Televisi dan Pembodohan

Rasanya saya semakin prihatin melihat tayangan-tayangan yang ada di televisi kita. Pasalnya, hampir semua tayangan tersebut tidak bermanfaat. Subyektif, memang. Tapi coba saja survei secara acak pada beberapa orang dan lihat sendiri hasilnya. Saya pernah melakukannya. Beberapa orang yang saya tanyai, kebanyakan adalah teman-teman saya, akhirnya memilih mengurangi bahkan berhenti sama sekali menonton televisi. “Buat apa?”, kata mereka.

Saya sendiri sudah sangat langka menonton tv. Rasanya dari 10 kali menonton, saya akan 9 kali merasa marah dan kesal. Benar kata teman saya, buat apa menonton tv kalau hanya membuat marah? Bukankah seyogianya kegiatan menonton adalah hiburan? Faktanya tidak. Kami sulit sekali terhibur oleh suguhan layar kaca akhir-akhir ini.

Sebut saja sinetron yang acap memperlihatkan permusuhan, gaya hidup kelas atas, perebutan harta, perselingkuhan. Lalu gosip yang tayang pada pagi, siang, sore, dan malam, bahkan sebelum subuh yang seharusnya menjadi waktu yang syahdu. Belum lagi reality show yang tidak pernah real, komedi yang penuh kekerasan, acara musik lipsyinc. Di negara ini, televisi suka sekali dengan pertunjukan-pertunjukan “settingan“, mulai dari kisah cinta, pertengkaran, bahkan acara talkshow. Semua penuh tipu daya demi tayangan yang “menarik.” Ditambah lagi pemberitaan yang sarat kepentingan kelompok tertentu. Memihak.

Dalam dunia pertelevisian, rating adalah Tuhan. Berbagai cara dilakukan sebagai sesembahan, tidak peduli dampaknya. Lucunya, meskipun saling bersaing, stasiun televisi di negara ini gemar sekali saling meniru. Latah. Jika satu televisi ratingnya naik dalam program musik, televisi lain akan berlomba-lomba menyajikan acara serupa, tak jarang juga dengan pembawa acara yang sama. Lalu program seperti itu akan menjadi tren selama waktu tertentu.

Lihat saja sekarang ini, sebuah tren tayangan sedang mewabah dalam dunia pertelevisian kita. Acara komedi dengan menyisipkan (kemudian jadi kegiatan utama) berjoget di dalamnya. Jujur saja, saya tidak tahu harus memasukkan acara tersebut dalam kategori apa, karena bagi saya komedi pun bukan. Acara serabutan, mungkin cocok untuk menamai (sebut saja) acara YKS dan sebagainya.

YKS atau Yuk Kita Sahur sepertinya mendapat perhatian masyarakat Indonesia sejak kemunculan salah seorang pemainnya, Cesar, yang membawa goyangan untuk lagu dangdut “buka dikit joss”. Cesar terlihat begitu mudah menyatu dengan lagu tersebut sehingga goyangannya tidak kaku. Entah bagaimana ceritanya, akhirnya goyangan Cesar booming dan menjadi hidangan wajib di setiap episode YKS.

Dilihat dari sudut pandang bisnis, tentu saja Trans Tv tidak ingin menyia-nyiakan fenomena goyang Cesar begitu saja. Rating yang tinggi sudah pasti akan menaikkan minat perusahaan-perusahaan besar untuk beriklan, yang berarti naik juga keuntungan stasiun televisi. Maka Trans Tv dengan bangga terus menayangkan YKS meskipun ramadhan sudah lewat dengan mengganti Yuk Kita Sahur menjadi Yuks Keep Smile.

Sejak kemunculannya, YKS ini sudah cukup membuat saya misuh-misuh. Saya merasa YKS adalah tayangan sahur terburuk sepanjang yang saya pernah ketahui. YKS sama sekali tidak memberikan suasana sahur yang tenang bernuansa Islami, melainkan suasana berisik, saling mencela, mengerjai orang (cenderung menganiaya), menghina. Dan mereka anggap itu lucu. Sialnya, tayangan ini masih muncul di televisi dan semakin menjadi-jadi.

Memang pasti sulit mengharapkan pihak stasiun televisi yang hanya memikirkan rating, keuntungan, uang, uang, uang dan uang. Kenyataan bahwa banyak masyarakat yang masih menikmati tayangan-tayangan seperti YKS menjadikan harapan untuk menghentikan tayangan yang tidak mendidik itu bagai mimpi di siang bolong. Mustahil. Tapi tidak ada salahnya melakukan usaha untuk menghentikannya, meskipun kecil, kalau dilakukan oleh banyak orang pasti akan berdampak besar. Salah satunya adalah dengan menandatangani petisi ini.

Tentu saja itu hanya salah satu upaya yang bisa dilakukan. Cara lain adalah memberikan filter pada orang-orang terdekat agar dapat menyeleksi tontonan dengan bijak. Bagi orang tua, mungkin bisa memberikan kegiatan-kegiatan menarik untuk anak-anaknya sehingga mereka tidak menjadikan televisi sebagai satu-satunya hiburan. Banyak cara yang bisa dan harus dilakukan untuk menghentikan tayangan-tayangan tidak bermanfaat tetap berkeliaran di televisi.

