Hatimu Tak Berjendela

Aku terhenti di baris pertama dinding terakhir pada
ruang kecil itu
Sebuah nama di antara kalimat yang tersusun dari tahun-tahun yang panjang,
seperti sudah lama menungguku tiba di sana,
melewati sejuta teka-teki yang tercecer sejak ku buka pintu cokelat di
belakang punggungku

Aku diam saja,
terjebak dalam hatimu yang tak berjendela
Hujan deras mengalir dari langit kelopak mata,
membanjiri sungai kering di dusun tak berpenghuni dalam hatiku
Hujan yang sama telah menumbuhkan bunga-bunga di musim yang lalu,
Hujan yang pagi ini menghanyutkan seluruh cerita ke lembah yang sengap

Begini akhirnya,
Meski sudah kutemui petunjuk di belantara puisimu,
di sorot mata bulan merah jambu,
di sela tanya dan tawa yang berlarian
pada malam-malam perjumpaan rahasia kita
Meski sudah kulihat kau lambaikan tangan,
mengajakku mengeja perpisahan
Aku tetap di sini,
terkunci bersama kisah lama.

Advertisements

2 thoughts on “Hatimu Tak Berjendela

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s