Mari Belajar, Mari Bermain

Beberapa hari ini media sosial diramaikan oleh perkara perkalian dalam pelajaran matematika kelas 2 SD. Rasanya semua orang membahas apakah 6×4 sama dengan 4×6, mulai dari penjelasan keilmuan, nalar, sampai lelucon. Saya tidak akan membahas itu karena tidak cukup hanya menarik satu garis lurus untuk memandangnya. Pada akhirnya ini akan melibatkan sudut pandang yang lain, ilmu yang berbeda, wawasan yang beragam. Seperti yang disampaikan oleh Prof. Iwan Pranoto melalui akun twitternya bahwa dibutuhkan pembenahan sikap, budaya, dan cara berpikir dari Guru Matematika (juga semua orang menurut saya). Menurut beliau, akar perdebatan Matematika ini bisa jadi adalah kebiasaan untuk hanya menerima pengertian tunggal yang ditetapkan oleh penguasa.

Satu yang menjadi perhatian saya dari kasus tersebut adalah betapa anak kelas 2 SD dibebani cara berpikir yang rumit tentang perkalian. Mungkin memang ada ilmunya, tapi saya tidak bisa membayangkan bagaimana caranya menjelaskan pada anak kelas 2 SD bahwa 4×6 memang berbeda dengan 6×4 yang mana orang dewasa pun belum tentu mudah memahaminya. Sepertinya kegiatan belajar saya waktu SD tidak serumit itu, entah saya tidak ingat atau memang saat itu kesulitan matematika untuk kelas 2 SD masih seputar salah menghitung.

Tapi rasanya dulu matematika memang mudah. Saya ingat selalu mendapat nilai 10 untuk latihan di sekolah maupun PR matematika. Saya ingat pertama kali saya menemukan kesulitan dalam mengerjakan soal matematika adalah kelas 3 SD. Saya lupa bagaimana bentuk soalnya, tapi saat itu pertama kalinya saya mendapat nilai 7. Kenapa saya ingat? Karena saat itu saya pulang ke rumah sambil menangis karena tidak terima mendapat nilai 7 padahal biasanya 10. Hahaha. Lalu saya ditenangkan oleh Ayah saya yang berkata bahwa nilai 7 juga tidak apa-apa. Ayah juga bilang bahwa kamu tidak harus selalu mendapat nilai bagus, tidak harus selalu mendapat ranking, bahwa sekolah bukan untuk mengejar semua itu. Sekolah adalah tempat kamu bermain, mencari teman, belajar mengenali dan bersosialisasi. (Tapi saya mendapat nilai 9 koma sekian pada Nilai Ebtanas Murni -NEM- SD lho. Tanpa mencontek, tanpa kecurangan. Pamer! :D)

Tapi mungkin tidak semua orang tua berpandangan seperti ayah saya. Saya pernah bertemu dengan beberapa orang tua yang memaksa anaknya belajar, memaksa anaknya untuk mampu mengerjakan dan memahami semua pelajaran sekolah (yang bobotnya semakin tidak masuk akal itu), memaksa anaknya untuk mendapatkan peringkat yang baik di kelas, sehingga sang anak tidak merasakan kegiatan sekolah/belajar sebagai kegiatan yang menyenangkan; sesuatu yang ia lakukan karena ia senang untuk melakukannya. Saya suka belajar karena saya memang suka. Tapi saya tidak pernah belajar menjelang ujian. Biasanya saya justru melakukan kegiatan menyenangkan pada masa ujian sehingga pikiran saya segar untuk mengingat apa yang pernah saya pelajari. Pun pada saat ujian ternyata saya tidak mampu mengerjakan ujian dengan sempurna, tidak masalah.

Memang tidak semua orang tua obsesif pada nilai sekolah anaknya. Saya juga pernah bertemu beberapa orang tua yang lebih santai terhadap nilai sekolah, tapi mendukung dan memfasilitasi minat dan bakat anaknya. Memang seharusnya demikian karena (menurut saya) tidak ada gunanya memaksa anak melakukan sesatu yang tidak ia senangi. Anak-anak memang harus belajar, tapi dengan cara yang menyenangkan, bukan dengan paksaan. Saya tidak pernah punya kenangan buruk dalam proses belajar karena ayah saya selalu dengan sabar menemani saya belajar dengan cara yang menyenangkan sejak saya kecil. Bahkan saya masih ingat bagaimana saya bisa menghafal kelima sila dalam Pancasila, saya masih ingat bagaimana ayah saya mengajarkannya padahal saya masih TK pada saat itu.

Apa yang ingin saya katakan adalah meskipun sistem sekolah di negara kita semakin kacau, toh kita tetap memercayakan pendidikan anak kita pada sistem tersebut karena berbagai alasan. Intinya, peran orang tua menjadi sangat penting dalam mendampingi proses belajar anak dan menanamkan nilai-nilai yang jauh lebih penting dibandingkan sekadar nilai dalam rapor. Orang tua harus “hadir” dalam setiap pandangan dan pengetahuan baru si anak yang dia dapatkan dari dunia luar. Saya merasakannya sendiri betapa hal itu sangat penting. Saya memang belum punya anak, belum bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi orang tua yang mendampingi anaknya belajar, tapi saya pernah (dan masih) menjadi anak yang didampingi orang tua dalam belajar dan memahami banyak hal.

Belajar bukan menjadi satu kegiatan terpisah yang secara sakral harus dilakukan dengan ritual khusus. Belajar se-sederhana bermain, bermain se-berbobot belajar. Tergantung bagaimana kita melakukannya. Jadi, mari bermain. 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Mari Belajar, Mari Bermain

  1. Kelas 2 SD zamanku belum belajar perkalian gul. Kelas 3 deh kayaknya baru belajar perkalian dan ga pernah bahas perbedaan antara 4×6 atau 6×4. yang penting hasil dari perkalian itu benar. well, semakin kesini kualitas nalar manusia meningkat, tapi ga dibarengi dengan infrastruktur dan hal lain yang berkaitan dengan pendidikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s