Untukmu, Sepasang Mata Penuh Rindu

Hujan baru saja reda, aku sudah tiba di rumah saat rintiknya masih berjatuhan dari langit yang pekat. Basah, tapi tak apa. Aku suka. Kamu juga suka bermain hujan, kan?

Kamu sedang apa di sana? Menuliskah? Atau sedang menikmati makan malam yang terlambat? Kurasa kamu sedang asik menyimak rindu yang berterbangan di luar jendela, lalu menyelipkan rindumu keluar dari kamar. Aku seringkali menangkapnya, meski entah rindumu hendak menuju kemana. Mungkin ke sana, mungkin juga hanya ingin bermain di bawah temaram lampu taman, menyapa bunga-bunga yang sedang mekar. Aku hanya ingin menangkapnya, meski entah untuk apa. Mungkin aku akan membutuhkannya, nanti.

Aku pun tak jarang melepas rinduku ke luar sana, membiarkannya menemukan rumah yang nyaman. Mungkin rumahmu. Mungkin suatu tempat yang tak pernah aku tahu. Entahlah. Sesekali rindu kita berpapasan, saling menyapa, sesaat beradu mata.

Ah, matamu. Aku tak pernah berani menatap matamu yang selalu penuh rindu. Aku takut matamu menangkap risau yang mengendap di ujung mataku. Karena dari sana, kau dapat mengintip dasar hatiku, dan namamu mungkin saja tersembul di antara ragu dan rindu yang berserakan di sana.

Tapi kamu perlu tahu, kali ini lain. Aku sedang tak sabar menanti saat-saat itu. Kali ini aku tak akan melewatkan tatapan itu, seperti yang sering aku lakukan sebelumnya. Aku akan singgah di sana, menyelami teduhnya.

Aku ingat suatu malam yang hujan, matamu meredakan tangisku dalam sekejap. Ya, ajaib memang. Rasanya aku ingin menumpahkan seluruh tangisku dalam pelukmu kala itu, mengalahkan hujan membasahi kaos abu-abu yang kau pakai. Tapi tidak. Hujan di mataku reda seiring kau raih payung dari tanganku, dan dengan lembut memayungi kita berdua. Sayangnya saat itu, aku tak melihat matamu. Seperti biasa, aku terlalu sibuk dengan pikiranku, lalu bicara tanpa henti. Kamu mendengarkan sambil sesekali berkomentar singkat. Jangan-jangan kamu mendengar juga degup jantungku yang gaduh.

Ah, adegan itu cepat sekali. Aku bahkan tak sempat menyadari payung di tanganmu adalah damai yang kerap kulafalkan dalam doa.

Bagaimana kalau aku undang hujan malam ini? Dengan begitu, aku bisa mengenang langkah kaki kita di aspal yang basah. Kali ini akan kubuat langkahnya melambat, meski debar jantung kian gempita. Aku juga akan menghiasi sepanjang jalan yang kita lewati dengan bunga-bunga mekar yang kau sapa setiap malam. Atau aku undang juga rindu yang pernah kita biarkan pergi jauh? Agar mereka dapat bertegur sapa lebih lama, seperti mata kita yang tak akan pernah saling meninggalkan. Bagaimana kalau begitu?

Bagaimana kalau aku sampaikan semua hal ini padamu?

Advertisements

4 thoughts on “Untukmu, Sepasang Mata Penuh Rindu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s