Sublimasi

Aku tak bisa mencintaimu.

Apa yang kau harapkan dari hati yang terlalu mencintai?
Cinta selalu menjadi mimpi buruk pada akhirnya. Bagaimana bisa aku duduk dengan tenang tanpa melihatmu dan percaya bahwa kita tetap menyimpan debar yang sama?
Sementara di luar sana, dunia lebih ramai dan tangan kita tak saling menggenggam.
Sungguh aku tak bisa mengatasinya. Rindu yang hadir setiap waktu, lebih deras dari hujan yang jatuh di kota kita, sayang. Gemuruhnya menggetarkan dada paling rapuh. Sementara tubuh mendamba peluk yang kerap pergi jauh.
Bagaimana bisa aku berkata “baik-baik saja” sementara suaramu tak terdengar bahkan jika seluruh dunia diam?
Cinta yang cepat sekali tumbuh besar ini tak menyisakan apapun selain cemas. Apakah cinta, jika kau jadi lebih rajin menangis dan merasa takut?

Aku tak bisa mencintaimu.

Mungkin kau bosan mendengarnya, berulang kali, pada setiap malam yang senyap menjelang lelap.
Hanya ada aku yang cemas seperti biasanya, lalu diam-diam kau coba menyelami telaga dalam hatiku. Tak kau temukan apapun. Telaga di kepalamu juga tak memberi isyarat. Sekilas ku lihat nanar yang kau sembunyikan di balik tangguhmu. Bagaimana bisa aku mencintaimu dan membuatmu lelah secara bersamaan? Aku tak akan menyerah, katamu. Maka begitu juga aku semestinya.

Aku tak bisa mencintaimu, meski hatimu adalah rumah paling nyaman.

 

Advertisements

3 thoughts on “Sublimasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s