Begini Caraku Mencintai Bogor (bagian 1)

Apa yang paling menyenangkan dari mencinta? Adalah memberikan kualitas diri paling baik untuk apa yang dicintainya. Dan itu menyenangkan. Sangat. Setidaknya itu yang sedang saya rasakan dalam mencintai kota ini.

Ya, Bogor! Lahir, tumbuh, dan menghabiskan sebagian besar hidup saya di sini, menjadikan saya teramat sangat mencintai kota ini dengan sepenuh hati. Saya mencintai kota hujan ini dengan berbagai keindahan dan pesonanya, kekhasan dan kelokalannya, dinamika dan persoalan di dalamnya. Saya mencintai seluruhnya tanpa ada yang terlewatkan sedikitpun. Betapapun kemacetan di kota ini semakin menyebalkan, atau gedung-gedung yang tumbuh lebih pesat lima tahun terakhir ini semakin mengganggu pemandangan. Betapapun panasnya, betapapun rumitnya. Saya tetap mencintainya. Meski saya beberapa kali bertemu kota-kota lain, bagi saya, Bogor selalu menjadi rumah yang paling saya rindukan untuk pulang.

Setelah cinta, lalu apa?

Selalu ada pengorbanan dalam mencinta. Tapi percayalah, jika kamu melakukannya karena cinta, pengorbanan adalah sesuatu yang akan kamu lakukan dengan sukarela dan bahagia. Cinta membuatmu hanya berpikir untuk memberi yang terbaik tanpa berharap menerima apapun. Begitulah mencintai. Begitulah seharusnya kamu mencintai kotamu.
Cinta itu tak perlu banyak bicara, tak perlu mengumbar janji manis, terutama jika tak mungkin kamu tepati. Cukup lakukan saja apa yang paling bisa kamu lakukan, dan lakukan dengan sepenuh hati. Sejatinya yang keluar dari hati akan terasa sampai ke hati lagi. Coba saja. 🙂

Tak perlu memaksa memindahkan gunung, tak perlu berkhayal memetik bintang. Mencintai hanya perlu sikap yang sederhana namun sadar betul terhadap apa yang dilakukannya. Saya sedang berusaha mencintai kota ini dengan cara yang benar, cara paling masuk akal dan tidak memaksa. Saya berusaha mencintai tanpa simbol-simbol, tanpa label.

Saya berusaha menyapa, minimal tersenyum, pada setiap tetangga yang saya temui ketika pergi dan pulang bekerja. Saya berusaha, meskipun kadang saya enggan melakukannya karena suasana hati yang sedang tidak baik. Saya juga berusaha untuk selalu berbelanja di warung dekat rumah, bukan di supermarket. Memang sesekali saya belanja di supermarket untuk kebutuhan tertentu, mungkin satu kali dalam tiga-empat bulan. Saya menggunakan kendaraan umum, mengurangi sampah, berusaha mengonsumsi makanan lokal. Saya menyebrang jalan raya di tempat yang seharusnya, sekalipun tidak ada orang lain yang melakukannya.

Itu semua sedang saya coba lakukan setiap hari. Meskipun sulit, meskipun perlu usaha yang keras. Tapi saya tetap berusaha melakukannya. Saya berusaha melakukannya dengan tulus. Mengapa? Karena saya mencintai kota ini. Cukuplah banyak orang yang menyakiti kota ini dengan segala kesemrawutan yang diciptakan, saya tidak perlu lagi menambah beban yang harus ditanggungnya. Saya harus meringankan penderitaan kota ini jika saya ingin tetap melihatnya tersenyum dan berbahagia. Karena jika kota ini baik-baik saja, maka saya pun akan selalu berbahagia. Saya akan selalu bisa tersenyum berjalan di trotoar yang aman, bermain di taman yang rapi, berbelanja di pasar tradisional yang nyaman. Saya akan merasa tenang untuk terus berada di dalamnya tanpa berpikir sedikitpun untuk menjauh, apalagi pergi meninggalkannya.

Memang cinta paling mudah untuk dibicarakan, tetapi selalu saja ada tantangan dalam melakukannya. Tapi itulah yang akan menguji seberapa besar cintamu. Cinta itu tidak pernah mengeluh, apalagi menuntut, kan? Kota ini akan mencintaimu lebih besar lagi dari apa yang kamu berikan. Maka jangan pernah letih untuk mencintainya sepanjang usia. Mencintai kota kesayangan. 🙂

Advertisements

3 thoughts on “Begini Caraku Mencintai Bogor (bagian 1)

  1. kalo belanja bawa tas belanjaan sendiri
    pengennya bikin kompos dr sampah organik, tp karena masi blm ada waktu (males sih) yaa seengganya dipisah gitu buang sampahnya yg kering dan yang basah
    disitu bumi dipijak disitu langit dijunjung. yeay

  2. Bogor krisi air tanah karena banyaknya peralihan fungsi lahan. Sawah-sawah berubah jadi perumahan,ruko dan mall.
    Salah satunya kita bisa bikin biopori. Join yuk,saya dan teman-teman rencananya mau buat workshop pembuatan biopori. Colek di @paisuchen ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s