Kelesah Ngopi Sore Ini

01
Ngopi sore bersama warga

Siang hingga sore hari ini saya habiskan dengan ngopi-ngopi kece bersama bapak-bapak di kampung dampingan untuk sebuah program Pelestarian Kawasan Penyangga Taman Nasional. Ngopi sederhana sambil berbicara tentang berbagai hal yang ada di kampung mereka, saya hanya mendengarkan dengan seksama. Lalu merasa bersalah.

Satu hal yang selalu saya catat dari program pendampingan masyarakat, bahwa benar-benar menempatkan diri menjadi warga yang kita dampingi adalah hal yang sulit untuk dilakukan, sekuat apapun kita berusaha. Beberapa kali saya melakukan program serupa di beberapa wilayah berbeda, hal itu tetap tidak mudah untuk dilakukan, setidaknya oleh saya yang tidak pandai ini. Bagaimanapun juga, kita adalah orang yang berada di luar kehidupan mereka dan tidak menjalani hidup seperti mereka. Sehingga, kita tidak pernah benar-benar memahami kondisi mereka. Kita merasa cukup paham, padahal tidak.

Sebaik apapun program yang kita tawarkan (yang katanya baik), tidak pernah benar-benar berasal dari kebutuhan masyarakat itu sendiri. Indikator baik-tidak baik atau bermanfaat-tidak bermanfaat selalu berasal dari kacamata kita dengan segala idealisme dan pengetahuan kita. Padahal, mereka punya kehidupan yang sama sekali tidak kita pahami, kita tidak benar-benar berusaha untuk memahaminya. Satu-satunya yang benar-benar kita usahakan hanyalah bagaimana caranya program yang kita bawa dapat dijalankan oleh masyarakat. Saya seringkali menjadi orang yang sok tahu dan mencoba mengarahkan masyarakat untuk melakukan “kebaikan” berdasarkan visi misi program. Dan saya membenci diri saya sendiri karena melakukannya.

Sesungguhnya, kawan, bapak-bapak ini cara berpikirnya sederhana, keinginan mereka sederhana. Mereka hanya ingin bisa menghidupi keluarganya; memberi makan, dan menyekolahkan anaknya (walaupun masih banyak dari mereka yang beranggapan tidak perlu sekolah terlalu tinggi). Lalu kita datang pada mereka, menghancurkan pemikiran yang sederhana itu, membuat mereka berpikir rumit seperti kita. Kita mengajak mereka untuk menjaga hutan-keseimbangan lingkungan-melindungi bumi yang bagi mereka tidak nyata. Permasalahan nyata bagi mereka adalah mereka tidak mudah meningkatkan ekonomi keluarga. Itu saja.

Saya selalu merasa resah dan dibuat menangis berkali-kali setiap kali melakukan program pendampingan masyarakat. Saya merasa tidak berbuat hal yang benar. Saya selalu merasa takut tidak bisa membantu masyarakat, malah sebaliknya; merepotkan dengan berbagai macam tuntutan yang dikemas seolah menjadi kebutuhan mereka. Sungguh menjijikan orang seperti saya ini. Cara saya menjalani hidup saja jauh dari ideal, tapi tanpa rasa malu saya membebankan prinsip-prinsip idealisme pada mereka. Seolah-olah dengan begitu saya sudah menebus dosa. Iya, mencuci tangan dengan air yang kotor.

Saya sering bertanya-tanya; apakah adil mencoba menyelamatkan sesuatu dengan mengorbankan beberapa orang/kelompok? Mengapa harus mereka yang melakukannya?

Kawan, bapak-bapak yang saya ajak berbincang sore ini beberapa buta huruf, mereka hanya mengandalkan kebiasaan mereka sebagai petani atau berkebun. Masalahnya, mereka tidak lagi memiliki lahan atau kebun dan mereka tidak boleh mengganggu kawasan Taman Nasional. Lalu kita, orang yang datang sebagai jagoan, menawarkan solusi yang menurut kita baik tapi tidak mereka pahami di mana letak kebaikannya. Bertahun-tahun persiapan tanpa jaminan kapan akan mendapatkan hasil, menurut mereka bukan hal yang baik untuk dilakukan. Meskipun kita katakan bahwa program yang ditawarkan bernilai ekonomi.

