Sekelumit Tentang Capung

Siang ini menemukan capung jarum masuk ke dalam rumah. Ini adalah satu hal yang juga patut disyukuri. Kenapa?

capung

Capung adalah bio indikator dari lingkungan dan air yang bersih. Jika di sekitarmu masih ada capung, tandanya masih ada air bersih yang bisa dijadikan tempat hidup atau berkembang biak oleh capung. Itu tandanya lingkunganmu masih sehat dan layak. Telur capung yang menetas di air bersih kemudian memakan jentik-jentik nyamuk sehingga bisa mengurangi populasi nyamuk. Ini bisa membantu kita terhindar dari penyakit yang disebabkan oleh nyamuk.

Capung juga punya peran penting dalam pertanian. Tapi sayang populasi capung (dan berbagai serangga lain) semakin berkurang akibat penggunaan pestisida, padahal capung ini predator alami yang memangsa hama pengganggu tanaman padi.

Katanya capung ini serangga purba, dia sudah ada waktu zaman dinosaurus dan bertahan karena kemampuan adaptasi yang baik. Hebat ya? Di Indonesia sendiri ada 750 jenis capung (entah sekarang tinggal berapa jenis yang masih ada). Paling banyak ditemui adalah jenis capung jarum atau Agriocnemis femina (masih penasaran kenapa nama spesiesnya femina, ada hubungannya sama sifat keperempuanan gak ya?). Di Jepang, capung dipandang sebagai lambang keberanian sehingga orang Jepang menamai anak laki-lakinya ‘Tombo’ yang artinya capung.

Kehidupan yang semakin modern ini memang lucu, manusia seolah-olah hebat menciptakan berbagai hal untuk membantu kehidupan kita yang padahal semuanya sudah disediakan secara alami di alam. Kita hanya perlu membiarkannya tetap ada dan hidup sebagaimana mestinya. Konsep organis seperti ini baru saya pelajari akhir-akhir ini, bahwa kehidupan harus berjalan se-alami mungkin tanpa rekayasa. Alam memiliki kemampuan sendiri untuk mendaur hidupnya, tak perlu dipaksakan untuk memenuhi keinginan kita (yang cenderung eksploitatif). Sungguh ekosistem yang kaya adalah yang memiliki keberagaman makhluk hidup yang ada di dalamnya, dengan begitu semuanya bisa menjalankan fungsi dengan baik tanpa perlu energi besar untuk melakukannya. Menjaga keberadaan capung ini salah satu contohnya.

Waktu kecil saya (mungkin juga kamu) masih suka main di sawah dan menangkap capung terus ditempel ke pusar biar gak ngompol. Hihihi.

Advertisements

3 thoughts on “Sekelumit Tentang Capung

  1. “Paling banyak ditemui adalah jenis capung jarum atau Agriocnemis femina (masih penasaran kenapa nama spesiesnya femina, ada hubungannya sama sifat keperempuanan gak ya?)”

    di Indonesia namanya Capungjarum Centil lho Gul,.. diambil dari nama spesiesnya, femina yang artinya feminim,.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s