Mengapa YKS dan sebagainya harus dihentikan? Kalau tidak suka ya tidak usah ditonton.

Ini adalah kalimat paling konyol yang dilontarkan oleh orang yang berpendidikan. Seburuk-buruknya manusia adalah yang membiarkan hal buruk terus terjadi. Tayangan seperti YKS adalah hal buruk yang harus dihentikan, bukan hanya karena saya tidak suka. Tapi cobalah berpikir lebih jauh, lebih peka. Di antara berbagai masalah yang centang-perenang di negara kita, ada masalah serius yang tidak kita sadari.

Saya tidak meributkan goyangan Cesar, tidak ada yang salah dengan itu. Apalagi (katanya) karena acara YKS, musik dangdut jadi bisa lebih diterima oleh banyak. Tidak masalah. Apalagi orang dapat bersenang-senang berjoget bersama, silakan saja. Saya mempermasalahkan muatan lain dalam acara YKS yang seringkali tidak layak untuk ditonton, terutama oleh anak kecil. Jangan menyangkal, YKS ditayangkan pada jam strategis dimana semua kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang tua dapat menontonnya. Dan tayangan itu memiliki durasi yang melebihi durasi tayangan normal pada umumnya.

Saya berusaha tidak curiga, tapi rasanya perlu waspada bahwa fenomena tayangan televisi di negara ini memang sengaja dibuat demikian. Jangan-jangan ini bukan hanya tentang uang? Jangan-jangan ini adalah upaya pembodohan masyarakat? Perlahan tapi pasti, kita tidak diarahkan untuk menjadi masyarakat yang cerdas, melainkan menjadi masyarakat yang cukup diberi sedikit kesenangan, lalu tidak peduli terhadap kekuatan besar yang sedang berusaha menjajah bangsanya sendiri.

Berlebihan? Rasanya tidak. Ingat kawan, kita pernah (atau malah masih) menghadapi dunia politik yang kejam, dunia mainan para penguasa. Lihat saja siapa yang ada di belakang dunia televisi kita. Calon pemimpin negara? Semua berbicara tentang Indonesia yang lebih baik, tapi menyeleksi tayangan yang baik dan buruk, mencerdaskan dan membodohi, tidak mereka lakukan. Mengapa?

Pada akhirnya kita ini hanya boneka yang dibawa kesana-kemari, dijadikan objek percobaan dalam banyak hal. Lalu kita akan diam saja? Tidak peduli? Saya tidak menyudutkan apalagi menuduh, tapi saya penasaran dengan pendapat para kru dan tim kreatif acara-acara semacam itu. Apakah mereka memang menilai acara yang mereka rancang adalah tontonan yang layak dan tidak bermasalah? Apakah mereka melakukannya berdasarkan kreatifitas mereka atau kewajiban yang harus dijalankan? Saya juga ingin tahu apakah jauh di lubuk hati mereka merasa resah atau bangga?

Tapi satu yang pasti, apapun yang ada di lubuk hati dan pikiran para tim kreatif, mereka hanya diam dan mengikuti permintaan pasar (atau penguasa). Mungkin kewajiban, mungkin tidak ada pilihan. Saya yakin tim kreatif acara-acara tersebut adalah orang-orang pintar yang lulus dari perguruan tinggi dengan nilai baik. Mungkin suatu kondisi menjadikan mereka memilih untuk tidak peduli. Seperti juga penonton yang berusaha tidak peduli. Ketidakpedulian orang-orang pintar dan bernalar itulah yang menjadi tujuan utama para penguasa. Kalau para terpelajar hanya mendiamkan hal buruk terus terjadi, tentu tidak susah menghadapi kaum tidak terpelajar, bukan?

Kita bisa memilih untuk tidak melihat tayangan-tayangan tidak bermutu di televisi. Kelas menengah ke atas bisa mengganti saluran ke televisi berlangganan. Tapi sebagian besar masyarakat Indonesia tidak bisa melakukannya, mereka tidak punya pilihan, mereka hanya akan mengonsumsi tayangan yang ada di depan mereka, yang mana pilihannya tidak ada yang lebih baik satu dengan yang lainnya.

Jadi mengapa kita harus berbuat sesuatu? Karena ini memang kewajiban kita. Kita punya tanggung jawab untuk membuat Indonesia lebih baik, bermanfaat bagi sesama, memastikan generasi berikutnya menjadi generasi yang berkualitas. Itu tanggung jawab kita. Mari kita lakukan mulai dari hal kecil yang bisa kita lakukan, sekarang juga!

Advertisements

2 thoughts on “Televisi dan Pembodohan

  1. Agak susah memang . mereka juga cari makan. D samping itu juga teguran tidak lagi diindahkan. Satu satunya jalan dampingi anak anak pilihkan channel yg tepat. Beri kesibukan yang positif .

    Saya rasa peran orng tua juga penting. Orng tua di uji peranan nya.

    1. Makanya perlu ada regulasi yang tegas dari pemerintah atau pengambil kebijakan, supaya tetap bisa menyajikan hiburan tapi juga mendidik.

      Iya, peran orang tua penting banget. Kapan jadi orangtua? :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s