Mengapa ke Minimarket?

Tadi pagi ada sedikit kehebohan di lingkungan tempat saya tinggal. Entah dari mana asalnya, saya mendengar suara dua orang laki-laki saling bersahutan menggunakan pelantang suara. Sepertinya mereka berjualan, karena beberapa kali saya menangkap kata “murah” dalam kalimat mereka. Lalu Mamake masuk ke kamar saya dengan penuh semangat “Kak, ayo kita ke depan, ada toko baru”. Sebetulnya saya malas, tapi karena penasaran, akhirnya saya ikut juga. Dan taraaaa! Ternyata ada pembukaan minimarket baru tak jauh dari rumah saya.

Menuju ke minimarket, saya melewati warung “Si Abang” di depan gang. Biasanya kami, hampir seluruh warga di sini, berbelanja kebutuhan sehari-hari di warung tersebut (kecuali sayuran). Sekilas saya melihat pemilik warung yang biasa kami sebut Abang sedang duduk di balik etalase, tidak ada yang sedang berbelanja padanya. Lalu saya melihat warga berbondong-bondong hilir mudik melewati warung “Si Abang” dengan menenteng kantong-kantong belanjaan berlogokan minimarket baru. Anak-anak mereka menggenggam balon berwarna hijau yang juga berlogo sama. Sungguh pemandangan yang kurang menyenangkan bagi saya, apalagi bagi Si Abang ya? Dan saya (atas paksaan Mamake) termasuk dalam gerombolan orang-orang yang terpikat minimarket baru, seperti ngalelewe Si Abang.

Bisnis ritel, dalam hal ini minimarket, sepertinya semakin menjamur beberapa tahun terakhir ini. Bukan hanya di pusat kota, minimarket juga bisa kita temukan di beberapa wilayah yang bisa dibilang pelosok desa (entah hanya di Pulau Jawa atau di pulau lainnya juga). Ini nyata. Coba saja cek. Ribuan minimarket ada di kota-kota besar seperti Jakarta, Bogor, Bandung, dan sebagainya. Saya berusaha mencari data lengkapnya, tetapi malah terjebak dengan berita-berita dunia ekonomi yang membingungkan, jadi untuk sementara ini lupakan akurasi :p.

Saya tidak akan membuat telaah ekonomi yang mendalam perihal bisnis ritel modern ini. Faktanya, banyak hal yang saling terkait membentuk pola yang rumit untuk dipahami oleh seorang yang apalah seperti saya ini :D. Saya hanya ingin menyoroti perubahan gaya hidup sebagian besar masyarakat dalam berbelanja yang konon dipengaruhi oleh daya beli masyarakat. Benarkah?

Begini logika berpikirnya; semakin tinggi daya beli masyarakat, semakin tinggi juga keinginan untuk mendapat kenyamanan dan kemudahan. Nah, dalam urusan berbelanja, ritel modern (minimarket, supermarket, dll) hadir untuk memenuhi keinginan tersebut. Eh atau sebaliknya? Gerai ritel modern yang menciptakan keinginan tersebut? Bisa jadi dua variabel tersebut saling memengaruhi dalam pola kehidupan masyarakat modern yang semakin rumit.

Lalu mengapa masyarakat lebih memilih berbelanja di gerai ritel modern (mari kita fokus dulu pada minimarket) dibandingkan warung tradisional?

Menurut pengamatan sekilas saya dan hasil perbincangan dengan beberapa kawan, konsep penataan minimarket cukup menjadi pertimbangan besar dalam perubahan gaya belanja. Produk yang tersusun rapi di rak yang mudah terlihat oleh pembeli, pencahayaan terang, termasuk fasilitas pendingin ruangan, rupanya jadi keunggulan yang tak terbantahkan dari minimarket. Begitu memasuki minimarket, pembeli akan merasakan kenyamanan dan keleluasaan dalam berbelanja karena mereka dapat melihat-lihat dengan tenang dan memilih sendiri produk yang mereka beli.

Kita bandingkan dengan warung tradisional. Kebanyakan warung berukuran sempit dengan penempatan produk yang biasanya tidak teratur. Pembeli hanya menyebutkan barang-barang yang akan dibeli, lalu pemilik warung akan memberikan barang-barang tersebut dan menghitungnya secara manual, tidak menggunakan mesin kasir seperti di minimarket. Apakah semakin modern kehidupan masyarakat, semakin tidak suka dilayani? Bukankah sebaliknya? Atau urusan belanja ini pengecualian?

Tapi mungkin bukan hanya itu yang menjadi pertimbangan mengapa akhirnya masyarakat beralih untuk berbelanja di minimarket. Konsumen yang sebagian besar ibu-ibu paling mudah digoda dengan diskon atau harga yang lebih murah. Minimarket biasanya untuk produk-produk tertentu memberikan harga yang lebih murah, meskipun hanya beberapa ratus rupiah. Bagi ibu-ibu, tidak masalah beda berapa rupiah, yang penting lebih murah. Prinsip ibu-ibu ini terkadang tidak masuk akal juga sih, mereka bisa memilih belanja ke tempat yang lebih jauh (bahkan kadang membutuhkan ongkos lebih besar) demi mendapatkan harga yang lebih murah beberapa rupiah tadi. Sungguh aneh :D.

Seringkali minimarket juga memberikan gimmick dalam penjualan berupa hadiah-hadiah yang mana pasti akan disenangi oleh (lagi-lagi) para ibu. Tadi saja saya mendapat hadiah satu buah gelas yang sebetulnya gelas biasa semacam itu sudah menumpuk di rumah. Tapi hadiah itu membuat Mamake senang bukan kepalang.

Kembali lagi ke minimarket di dekat rumah saya. Selama beberapa waktu ke depan, mereka memberikan banyak promo dan harga murah, tampaknya ini akan berdampak pada pendapatan warung “Si Abang”. Hadirnya minimarket di suatu wilayah memang tidak secara otomatis mematikan warung tradisional di sekitarnya (meskipun pasti memiliki dampak), bisa saja bukan omset warung yang menurun, tetapi anggaran belanja masyarakat yang meningkat. Semakin menjamurnya gerai ritel modern memang mendorong masyarakat menjadi lebih konsumtif.

Kehidupan selalu berkembang (jika memang ini bisa disebut perkembangan), tapi mari kita bijak dalam menentukan banyak hal dalam kehidupan kita. Meskipun minimarket menawarkan banyak keunggulan (sekalipun manipulatif :D), tetapi warung tradisional harus tetap diberi penghidupan. Setidaknya kita  membantu usaha-usaha kecil, tetangga terdekat kita dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, bukan memperkaya korporasi yang entah dimana.

Duh, saya jadi ingin membahas monopoli pasar oleh para kapitalis. Coba lihat siapa saja yang berada di belakang ritel-ritel modern, baik minimarket, supermarket, hypermarket, dll. Tapi sebaiknya tidak, karena nanti saya jadi sok tahu dan menyebalkan. Haha.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s