupun perilaku kaum intelek pun kini hampir sama dengan mereka yang tidak sempat mengenyam pendidikan formal. Tapi apakah kehidupan seperti itu layak didapatkan oleh seorang Heri? Seorang anak yang seharusnya masih merengek-rengek minta dibelikan “momogi”, bukannya harus digebukin karena mempertahankan lembar-lembar ribuan yang dia dapatkan seharian.

Kalau sudah begini siapa yang bisa disalahkan? Himpitan ekonomi seringkali memaksa seseorang berbuat nekat untuk mempertahankan hidupnya. Menjadi pengamen adalah jalan yang dipilih Heri dengan segala resikonya, dan ada banyak ribuan Heri yang mengalami kisah yang sama. Dalam hal ini, peran orangtua sangat penting dalam mendampingi dan memberikan nilai-nilai yang positif serta optimisme, sesulit apapun keadaannya.

12 Agustus 2008

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s