Sebuah Tas Idaman

Saya ingin bercerita tentang sebuah tas. Tas yang sangat saya inginkan 3 tahun terakhir ini. Silakan membaca dengan tenang dan hati yang tetap riang. 🙂

Pada suatu hari di tahun 2011, saya bertemu dengan sebuah tas di sebuah toko. Tas ini cukup besar, tidak terlalu besar, tapi cukup untuk membawa persediaan pakaian dalam perjalanan berhari-hari. Cocok, pikir saya saat itu. Sejak hari itu saya sangat menginginkannya; tas hitam dengan tulisan besar memenuhi badannya.

Harga tas itu tidak terlalu mahal. Sesuai lah dengan merknya. Tapi entah kenapa saya tak kunjung membelinya. Selalu saja ada halangan setiap kali akan membelinya. Berkali-kali saya mengunjungi tas itu, di toko yang sama maupun di toko berbeda, tapi tetap tak membuat saya lantas membelinya. Rasanya saya ragu, tidak yakin, seperti ada sesuatu dalam diri saya yang melarang saya untuk membeli tas itu. Sesuatu yang saya sendiri tak bisa menjelaskannya.

Setiap kali saya melewati toko yang menjual tas itu, saya selalu menyempatkan untuk menengoknya; sekadar melihat bahwa tas itu masih ada di sana, meski tak yakin juga kapan akan membelinya. Ini hanya butuh momen, pikir saya suatu hari. Kelak pasti saya akan membelinya pada momen yang tepat, entah terpaksa atau butuh, atau alasan lainnya. Tapi pasti saya akan membelinya.

Dan datanglah momen itu. Perjalanan pekan ini mengharuskan saya membeli sebuah tas yang dapat memuat seluruh keperluan saya di luar kota. Akhirnya! Saya mantap menuju toko dimana tas idaman saya berada. Kali ini saya akan membelinya. Saya ambil tas itu dari rak display lalu saya mematut diri di depan cermin. Tentu tak lupa juga memeriksa detailnya. Rasanya tak ada masalah. Hanya tinggal membayar.

Tapi tiba-tiba mata saya tak sengaja menangkap sosok tas lain. Tas sederhana berwarna hitam dengan logo yang tidak terlalu besar di bagian depannya. Tas ini biasa saja, tidak mencolok, tidak berusaha mencari perhatian. Seketika saya merasa sepertinya tas ini lebih pas untuk saya, lebih menyatu tanpa perlu dipaksakan.

Saya kembalikan tas idaman saya ke rak tempatnya semula. Lalu saya membayar tas yang baru saya lihat kali itu. Iya, begitu saja. Tanpa pertimbangan macam-macam, tanpa berpikir, tanpa ragu. Saya membawa pulang sebuah tas yang tak pernah saya pikirkan sebelumnya. Tidak terlalu excited, tapi tanpa beban, tanpa rasa menyesal. Saya cukup senang dengan tas ini karena memang benar ternyata lebih cocok dan lebih sesuai dengan kebutuhan saya.

Mungkin memang benar; tidak semua yang kita idamkan bisa kita dapatkan. Bukan tidak bisa, tapi kita sendiri yang akhirnya berpikir untuk tidak memilihnya. Kita sendiri yang akhirnya menyadari pilihan mana yang paling bijak untuk kita ambil dan pilihan mana yang terlalu memaksakan. Mungkin begitu juga dengan jodoh. Begitu kan? Begitu kaaaan? 😀

Advertisements

One thought on “Sebuah Tas Idaman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s