Satu Kata; Pulang

Wangi tanah basah di kota kesayangan selalu membawaku pada sebuah kata; pulang. Ya, aku pulang. Kembali ke kota ini dengan hujan yang ditumpahkan semalaman. Dari mata, lalu ke hati. Genangan, kenangan. Aku bermain-main dengan keduanya.

Kunikmati menyaksikan kemacetan di atas aspal mengilat karena air hujan yang masih melekat, pohon-pohon besar berjajar meneteskan bulir hujan yang tersisa. Ah, jalan ini. Pohon-pohon ini. Terhampar di antara mereka cerita yang tak kunjung selesai. Aku nikmati perjalanan menyusuri lorong waktu kembali ke sana, ditemani temaram lampu jalan.

Malam itu, ketika aku bertanya tentang ada dan tiada, berakhir dalam sebuah perpisahan yang sunyi. Tak ada kata, tak ada air mata. Saat itu, tanah kelahiran tidak pernah menjadi jawaban.  Lalu kota ini, jalan ini, langit ini, tak pernah lagi sehangat dahulu. Aku kehilangan. Perjalanan panjang tak juga memulihkan sepi.

Aku menyerah. Setiap langkah justru membuat tanyaku bertambah. Kucoba untuk membuat jeda, menyelami diri, mencari arti. Lalu kucoba memaknai satu kata yang kusimpan rapi, kata yang tak ingin kukecap sembarang. Satu kata; pulang.

Kini aku kembali ke sini, memunguti setiap tanya yang berjatuhan ke jalan. Kuselipkan satu per satu di antara tumpukan rindu, kususun bersama cerita perjalanan. Kurasakan hangat yang dulu kukenali perlahan menyapa kota ini, menjadi selimut hati ini. Ah, di sana rupanya jawaban yang terlewatkan. Di dasar hati yang merindu pulang.

Bogor, 3 Juni 2013

Advertisements

One thought on “Satu Kata; Pulang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s