Waktu Paling Baik untuk Mengenang Luka

Waktu paling baik untuk mengenang luka adalah ketika hujan. Dan langit tak henti-hentinya merisak diriku seharian. Dari atas sana, air mata ditumpahkan ke dalam hatiku. Aku yang malang terjebak kemacetan dan kesunyian yang paling perih, satu-satunya suara adalah gemuruh dalam dadaku. Pendingin udara dalam bus ini membuat perjalananku jauh lebih menyakitkan. Kulihat ke luar jendela, ratusan kendaraan berjajar tak bergerak tanpa daya. Kepalaku sibuk berlarian mengejar kenangan.

****

Aku masih ingat suatu malam ketika berkenalan dengan Pram. Saat itu aku sedang mengurung diri dalam kepalaku. Orang-orang lalu lalang membagikan senyum secara cuma-cuma, menawarkan mata, juga telinga. Aku tak tertarik, sekalipun sepasang mata di sudut ruangan menawarkan kehangatan.

Seorang kawan tiba-tiba menghadirkan sepasang tatap dari sudut ruangan di hadapanku. Aku terkesiap, kuhentikan percakapan yang mulai ramai dalam kepalaku. Kami berjabat tangan. Pram, laki-laki itu, tersenyum, matanya serupa busur yang melesatkan anak panah bertubi-tubi ke dalam mataku. Tangannya yang lain bersembunyi di balik punggungnya yang bisu. Aku tersenyum. Diam-diam menelan pahit. Sesuatu yang sering kulakukan setelah malam itu. Pun malam ini.

“Kamu pendiam sekali hari ini”.

Kalimat yang ganjil karena berasal dari mulut seseorang yang hampir tidak pernah berbicara. Aku lelah, kalau kau ingin tahu. Setiap hari menebak warna dalam hatimu, musim di kepalamu, sungguh membuatku linglung. Adakah cinta yang melemahkanmu? Sesungguhnya cinta harus membuatmu bahagia. Kamu. Aku.

“Pram, aku ingin berhenti sampai di sini”.

Kalimat berikutnya adalah sungai luka yang mengalir tanpa riak. Aku berlari menujumu, kau bertahan tinggal dalam rumah masa lalu. Aku menangisi penantian. Kau menangisi kenangan. Kita tenggelam dalam rindu yang tak pernah saling bertemu.

Mengapa mencintaimu begitu melelahkan? Baru saja beberapa langkah, aku sudah payah. Energiku lebih cepat menguap dalam hatimu, padahal dinginnya lebih menusuk dari musim dingin yang panjang. Mengapa mencintaimu begitu sulit? Tak ada petunjuk dalam mencinta, terlebih mencintaimu. Aku harus mengurusi sendiri semua bekal dalam perjalanan ini. Kepalaku melahirkan berbagai tanya ke udara yang kosong, kemudian berjatuhan di sepanjang jalan yang kulewati.

“Kamu terlalu banyak menggunakan otak daripada hati, cinta itu bukan untuk dipikirkan”, suatu hari seorang teman mengingatkan. Hanya saja temanku tak tahu, berpikir atau merasa, jatuh cinta adalah selalu tentang luka. Menurut pengalamanku, hatiku tak pandai menyembuhkannya.

***
Biasanya aku tak pernah mencarimu, apakah aku terlalu serius menunggu sehingga waktu menggodaku dengan berjalan lebih pelan? Biasanya aku tak pernah mencarimu seperti ini. Aku frustasi. Sebenarnya kemana perginya laki-laki pendiam itu? Sikapnya yang dingin akhir-akhir ini, ditambah lagi hilang kabar, membuatnya jauh lebih dingin dari malam hujan dalam ingatanku. Mendadak rasa takut menyerangku dari berbagai arah.

Kukirimkan pesan singkat ke nomormu.

“Aku mencarimu bahkan dalam mimpi”.

