Catatan Kaki Halaman Terakhir

Kubaca perlahan halaman terakhir ini, tak ingin melewatkan satu pun dari 420 kata yang ada di sana. Habis. Seluruh cerita dan perjalanan begini akhirnya, persis seperti kisah-kisah yang pernah kita baca. Tidak. Aku tidak berharap kau membawa sesuatu di halaman kali ini, apalagi resep rahasia atau misteri peta kuno. Itu sudah tertinggal jauh di halaman sebelumnya yang bahkan tidak pernah kubuka lagi. Happy ending? Aku rasa tak perlu kita rumuskan, toh kita sepakat ini bukan ilmu pasti.

Tentu saja aku masih menyimak baris-baris terakhir yang kau tuliskan. Halaman ini entah berapa lama kutunggu meski akhirnya kuputuskan untuk berhenti di halaman genap yang kau tinggalkan. Dan aku benar rupanya, ini hanya perpisahan yang dinyatakan. Kemarin, kita sudah berpesta dengan perpisahan itu sendiri, kan? Ini hanya simbol perhentian dari awal yang telah kita mulai. Hanya saja kita tidak berada dalam hitungan waktu yang sama.

Aku masih suka puisi-puisi cengeng yang terselip di setiap bab sejak cerita pertemuan itu. Ya, aku masih ingat. Aku suka menghabiskan waktu mengemasi air mata yang menggenang di setiap baitnya. Lalu bertanya-tanya sendiri; “mengapa kita bisa begitu sedih?”. Mungkin memang benar, kita belum paham kapan saatnya memulai kalimat, kapan berhenti menulis. Dan kita terlalu serius mengeja masing-masing, sehingga dengan lugu tersesat dalam teka-teki kebenaran.

Baiklah. Aku terkesan oleh bagian terakhir ini. Penutup sederhana untuk ratusan halaman penuh kemewahan. Setidaknya, kamu cukup berani untuk meneruskannya, membuka kembali cerita usang yang hampir terlupakan. Meski kurasakan juga ketakutanmu kalau-kalau terjebak dalam bab baru yang melenakan, hingga kita lupa lagi untuk meringkasnya. Jangan takut, sayang. Aku sudah lama sekali tak lagi menunggu jemputan ke halaman baru. Kita sudah sampai di kalimat terakhir, kata terakhir. Maka kelak akan kulakukan jika kita bertemu; tersenyum, lalu tetap melaju. 🙂

*menulis ini seperti mengulang lagi kesukaan masa lalu; berbalas tulisan dengan seseorang. Like good old days. Bedanya, sekarang dalam nuansa hati yang beda. Lebih tenang, lebih biasa. :p
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s