Perempuan; Tubuh dan Kedudukannya dalam Budaya Patriarki

Penolakan beberapa kalangan di Indonesia terhadap perhelatan Miss World baru-baru ini mengingatkan saya terhadap wacana kedudukan perempuan yang selalu menjadi perdebatan. Alasan “eksploitasi perempuan” banyak disebutkan dalam pelbagai artikel yang mengulas tentang penolakan tersebut. Tradisi mengenakan bikini yang tak pernah absen dalam perhelatan ratu kecantikan itu, menurut sebagian orang, hanya salah satu penanda bahwa terjadi upaya mengeksploitasi tubuh perempuan. Sehingga meskipun tradisi itu dihilangkan, ajang Miss World di Indonesia tetap tidak dapat diterima oleh beberapa pihak.

Saya tidak tahu berapa banyak penanda dalam ajang Miss World yang dapat dikategorikan sebagai upaya mengeksploitasi kaum perempuan. Salah satu artikel yang saya baca menyebutkan bahwa pemilihan ratu kecantikan dunia yang ditayangkan oleh ratusan negara itu mempertontonkan keindahan tubuh perempuan. Kegiatan mempertontonkan kemolekan tubuh yang dipermasalahkan itu, dalam pandangan saya, mungkin dapat membuat perempuan dinilai “rendah” dalam budaya timur. Sehingga akhirnya kegiatan tersebut dikecam di negara yang mayoritas penduduknya muslim ini.

Saya tidak sedang mendukung atau menolak kontes Miss World. Namun saya heran mengapa kita memiliki pandangan yang begitu sempit tentang persoalan eksploitasi perempuan, jika benar ini yang menjadi permasalahan. Apakah hanya ajang Miss World  yang menyajikan tubuh-tubuh perempuan berlenggang yang dipertontonkan? Jangan lupa, kita juga memiliki ajang kontes kecantikan serupa berskala nasional yang juga mempertontonkan tubuh perempuan dalam balutan busana yang menonjolkan bentuk tubuh perempuan, bahkan tak jarang memamerkan belahan dada. Lantas mengapa ajang tersebut tidak diprotes?

Bicara tentang eksploitasi perempuan, tidak dapat dipungkiri, kedudukan perempuan dalam beberapa aspek kehidupan masih menjadi bagian yang tidak penting. Seringkali kita temui perempuan dimanfaatkan untuk kepentingan penjualan sebuah produk, bahkan seksualitas perempuan dimunculkan dalam iklan produk-produk tertentu.

Hal tersebut bukan terjadi tanpa alasan, bukan semata-mata perempuan memiliki tubuh yang lebih indah dari laki-laki sehingga hampir selalu perempuan yang menjadi objek. Dalam budaya patriarki yang dianut sebagian besar penduduk Indonesia, selama ratusan tahun laki-laki dinobatkan sebagai subjek dalam kehidupan sosial-ekonomi. Sudah tentu hal ini menjadikan kaum laki-laki sebagai pasar utama dalam target pemasaran berbagai produk.

Maka seolah-olah menjadi penting untuk menyertakan perempuan sebagai “pemanis” dalam rangka memanjakan laki-laki dalam kegiatan jual-beli, baik secara langsung maupun tidak langsung. Lihat saja penjualan mobil yang tidak ada hubungannya dengan seksualitas perempuan, selalu dipamerkan bersama para perempuan yang biasanya berpakaian minim dan seksi. Dalam contoh kasus ini, perempuan tidak ditempatkan sebagai subjek yang memiliki daya beli terhadap sebuah produk, melainkan sekedar objek pelengkap untuk mendukung kegiatan jual-beli dalam dunia milik laki-laki.

Sebuah artikel lain mengenai penolakan Miss World menyebutkan bahwa ajang pemilihan ratu kecantikan tersebut dapat membentuk paradigma masyarakat (khususnya perempuan) tentang definisi cantik yang sangat artifisial. Berat badan, tinggi badan, dan semua skala fisik yang ditentukan oleh segelintir orang dianggap tidak dapat dijadikan standar yang bisa diterima global. Saya sepakat dengan hal tersebut. Namun kemudian menjadi sedikit lucu karena penulis artikel tersebut menambahkan bahwa jika ajang tersebut dilakukan di Indonesia adalah bentuk pengkhianatan atas prinsip kebhinekaan yang merupakan kearifan budaya bangsa.

Ada yang mungkin terlewat oleh sang penulis artikel tersebut, yakni kenyataan bahwa ada atau tidak ada perhelatan Miss World di Indonesia, para perempuan di negri ini secara persisten didoktrin tentang kategori “perempuan cantik” melalui media-media yang ada. Setiap hari pelbagai media memberikan panduan seperti apa seharusnya rupa perempuan cantik, bahwa rambut harus lurus, kulit putih, badan langsing, tidak punya bulu kaki dan lain sebagainya. Lalu para perempuan diberikan arahan berbagai produk yang dapat membantu mereka untuk menjadi “perempuan cantik”.

Iklan produk-produk kecantikan ini, lalu tayangan sinetron, hingga infotainment memiliki ukuran yang sama untuk memberikan penilaian terhadap kadar cantik-tidak cantik. Sehingga mayoritas tokoh-tokoh yang muncul di layar kaca adalah mereka yang memenuhi kriteria cantik bentukan media dan kaum kapitalis. Bila ada tokoh yang muncul tidak memenuhi kriteria tersebut, biasanya hanya sekedar tokoh pelengkap atau bahkan bahan ledekan.

Lalu mengapa heboh penolakan Miss World karena dianggap tidak menghargai kekhasan perempuan? Apakah selama ini kita sudah memberikan kebebasan kepada perempuan untuk menjadi unik dengan dirinya masing-masing sehingga ajang Miss World dapat menghancurkannya dalam sekejap? Tidak, saya rasa. Kita tidak memberikan ruang untuk perempuan yang “berbeda”. Kita telah didikte untuk menjadi serupa satu sama lain, berlomba-lomba memenangkan predikat “paling” di antara keseragaman yang dipaksakan.

Semua itu. Segala hal yang diperjuangkan perempuan untuk menjadi “cantik” itu, bukan semata-mata perwujudan subjektivitas perempuan. Segala upaya tersebut adalah bentuk objektivikasi perempuan terhadap tubuhnya agar keberadaannya mendapat pengakuan dari kaum laki-laki. Budaya kita membentuk perempuan untuk menyiapkan dirinya agar dapat diterima oleh laki-laki karena laki-laki dianggap sebagai penentu kehidupan perempuan. Bahkan beberapa iklan secara nyata mengisahkan perempuan yang sama sekali tidak dilirik oleh laki-laki hanya karena perempuan itu berkulit gelap, sehingga muncullah peran pemutih wajah untuk mewujudkan eksistensi perempuan dalam dunia pengakuan laki-laki.

Rasanya tidak adil jika kita melihat satu hal yang berkaitan dengan wacana penghormatan atas tubuh perempuan, karena di luar Miss World banyak sekali para perempuan, sadar maupun tidak sadar, telah lupa untuk memberikan penghormatan pada tubuhnya sendiri. Coba saja tengok televisi. 🙂

Advertisements

3 thoughts on “Perempuan; Tubuh dan Kedudukannya dalam Budaya Patriarki

  1. banyak cara untuk memberikan penghargaan dan penghormatan. contohnya agama sya sangat menghargai perempuan. Sya tidak mau terlalu jauh mencari alasannya yang jelas perempuan memilki harga diri yang patut di jaga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s