Bangun tidur, kusambar ponselku dengan tak sabar, berharap ada sebuah balasan atas pesanku semalam. Kusimpan rasa kecewa di atas meja, berdampingan dengan ponselku yang enggan berbicara. Tak lama, kulihat lagi ponsel, hendak melakukan panggilan telepon. Tak jadi. Kusimpan lagi di meja. Begitu terus sampai berkali-kali, puluhan, bahkan ratusan kali. Tidak berubah. Masih saja pemberitahuan pada akun chat milikmu seperti kemarin; terakhir dilihat pukul enam sore. Sudah 12 jam dan tak ada tanda-tanda kau melakukan sesuatu dengan ponselmu.

Kuhirup aroma kopi dari cangkir di tanganku, seperti yang selalu kulakukan saat resah. Aroma kopi selalu menjadi pengharum ruangan yang paling cocok untuk kepalaku yang pengap. Kopi ini terasa lebih pahit dari biasanya. Aku tidak ingat apakah tadi sudah kutambahkan gula atau belum, tidak terlalu penting, cangkir ini sudah terlalu penuh oleh gundah yang tak jua menguap.

Sebuah pesan masuk ke ponselku. Singkat.

“Aku ada”.

Kubaca berkali-kali dua kata itu, menunggu, memastikan ada pesan lain yang masuk. Setidaknya aku berharap begitu. Tapi tidak ada. Penantianku, dalam perhitungannya, cukup dibayar oleh dua kata. Tak lebih. Dua kata yang dilepaskan tidak untuk bertemu kata-kata yang lain. Dua kata yang kau biarkan merangkum kesunyiannya sendiri. Kau bahkan lebih sunyi dari ruang ujian. Dan aku satu-satunya peserta ujian yang ingin kau nyatakan tidak lulus.

***

Waktu paling baik untuk mengenang luka adalah ketika hujan. Dan langit tak henti-hentinya merisak diriku. Dari atas sana, air mata ditumpahkan ke dalam hatiku, lalu jatuh membasahi tanah kuburan yang belum kering. Mataku tak dapat melihat apapun selain sebuah nisan bertuliskan namamu.

Orang-orang mulai meninggalkan pemakaman, tangannya memeluk kesedihan masing-masing. Aku masih sibuk berperang dengan rasa heran. Mengapa mencintaimu hanya menyisakan kepedihan? Tubuhku mulai kehilangan kekuatan untuk menopang duka, jiwaku seperti dihisap entah apa. Suara tangis keluarga Pram semakin menjauh, lalu hening. Gelap.

“Mal, ini surat yang ditinggalkan Pram untuk kamu”, samar-samar kudengar sebuah suara.

Pandanganku masih buram, rasanya kepalaku baru dihantam benda keras. Berat. Tak lama, aku dapat melihat ibunya Pram memegang sebuah surat beramplop biru di samping ranjang tempatku berbaring. Rupanya tadi aku pingsan di pemakaman, keluarga Pram menggotongku ke rumah mereka. Kubuka surat itu dan membacanya.

Malka,
Aku menyesalkan rasa sakitmu, atas apa-apa yang aku,
Aku menyesalkan sesakmu, atas caraku bernafas,
Aku menyesalkan hujan di wajahku, atas apa-apa yang kau,
Aku menyesalkan apa-apa yang jatuh, atas apa-apa yang cinta,
Aku menyesalkan setiap luka, di setiap kecewa,
Aku menyesalkan aku yang tak pandai menghias maaf, dan tak cakap menjelaskan.(*)

“Pram menghindarimu karena dia tak ingin kau bersedih. Tak pernah ada cinta yang lain. Tak pernah ada, Mal. Hanya kamu”, air mataku berlarian ke dalam pelukan ibunya Pram.

***

Indri Guli
27 Mei 2014

 

(*) Puisi karya Koespramono Irsan ~ @senandungmu

Advertisements

2 thoughts on “Waktu Paling Baik untuk Mengenang Luka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s