Mudah sekali untuk bicara, kan? Coba saja hidup seperti mereka. Cobalah sesekali berbincang dengan masyarakat di kampung-kampung yang menuju ke sana saja tidak ada angkutan. Coba bicarakan keluhan kalian tentang kemacetan, tentang gadget terbaru yang kalian idam-idamkan atau tentang rencana-rencana liburan. Sungguh menyedihkan menjadi saya, bicara tentang betapa kita perlu menjaga lingkungan dengan baik dan sukarela demi dunia yang lebih baik. Munafik. Saya saja bekerja banting tulang untuk kesenangan diri sendiri.

Terkadang saya berpikir untuk berhenti saja melakukan hal-hal seperti ini, berhenti bertindak seperti orang suci. Lebih baik saya bekerja di perusahaan ternama, punya gaji selangit, bisa hura-hura setiap waktu. Permasalahan masyarakat seperti ini tinggal saya beri bantuan uang saja yang banyak, biar mereka bisa hidup untuk hari ini. Tidak perlu pusing memikirkan keadaan sepuluh atau dua puluh tahun mendatang. Toh belum tentu kita juga masih hidup. Urusan generasi berikutnya biarlah mereka mengurusi sendiri, tak perlu kita memikirkan hal yang kita sendiri belum tahu apa yang akan terjadi. Berhentilah menjadi Tuhan. Lebih baik menjadi orang jahat yang memang jahat daripada terlihat baik padahal jahat.

Sore ini, dalam perjalanan pulang dari sana, saya tak berhenti menangis. Saya diingatkan lagi betapa saya egois dan tidak tahu diri. Saya diajarkan lagi untuk hidup sederhana, berpikir sederhana. Saya ditegur bahwa saya belum melakukan apa-apa untuk orang lain, saya belum bermanfaat untuk masyarakat padahal sebaik-baik ilmu adalah yang bermanfaat untuk orang banyak. Saya disentil untuk memeriksa lagi niat saya dalam melakukan berbagai hal dalam hidup ini; apakah tulus demi kebaikan atau sekadar berharap imbalan dan pengakuan?

Sungguh, kawan, sekali niatmu berbelok, selamanya kamu akan hilang arah. Semoga niat kita selalu baik dan menjalankannya dengan baik. Semoga kita tetap merasa tidak nyaman pada hal-hal yang berjalan tidak semestinya. Sehingga kita selalu sadar untuk memperbaikinya. Mari saling mengingatkan dan menguatkan niat baik satu sama lain.

Advertisements

4 thoughts on “Kelesah Ngopi Sore Ini

  1. Perspektif menarik. Bagaimana program idealis kadang tidak kompatibel dengan kebutuhan masyarakat dilapangan.
    Imho, tiap orang punya lapaknya. Namun apa daya, kadang ada kekurangfahaman antarlapak. tidak saling berkomunikasi dengan baik.
    Semoga program berikutnya bisa lebih disesuaikan dengan kebutuhan. Agar pengembangan masyarakat mencapai masyarakat yg berkembang.

  2. Gw suka salut deh sama semangat kakak guli ini. Background nya dari sastra tapi kemauannya buat bantuin orang secara profesional tinggi banget. Semangat yang seharusnya ditonjolin sama anak dari background sosial macam gw tapi masih suka setengah2.
    Bantuin orang emang ga gampang ya. Banyak banget detail yang harus dipikirin. Ga segampang tips2 yang diajarin dibuku. Seringnya kita harus improvisasi yang ternyata malah bisa bikin makin kacau. Sedih kalo gagal bantuin orang, tapi jangan terus takut nyoba lagi. Soalnya makin sedikit orang yang mau bantuin orang lain sekarang. It’s oke not to be perfect as long as we still want to learn kan ya?
    It may sounds lil bit selfish, tapi jangan lupa balance nya kalo udah bantuin jangan lupa sama kebutuhan diri sendiri. Jangan jadi lilin yang bikin terang tapi dirinya kebakar kalo kata orang. Gapapa ga sih punya keinginan punya gadget baru? asal tetep masuk akal sama kondisi sama kemampuan kita. Kalo terlalu serius mikirin cara nyelamatin dunia terus nanti bisa gila lho hehehe..
    Keep the spirit to help people ya kakak guli.. You are awesome! I adore ya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s