Perihal Rindu dan Mengunjungi Kenangan

Rindu lagi. Semoga kalian tidak bosan membacanya seperti saya yang tak bosan menuliskannya. Setiap kali saya menuliskan kata rindu di blog ini, di status facebook atau twitter, beberapa teman biasanya berkomentar “gak bosen nulis galau mulu?”. Yup, seringkali rindu, dalam tulisan saya, dikaitkan dengan kegalauan yang berarti juga penderitaan. Merindu berarti menderita. Setidaknya itu yang disimpulkan kawan-kawan saya. Mereka sepertinya selalu dapat memungut luka dalam setiap rindu yang saya ungkapkan. Benarkah?

Saya lalu melihat lagi tulisan-tulisan saya, ternyata memang demikian. Saya memperlihatkan rindu yang berwujud duka dan air mata. Mungkin karena lebih mudah menuliskan penderitaan daripada rasa gembira, bagi saya :p. Padahal, rindu punya bentuk yang lain.

Rindu dapat menyelamatkanmu dari kesepian.

Kalimat itu saya dengar dari teman ngopi beberapa waktu lalu. Beliau adalah Ibu Utami Utar, seorang ibu cantik yang baik hati. Bagaimana bisa saya berbincang tentang rindu dengan seorang ibu yang putranya sudah kuliah? Bisa dong. Rindu kan bukan hanya milik pasangan yang baru mengenal cinta-cintaan. Rindu milik siapapun yang memiliki cinta. Rindu bisa dirasakan siapapun, meski sekadar rindu pada matahari.

Ya, seharusnya rindu memang tidak dirasakan sebagai beban, melainkan ketenangan. Rindu seharusnya membuatmu lebih damai. Rindu sepatutnya disirami doa, bukan kecemasan. Rindu adalah satu-satunya teman yang Tuhan berikan saat kau sedang sendirian. Kau bisa merasakan kehadiran rindu dalam dirimu, menerima dengan sadar ia menjadi bagian dari dirimu, mengajaknya berdialog lebih intim dari siapapun di luar dirimu.

Saya tidak pernah kehilangan rindu. Rasanya setiap hari, setiap saat, saya bisa merasakan kehadiran rindu pada siapapun, pada apapun. Bahkan pada pertengkaran dengan seorang teman di bangku sekolah dasar. Saya bisa rindu pada apapun bahkan pada guru yang pernah mengeluarkan saya dari kelas ketika SMA. Saya bisa merindukan berbincang dengan kamu, dia, mereka, kalian, dan siapapun yang pernah atau tidak pernah saya temui. Begitulah rindu. Dia hanya akan datang tanpa pengumuman. Kau bahkan bisa merindukan orang yang paling mengganggumu.

Sore ini saya kembali berbincang dengan Ibu Tami perihal rindu dan mengunjungi kenangan, dua hal yang sama-sama kami gemari. Kami berdua bisa berlama-lama menenggelamkan diri dalam kenangan masing-masing dan menikmati sensasi yang hadir setelahnya. Sedih, haru, rindu, bahagia, dan berbagai rasa lain yang datang bersamaan. Tak ada yang bisa dilakukan selain menikmatinya dengan sepenuh hati. Hebatnya, itu yang -kami rasa- membuat kami tetap hidup. 🙂

Pernahkah kamu hanya bisa merasakan kehangatan jiwa yang saling menggenggam?

Saya pernah. Dan saya senang menghadirkan perasaan itu berulang kali, setiap kali saya inginkan. Perasaan yang tak bisa saya jelaskan dengan kalimat apapun. Perasaan itu hanya bisa saya hadirkan dalam ruang paling rahasia dalam hati saya. Rasanya saya perlu mengamini bagian penutup tulisan Ibu Tami dalam blognya beberapa hari yang lalu:

Jauh lebih menyenangkan buat saya menghadirkan kembali semua ingatan dan kenangan ketika seseorang meremas jemari saya di suatu malam seusai gerimis reda. Bukan hanya pada tanggal, bulan, tahun, dan jam berapa peristiwa itu terjadi, namun pada bagaimana ingatan dan kenangan saya dipermainkan oleh suasana itu.

Begitulah, cinta memang ajaib. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s