#5BukuDalamHidupku: Mari Menulis, Mari Sedikit Narsis

Hari terakhir! Mari kita menjadi sedikit narsis dan menyebalkan. Hahahaha. Tentu saja saya sudah menyiapkan bekal mudik hari ini sejak hari pertama #5BukuDalamHidupku. Tidak usah kaget. Saya memang sengaja menyimpan ini untuk hari terakhir, biar saya menyebalkannya hari terakhir saja. Kalau hari pertama saya sudah menyebalkan, nanti jadi tidak seru. Anti klimaks. 😀

Apa yang paling diimpikan oleh seorang penulis? Punya buku yang diterbitkan? Rasanya demikian. Meskipun kemampuan saya menulis belum sehebat penulis lain, tapi saya juga pernah bermimpi buku-buku saya terpampang di toko buku, menghiasi rak-rak baca di setiap rumah, bertengger manis di meja kamarmu. Ah, keren sekali mimpi itu.

Tapi dunia nyata sungguh jauh lebih rumit dari mimpi. Kenyataannya tidak sesederhana “saya akan menulis dan menerbitkan buku”. Tidak, kawan. Seiring waktu, jiwa dan pikiranmu terus bertumbuh mengalahkan mimpimu yang sederhana. Perkara terbit-menerbitkan buku pernah menjadi polemik yang tak pernah selesai dalam diri saya sendiri. Sungguh rumit.

Ada satu masa ketika dunia penerbitan buku yang sebelumnya adem ayem tiba-tiba menjadi sangat ramai. Novel-novel remaja bermunculan tak terhitung jumlahnya, buku-buku aneka judul menunjukkan dirinya masing-masing. Ini best seller, itu best seller. Isinya beragam; ada yang bagus, ada yang sulit untuk dikomentari saking kacaunya. “Don’t judge a book by its cover” adalah prinsip yang harus kau pegang kuat-kuat. Jangan sampai tertipu penampilan luar karena sampulnya memang hampir semua bagus. Isinya? Hanya editor dan Tuhan yang tahu.

Pada masa itulah saya diserang kebimbangan yang berawal dari pertanyaan seorang kawan; “mengapa kita harus menerbitkan buku?”. Dia, sebut saja Si Mantan (nama samaran :D), adalalah seorang penulis yang tulisannya saya kagumi hingga saat ini. Mulailah Si Mantan ceramah bahwa menulis bukan hanya soal menerbitkan buku, bahwa pembaca harus diberikan asupan bacaan yang bergizi, bahwa penulis yang baik adalah yang mencerdaskan pembacanya. Buat apa menerbitkan buku kalau tidak memberi pengaruh positif bagi pembaca, begitu kira-kira kesimpulannya. Tapi saya kan ingin jadi orang keren. Bagi saya, menerbitkan buku itu keren.

Tapi benar juga apa yang dikatakan Si Mantan. Buat apa saya menerbitkan buku kalau hanya asal terbit? Belum lagi saya selalu bekerja di bidang kelestarian lingkungan yang sudah pasti selalu bersentuhan dengan isu konservasi hutan, perilaku bijak energi dan lain sebagainya. Mencetak buku yang gak bagus-bagus amat, apalagi kalau sampai tidak laku, adalah pemborosan sumber daya karena kertas terbuat dari kayu dan tentu saja tidak bijak energi. Itu haram hukumnya.

Tahun-tahun berlalu. Suatu hari teman saya mengajak saya untuk membantunya menulis buku. Jujur saja, awalnya saya tidak berminat pada tema buku yang ditawarkan. Pertama, itu bukan bidang saya. Kedua, buat apa saya menulis buku itu? Tetapi saya punya banyak pertimbangan lain yang cukup hanya saya dan Tuhan yang tahu (editor tak perlu tahu :p).

Buku

Ini dia buku itu. Buku yang saya tulis berdua dengan teman saya, diterbitkan oleh penerbit besar. Jangan tanya bagaimana nasibnya. Buku itu sudah tidak ada di toko buku. Entah laku atau dimusnahkan, yang jelas saya tidak menerima royalti. Entah di mana letak salahnya, saya tidak ambil pusing soal itu. Sejak awal, royalti adalah hal terakhir yang saya harapkan saat itu.

Buku ini memberi pengaruh untuk hidup saya? Jelas. Buku ini mengakhiri perang batin bertahun-tahun dalam diri saya. Buku ini memberikan banyak pelajaran dalam proses penulisannya. Buku ini semacam keberanian untuk mendeklarasikan bahwa saya adalah penulis. Maka buku ini akan terus mengingatkan saya untuk terus belajar menulis dengan baik, lalu menerbitkannya. Biar bermanfaat bagi banyak orang dan tidak berujung di tumpukan buku obralan super murah. Hahahaha.

Mari menulis. \m/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s