Malam Lebaran (Kontemplasi)

Malam lebaran.

Gema takbir masih berkumandang dari berbagai penjuru. Suara-suara parau yang mulai mengantuk bersahutan dengan hingar bingar kembang api dan petasan. Malam ini, entah mana yang lebih banyak dinikmati; merayakan kemenangan di jalanan atau terlelap karna esok pagi shalat sunah berjamaah.

Esok lebaran.

Ada yang menangis haru karena berhasil menempuh perjalanan jauh, berebut tiket angkutan, bertahan dalam kemacetan, demi berkumpul dengan sanak saudara. Ada yang bersedih menyesal karena telah menyia-nyiakan kesempatan datangnya bulan seribu bulan. Kehilangan. Pelan-pelan dan pasti menyusup pada hati yang bergembira atas kemenangan. Lalu haruskah kita bertanya pada diri sendiri; apa yang sesungguhnya telah kita menangkan?

Maaf.

Esok kita adalah pemurah. Esok adalah hari ketika semua orang dapat memanen “maaf” dari ladang milik bersama. “Maaf” akan mengalir deras di sungai-sungai kehidupan manusia, berhamburan di jalan. “Maaf” akan sangat begitu murah dan mudah hingga kita lupa untuk memaknainya, menimangnya perlahan dan meletakkannya hati-hati di tempat yang bersih dan aman. Esok, “maaf” akan begitu saja terbuang karena tangan tak mampu lagi menampungnya.

Meminta dan memberi maaf di era yang serba canggih ini tentu bukan hal yang sulit. Tinggal pasang foto ucapan lebaran, broadcast messageupdate status, lalu “maaf” akan meramaikan notifikasi. Padahal seharusnya “maaf” bukan sekedar urusan lahiriah, Ucapan, salaman, hanyalah atribut dari hati yang sudah dibersihkan. Akankah dosa kita dihapuskan ketika bersalaman sedangkan hati tidak sepenuhnya memaafkan?

Kembali ke fitrah.

Bukankah itu makna lebaran? Maaf-memaafkan adalah proses mengembalikan diri ke fitrah, ke dalam kondisi yang suci, ke dalam kehidupan yang lurus dan damai. Memberi dan menerima maaf adalah ikrar dari hati yang lapang dan tulus memaafkan. Rasanya ketulusan itu hilang dalam kata yang diucapkan sekenanya tanpa benar-benar tahu mengapa kita harus melakukannya.

Mari sejenak kontemplasi, melihat ke dalam diri, merenungi “apakah ini akan menjadi perbaikan atau sekedar seremonial belaka seperti tahun-tahun sebelumnya?”. Lalu ikrarkan bahwa hati ini, esok pagi, akan sepenuhnya memaafkan. Setelah itu meminta pada Tuhan agar kita mampu melupakan berbagai hal yang tidak menyenangkan yang dapat membuat hati ini menyimpan dendam.

Esok pagi lebaran.

Kita akan bersalaman, lalu saling memaafkan. Selamat lebaran. 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Malam Lebaran (Kontemplasi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s